Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Eks Pengacara Trump Blak-blakan soal Kesehatan Mental Sang Presiden AS

Di tengah perang melawan Iran yang kembali memanas, Mantan Pengacara Donald Trump bersuara.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Hasanudin Aco
zoom-in Eks Pengacara Trump Blak-blakan soal Kesehatan Mental Sang Presiden AS
Facebook The White House
MENTAL TRUMP - Gambar diambil dari Facebook The White House pada Jumat (4/7/2025), memperlihatkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam kunjungannya ke Iowa pada Kamis (3/7/2025). Kesehatan mental Trump dibeberkan eks pengacaranya. 
Ringkasan Berita:
  • Mantan pengacara Donald Trump, Ty Cobb, menilai kondisi mental Donald Trump menurun dan menyarankan ia mundur dari jabatnya sebagai Presiden AS.
  • Ia menyebut adanya tanda gangguan fungsi otak dan perilaku yang makin tak terkendali.
  • Wacana penggunaan Amandemen ke-25 Konstitusi AS kembali mencuat di kalangan politik AS.
  • Namun, pihak Gedung Putih membantah dan menegaskan kondisi Trump tetap prima.

TRIBUNNEWS.COM, AS - Di tengah perang melawan Iran yang kembali memanas, Mantan Pengacara Donald Trump bersuara.

Dia mengatakan Presiden Amerika Serikat (AS) itu harus mundur dari jabatannya.

Alasannya terjadi penurunan serius kondisi kesehatan mental Donald Trump

Pernyataan tersebut  menambah daftar tokoh di AS yang ingin Trump mundur dari jabatannya menggunakan  Konstitusi AS  yakni Amandemen ke-25.

Ty Cobb, yang bekerja di tim hukum Trump dari Juli 2017 hingga Mei 2018, mengatakan saat pertama kali menjabat presiden AS, Trump kerap diperingatkan oleh para pembantunya mengenai kebijakan ekstrem atau saat mengambil keputusan yang tidak bijaksana atau ilegal.

Dan tampaknya saat itu masih berhasil.

Tetapi pada masa jabatan keduanya yan dimulai 2024 lalu, kata Cobb, Trump telah mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang terlalu takut untuk menantangnya sama sekali.

Rekomendasi Untuk Anda

Sehingga saran dari pembantu terdekatnya saat ini tidak mempan lagi untuk memperingatkan sang presiden.

 

Menurut The Mirror , Cobb juga percaya bahwa Trump menunjukkan tanda-tanda "penurunan fungsi lobus frontal" dan "kemungkinan demensia."

Ia berpendapat bahwa narsisisme Trump yang sudah lama ada telah memburuk akhir-akhir ini.

 “Narsisisme selalu menjadi masalah baginya, tetapi tanpa kendali impuls yang diberikan oleh lobus frontal, hal itu telah lepas kendali dengan dahsyat. Itulah sebabnya kita melihat balas dendam, korupsi, delusi kebesaran, dan [dugaan] penyalahgunaan kekuasaan,” katanya.

Ia selanjutnya memperingatkan bahwa Trump berperilaku seperti seorang "diktator" virtual yang merusak demokrasi AS.

"Tidak pernah ada presiden yang mengumumkan kejahatan perang yang akan dilakukannya pada pukul 4 pagi atau menari di atas kuburan para pejabat publik yang berprestasi seperti Mueller," tambah Cobb. 

Merujuk pada luapan emosi Trump di media sosial larut malam, ia berkata, "kita diperintah oleh orang gila saat ini, tidak ada cara lain untuk mengatakannya."

Apa itu Amandemen ke-25?

Amandemen ke-25 dirancang oleh Kongres AS setelah pembunuhan Presiden John F. Kennedy pada tahun 1963 dan diratifikasi oleh 38 negara bagian pada tahun 1967.

Amandemen ini diberlakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi keadaan darurat medis dan ketidakmampuan Presiden AS menjalankan tugasnya secara normal.

Bagian pertama dari amandemen tersebut menyatakan, "Dalam hal Presiden diberhentikan dari jabatannya atau meninggal dunia atau mengundurkan diri, Wakil Presiden akan menjadi Presiden."

Pasal empat menyatakan bahwa wakil presiden dapat menjadi presiden apabila ia, bersama dengan mayoritas anggota Kabinet, menganggap presiden "tidak mampu menjalankan wewenang dan tugas jabatannya."

