Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Jika Rusia Setuju, Ukraina Siap Memperpanjang Gencatan Senjata

Ukraina menawarkan gencatan senjata tanpa batas waktu jika Rusia menyetujui. Rusia meminta gencatan senjata sementara pada Hari Kemenangan.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Nuryanti
zoom-in Jika Rusia Setuju, Ukraina Siap Memperpanjang Gencatan Senjata
Website Presiden Ukraina
ZELENSKYY BERPIDATO - Foto diunduh dari laman Presiden Ukraina, Jumat (19/12/2025). Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berbicara dalam KTT Eropa di Brussels, Belgia pada Kamis (18/12/2025), yang membahas upaya Eropa untuk mendanai Ukraina dengan menggunakan aset Rusia yang disita. - Ukraina menawarkan gencatan senjata tanpa batas waktu jika Rusia menyetujui. Sebelumnya, Rusia mengumumkan gencatan senjata sementara untuk memperingati Hari Kemenangan pada 9 Mei 2026. 

Percakapan ini menjadi kontak pertama antara Lavrov dan Rubio dalam lebih dari enam bulan. Pembicaraan itu terjadi kurang dari sepekan setelah Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan komunikasi dengan Presiden AS Donald Trump.

Menurut Kremlin, percakapan antara kedua pemimpin negara itu mencakup pembahasan mengenai gencatan senjata dalam konflik Iran, potensi meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, serta perkembangan perang di Ukraina.

Kontak tersebut merupakan bagian dari upaya diplomatik yang lebih luas sejak Trump kembali menjabat tahun lalu, setelah hubungan Rusia-AS sempat membeku selama pemerintahan Joe Biden. Selain itu, Trump juga terus mendorong inisiatif diplomatik guna mencari penyelesaian konflik Ukraina.

Meski demikian, tiga putaran perundingan langsung antara Moskow dan Kiev yang dimediasi Washington belum menghasilkan kemajuan berarti. Proses negosiasi pun disebut melambat di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap konflik yang melibatkan AS dan Israel dengan Iran.

Drone Asal Ukraina Diduga Lintasi Wilayah Finlandia

Pada hari Selasa, penjaga perbatasan Finlandia mengatakan dua drone yang diduga melanggar wilayah udara Finlandia pada akhir pekan kemungkinan berasal dari Ukraina, yang sedang berperang dengan Rusia.

Drone-drone tersebut memasuki wilayah udara Finlandia dari selatan dan terbang ke arah timur laut menuju wilayah Rusia, tetapi di mana mereka berakhir tidak diketahui, kata penjaga perbatasan.

Dugaan pelanggaran wilayah udara terjadi di Teluk Finlandia bagian timur, dekat perbatasan Finlandia sepanjang 1.340 km (830 mil) dengan Rusia.

Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina

Rekomendasi Untuk Anda

Perang antara Rusia dan Ukraina pecah pada 24 Februari 2022 ketika Moskow melancarkan invasi militer besar-besaran. Akar konflik sebenarnya sudah muncul sejak runtuhnya Uni Soviet, yang membuat Ukraina menjadi negara merdeka dengan kebijakan politiknya sendiri.

Seiring waktu, Ukraina semakin mendekat ke negara-negara Barat dengan memperkuat hubungan bersama Uni Eropa dan Amerika Serikat. Langkah ini dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruhnya di kawasan Eropa Timur.

Ketegangan semakin meningkat pada 2014 saat Revolusi Maidan menggulingkan presiden Ukraina yang dianggap pro-Rusia. Pada tahun yang sama, Rusia mencaplok Krimea, sementara konflik bersenjata pecah di wilayah Donbas antara militer Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Moskow. Sejak saat itu, kawasan tersebut terus diliputi ketidakstabilan.

Berbagai upaya damai sempat ditempuh melalui jalur diplomasi, termasuk mediasi dari Prancis, namun belum mampu menghasilkan kesepakatan yang bertahan lama.

Situasi memuncak ketika Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi militer pada Februari 2022 dengan alasan melindungi warga berbahasa Rusia dan membendung ekspansi NATO.

Sebagai tanggapan, negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi besar terhadap Rusia serta memberikan bantuan militer dan finansial kepada Ukraina. Hingga kini, konflik masih berlangsung tanpa tanda-tanda akan segera berakhir.

Di tengah kondisi yang rumit, upaya diplomasi terus dilakukan. Amerika Serikat berusaha mengambil peran sebagai mediator, meski dihadapkan pada dinamika ketegangan di kawasan lain, termasuk Timur Tengah. Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terus mendorong perundingan damai, termasuk membuka peluang peran Turki sebagai fasilitator.

Namun, Kremlin menegaskan bahwa pertemuan langsung antara Putin dan Zelenskyy hanya bisa dilakukan jika sudah ada kesepakatan awal. Hingga saat ini, jalan menuju perdamaian masih penuh tantangan dan belum menunjukkan titik terang.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas