DPR AS Desak Marco Rubio Akui Nuklir Israel, Minta Akhiri Standar Ganda ke Iran
DPR AS meminta Marco Rubio untuk mengakui Israel punya senjata nuklir dan mengakhiri standar ganda yang dilakukan terhadap Iran.
Penulis:
Whiesa Daniswara
Editor:
Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
- Anggota DPR Amerika Serikat (AS) mendesak Menteri Luar Negeri Marco Rubio untuk mengakui bahwa Israel juga memiliki senjata nuklir.
- Bahkan, anggota DPR dari Partai Demokrat, Joaquin Castro meminta pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengakhiri standar ganda terhadap Iran.
- Partai Demokrat juga mencatat bahwa pejabat pemerintah AS lainnya pada dasarnya telah mengakui keberadaan senjata nuklir itu.
TRIBUNNEWS.COM - Setelah sempat bersitegang dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, kini DPR AS kembali berselisih dengan menteri Presiden Donald Trump.
Anggota DPR dari Partai Demokrat, Joaquin Castro mendesak Menteri Luar Negeri Marco Rubio untuk mengakui bahwa Israel juga mempunyai senjata nuklir.
Tujuannya adalah Washington harus mengakhiri ambiguitas selama beberapa dekade mengenai masalah ini di tengah konflik dengan Iran.
Dalam surat yang dikirim pada Senin (4/5/2026), Partai Demokrat menulis bahwa tidak mungkin bagi Trump untuk berkolaborasi dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dalam melawan Iran.
Perlu diketahui, AS dan Israel melawan Iran untuk mencegah negara itu memperoleh senjata nuklir.
Padahal, tulis surat tersebut, Israel juga memiliki senjata nuklir dan pemerintah harus mengakui hal itu.
"Kita, dalam arti sepenuhnya, berperang berdampingan dengan negara yang program senjata nuklirnya secara resmi ditolak oleh pemerintah Amerika Serikat," tulis surat tersebut, mengutip The Guardian.
"Kongres memiliki tanggung jawab konstitusional untuk sepenuhnya mengetahui keseimbangan nuklir di Timur Tengah, risiko eskalasi oleh pihak mana pun dalam konflik ini, dan perencanaan serta rencana darurat pemerintah untuk skenario tersebut."
"Kami tidak yakin telah menerima informasi tersebut," lanjutnya.
Israel tidak pernah mengakui program senjata nuklirnya dan tidak ada pemerintahan AS yang secara terbuka menyatakan keberadaannya, meskipun ada banyak bukti yang menunjukkan hal itu.
Program ini bermula pada tahun 1950-an, dengan bantuan dari sekutu AS termasuk Prancis dan Afrika Selatan yang menerapkan apartheid.
Baca juga: Demi Perdamaian Tercapai, AS Desak Iran Setujui Tuntutan Trump soal Program Nuklir dan Selat Hormuz
Namun, presiden AS selama beberapa dekade menghindari pembahasan subjek ini, dengan Barack Obama menanggapi pertanyaan seorang reporter tentang hal itu di awal masa kepresidenannya dengan mengatakan bahwa ia tidak ingin "berspekulasi".
Surat dari Partai Demokrat tersebut mencatat bahwa pejabat pemerintah AS lainnya pada dasarnya telah mengakui keberadaan senjata nuklir itu.
Dalam sidang konfirmasi tahun 2006 setelah George W. Bush menominasikannya sebagai menteri pertahanan, Robert Gates mengatakan tentang Iran:
"Mereka dikelilingi oleh kekuatan-kekuatan yang memiliki senjata nuklir – Pakistan di timur mereka, Rusia di utara, Israel di barat, dan kita di Teluk Persia," ucap Gates pada saat itu.
Baca tanpa iklan