Krisis Selat Hormuz: 20 Ribu Pelaut Terjebak, WNI Ungkap Ancaman Drone dan Ledakan
Ribuan pelaut terjebak di Selat Hormuz di tengah perang, hadapi serangan drone, kekurangan logistik, dan ketidakpastian pulang
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Krisis di Selat Hormuz kian memburuk akibat konflik AS–Israel dan Iran, berdampak pada ribuan pelaut termasuk WNI yang terjebak di laut berbahaya
- Serangan drone dan rudal terus terjadi, menewaskan korban serta membuat lebih dari 20.000 awak kapal terisolasi dengan logistik menipis
- Risiko kelelahan, tanpa gaji, dan ketidakpastian pulang memperparah krisis kemanusiaan yang mengingatkan pada masa pandemi
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Kondisi di Selat Hormuz saat ini menunjukkan krisis serius yang tidak hanya berdampak pada geopolitik global tetapi juga keselamatan dan kesejahteraan ribuan pelaut dari berbagai negara termasuk Indonesia.
Perwira pertama (mualim satu) berkewarganegaraan Indonesia, Reza Muhammad Saleh, yang bekerja di kapal kargo milik Yunani telah tertahan lebih dari satu bulan di lepas pantai Oman.
"Tiga hari lalu, tepat setelah kami tiba di pelabuhan, sebuah drone meledak di dekat pelabuhan,” ungkap Saleh seperti diberitakan Hankyoreh dikutip.
Menurut Saleh, setelah itu terjadi setidaknya dua ledakan drone lagi, sehingga awak kapal harus dievakuasi ke fasilitas pengisian bahan bakar.
Krisis Kemanusiaan Meningkat di Selat Hormuz
Di tengah berkepanjangannya penutupan Selat Hormuz akibat perang antara Amerika Serikat–Israel dan Iran, krisis kemanusiaan terhadap awak kapal yang terjebak di dalam dan sekitar selat tersebut semakin memburuk.
Pada 5 Mei, menurut Organisasi Maritim Internasional PBB (IMO), sejak pecahnya perang Iran, sekitar 2.000 kapal dan lebih dari 20.000 awak kapal terisolasi di dalam dan sekitar selat tersebut.
IMO bahkan menggelar rapat khusus pada 18–19 Maret dan memperingatkan serius soal keselamatan para pelaut.
Baca juga: 20.000 Pelaut Terdampar di Selat Hormuz, Hidup Berhari-hari di Atas Kapal
Dalam konferensi video pada 23 April yang dihadiri menteri luar negeri dari 40 negara, Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengungkapkan bahwa sejak 28 Februari telah terjadi sekitar 29 serangan terhadap kapal, yang menewaskan 10 awak kapal dan membuat 20.000 lainnya terjebak.
Para awak kapal kini menghadapi risiko terkena rudal maupun serpihan ledakan, serta mengalami kelelahan ekstrem.
Pelabuhan-pelabuhan terdekat pun tidak aman, sehingga kapal sulit untuk berlabuh dengan aman.
Persediaan logistik juga menipis, dan mereka harus mengandalkan distribusi makanan dan air.
Sejumlah organisasi amal seperti misi pelaut bahkan mempertaruhkan keselamatan untuk menyalurkan bantuan.
Seiring berlarutnya krisis, risiko awak kapal ditelantarkan setelah kontrak kerja mereka berakhir juga semakin meningkat.
Baca tanpa iklan