KESEHATAN DONALD TRUMP - Presiden AS Donald Trump melakukan konferensi singkat di Air Force One sebelum kembali ke AS dari pertemuan WEF di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026) (kiri) dan tangan Trump yang terlihat memar (kanan).
KESEHATAN DONALD TRUMP - Presiden AS Donald Trump melakukan konferensi singkat di Air Force One sebelum kembali ke AS dari pertemuan WEF di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026) (kiri) dan tangan Trump yang terlihat memar (kanan). (Tangkap layar YouTube The White House dan CNN-News18)

Kapan dan mengapa amandemen ke-25 diberlakukan?

Trump, dan pendahulunya, Presiden Joe Biden, kerap dihadapkan pada wacana Amandemen ke-25 karena kekhawatiran pada kebugaran fisik dan mental mereka untuk menjabat sebagai presiden  AS karena sudah lanjut usia.

Trump beberapa hari lagi akan berusia 80 tahun.

Biden berusia 82 tahun ketika ia meninggalkan jabatannya sebagai Presiden AS pada tahun 2025. 

Partai Demokrat telah beberapa kali menyerukan agar pasal empat dari Amandemen ke-25 diberlakukan sejak masa jabatan pertama Trump di Gedung Putih, termasuk setelah kerusuhan di Gedung Capitol AS pada 6 Januari 2021. 

Pada bulan Agustus, Perwakilan Maxine Waters menyerukan penerapan Amandemen ke-25 terhadap Trump setelah ia mencopot Lisa Cook dari dewan Federal Reserve, dengan mengatakan bahwa Trump berpotensi mengacaukan perekonomian AS.

Dukungan Kongres AS

Dukungan untuk menggunakan amandemen tersebut semakin meningkat.

Bulan lalu, Jamie Raskin, politisi Demokrat terkemuka di Komite Kehakiman DPR, mengusulkan pembentukan komisi untuk bekerja sama dengan Wakil Presiden JD Vance untuk menyingkirkan Trump dari jabatannya. 

"Kepercayaan publik terhadap kemampuan Donald Trump untuk memenuhi tugas jabatannya telah jatuh ke titik terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya karena ia mengancam akan menghancurkan seluruh peradaban, melepaskan kekacauan di Timur Tengah sambil melanggar wewenang perang Kongres, secara agresif menghina Paus Gereja Katolik dan mengirimkan gambar-gambar artistik daring yang menyamakan dirinya dengan Yesus Kristus," kata Raskin dalam sebuah pernyataan .

“Kita berada di ambang jurang yang berbahaya, dan sekarang ini menjadi masalah keamanan nasional bagi Kongres untuk memenuhi tanggung jawabnya berdasarkan Amandemen ke-25 untuk melindungi rakyat Amerika dari situasi yang semakin bergejolak dan tidak stabil,” tambahnya.

MIRIP YESUS - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali bikin kontroversi. Dia mengunggah foto yang menggambarkan dirinya mirip Yesus Kristus di Truth Sosial, media sosial yang dia dirikan, lalu dia menghapus sendiri setelah mendapat kecaman luas.
MIRIP YESUS - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali bikin kontroversi. Dia mengunggah foto yang menggambarkan dirinya mirip Yesus Kristus di Truth Sosial, media sosial yang dia dirikan, lalu dia menghapus sendiri setelah mendapat kecaman luas. (Tribunnews.com/dok. bbc/truth social)

Selain itu, pada awal April, mantan anggota Kongres MAGA Marjorie Taylor Greene, yang merupakan salah satu sekutu Trump yang paling terkemuka, juga mengkritik Presiden dengan tajam, menulis di X, “AMANDEMEN KE-25!!! Tidak ada satu pun bom yang dijatuhkan di Amerika. Kita tidak bisa membunuh seluruh peradaban. Ini adalah kejahatan dan kegilaan.”

Greene juga menuduh Trump mengkhianati para pemilih yang telah membawanya kembali ke Gedung Putih, menulis, "Itu selalu bohong dan selalu Amerika yang terakhir. Tapi kali ini terasa seperti pengkhianatan terburuk karena datang dari orang dan pemerintahan yang kita semua yakini berbeda dan mengatakan tidak lagi."

Bagaimana tanggapan Gedung Putih?

Menurut The Mirror, sebuah laporan New York Times tahun 2024 mengatakan bahwa pidato-pidato publik Trump menjadi "lebih gelap, lebih kasar, lebih panjang, lebih marah, kurang fokus, lebih banyak kata-kata kotor, dan semakin terpaku pada masa lalu."

Gedung Putih kerap membantah anggapan Trump kurang sehat.

Juru bicara David Ingle membela Presiden, memuji "ketajaman, energi yang tak tertandingi, dan aksesibilitas historisnya," menurut The Mirror.

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas