Wabah Hantavirus Tewaskan Tiga Orang di Kapal Pesiar, Ancaman Pandemi Baru?
Wabah hantavirus di kapal pesiar tewaskan 3 orang, penumpang terjebak dan 6 diduga terinfeksi di Samudra Atlantik.
Penulis:
willy Widianto
Editor:
Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
- Wabah hantavirus di kapal pesiar di Samudra Atlantik menewaskan tiga orang dan membuat penumpang terjebak.
- Enam orang diduga terinfeksi, satu dalam kondisi kritis.
- WHO masih menyelidiki sumber penularan dan mengoordinasikan evakuasi serta penanganan medis
TRIBUNNEWS.COM - Seorang penumpang kapal pesiar asal Amerika Serikat dilaporkan menangis tersedu-sedu setelah terjebak di kapal yang menjadi lokasi wabah hantavirus mematikan di Samudra Atlantik.
Menurut laporan World Health Organization, setidaknya tiga orang meninggal dunia akibat infeksi virus pernapasan berbahaya tersebut.
Selain itu, enam orang lainnya diduga terinfeksi, dengan satu kasus telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.
Satu pasien dilaporkan dalam kondisi kritis dan tengah menjalani perawatan intensif di Afrika Selatan.
WHO menyatakan investigasi masih berlangsung untuk memastikan sumber penularan serta memperdalam analisis epidemiologi.
“Investigasi terperinci sedang berlangsung, termasuk pengujian laboratorium lebih lanjut dan pengurutan virus,” demikian pernyataan WHO.
Baca juga: WHO Kritisi Larangan Berlabuh bagi Kapal Pesiar Klaster Hantavirus
Organisasi tersebut juga tengah memfasilitasi koordinasi antara negara-negara anggota dan operator kapal pesiar untuk mengevakuasi dua penumpang yang menunjukkan gejala, sekaligus melakukan penilaian risiko kesehatan bagi seluruh penumpang dan awak kapal yang masih berada di atas kapal.
Meski demikian, identitas kapal pesiar tersebut belum diungkap ke publik.
Hantavirus sendiri merupakan kelompok virus yang umumnya menyebar melalui paparan urin, air liur, atau kotoran hewan pengerat seperti tikus.
Infeksi ini tergolong langka, namun dapat berkembang menjadi penyakit serius yang dikenal sebagai sindrom paru hantavirus.
Gejala awal biasanya berupa demam, kelelahan, dan nyeri otot, yang kemudian dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan berat seperti sesak napas dan penumpukan cairan di paru-paru.
Dalam kasus tertentu, lebih dari sepertiga pasien dengan gejala pernapasan dapat meninggal dunia.
Hingga kini, otoritas kesehatan internasional terus memantau situasi di kapal tersebut, sementara penumpang lainnya masih berada dalam pengawasan ketat guna mencegah penyebaran lebih lanjut.
Baca tanpa iklan