Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

China ‘Ngeyel’! Tetap Impor Minyak Dari Iran Meski Disanksi AS

China ngeyel! Tetap impor minyak Iran meski disanksi AS. Energi murah jadi alasan, tapi dampaknya pasar global goyah, harga minyak fluktuatif.

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan

Ringkasan Berita:
  • China menolak sanksi Amerika Serikat putuskan tetap impor minyak Iran, bahkan pakai undang-undang anti-sanksi untuk lindungi perusahaan dalam negeri.
  • Alasan utama: kebutuhan energi besar dan harga minyak Iran yang lebih murah, penting untuk menjaga industri dan stabilitas ekonomi China.
  • Dampak global: perusahaan dunia terjebak antara hukum AS dan China, memicu ketidakpastian pasar, gangguan rantai pasok, dan potensi lonjakan harga energi dunia.

TRIBUNNEWS.COM - China secara tegas menolak mematuhi sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap perusahaan-perusahaan yang membeli minyak dari Iran. Sikap ini menandai perlawanan terbuka Beijing terhadap tekanan ekonomi Washington.

Dalam pernyataan resminya, pemerintah China memerintahkan perusahaan-perusahaan dalam negeri untuk tetap melanjutkan transaksi minyak Iran.

Kebijakan ini diambil di tengah upaya AS yang berusaha menekan pemasukan Iran dari sektor energi melalui sanksi ketat dan pembatasan jalur perdagangan.

Sebagai bagian dari langkah tersebut, Departemen Keuangan AS juga memperingatkan lembaga keuangan global agar tidak terlibat dalam transaksi dengan kilang minyak independen China, yang dikenal sebagai “kilang teko”.

Pihak AS menilai keterlibatan dengan perusahaan-perusahaan tersebut berisiko memicu sanksi lanjutan terkait perdagangan minyak Iran.

Namun, tekanan tersebut tidak membuat China mundur. Untuk pertama kalinya, Beijing secara aktif menggunakan undang-undang anti-sanksi yang dirancang untuk melindungi kepentingan nasional dan perusahaan domestik dari tekanan asing.

Rekomendasi Untuk Anda

Melalui aturan ini, perusahaan China justru dapat dikenai sanksi di dalam negeri jika mematuhi kebijakan luar negeri yang dianggap merugikan negara.

Salah satu perusahaan yang menjadi sorotan adalah Hengli Petrochemical. Perusahaan ini masuk dalam daftar hitam AS karena diduga membeli minyak Iran.

Namun, pihak Hengli membantah tuduhan tersebut dan menegaskan tidak melakukan pelanggaran terhadap aturan internasional.

Langkah China ini memperlihatkan strategi tegas dalam menghadapi apa yang mereka sebut sebagai “yurisdiksi jarak jauh” oleh AS, yaitu penerapan hukum domestik Amerika terhadap perusahaan di luar wilayahnya.

Alasan China Tetap Beli Minyak Iran

Mengutip dari Reuters, keputusan China untuk tetap membeli minyak dari Iran meski ada sanksi dari Amerika Serikat tidak terjadi tanpa alasan.

Langkah itu didorong oleh kebutuhan energi yang sangat besar serta kepentingan menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri.

Baca juga: Parlemen Iran: Situasi di Selat Hormuz Tak Tertahankan bagi AS, Sementara Kami Bahkan Belum Mulai

China saat ini merupakan salah satu konsumen energi terbesar di dunia. Untuk memenuhi kebutuhan industrinya, negara ini membutuhkan pasokan minyak dalam jumlah besar dan berkelanjutan.

Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak stabil, minyak Iran menjadi pilihan karena harganya relatif lebih murah dibandingkan pasokan dari negara lain.

Sebagian besar pembelian minyak tersebut dilakukan melalui kilang-kilang independen di China, yang sering disebut sebagai “kilang teko”.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas