WNI Korban Sindikat Scammer Kini Jadi Gelandangan di Jalanan Kamboja
Sejumlah WNI kini terlantar dan hidup terlunta-lunta tanpa pekerjaan sejak gencaranya operasi penggerebekan markas scammer oleh otoritas Kamboja.
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Penggerebekan markas sindikat penipuan dan scammer di Kamboja menciptakan masalah baru, banyak warga asing yang selama ini bekerja di grup sindikat tersebut kehilangan pekerjaan.
- Puluhan pria WNI korban sindikat scammer kini hidup jadi gelandangan, tidur di trotoar tidak jauh dari gedung KBRI di Phnom Penh.
- Dalam dua bulan terakhir, hampir setiap minggu selalu muncul berita kegiatan penggerebekan markas scammer oleh otoritas Kamboja.
TRIBUNNEWS.COM – Upaya Pemerintah Kamboja memberantas markas sindikat scammer dan pusat penipuan di sejumlah wilayah di negara itu memicu dilema baru.
Kini banyak muncul pengangguran. Ribuan warga negara asing, sebagian berasal dari Indonesia, kini luntang-lantung tanpa kejelasan nasib. Keinginan untuk pulang ke negara asal juga sulit lantaran mereka tidak punya paspor dan tak memiliki uang.
Para analis memperingatkan, ke depan orang-orang ini bisa saja kembali terjerumus ke jaringan sindikat scammer Kamboja dengan direkrut lagi dan bergabung ke pusat-pusat penipuan baru dan dikhawatirkan menjadi sumber gangguan sosial dan memicu krisis kemanusiaan.
Dalam dua bulan terakhir, hampir setiap minggu selalu muncul berita kegiatan penggerebekan markas scammer oleh otoritas Kamboja.
Awal Maret 2026, Perdana Menteri Hun Manet menyampaikan janjinya menutup semua pusat penipuan di negara itu pada akhir April untuk memulihkan kepercayaan wisatawan dan investor.
Selain ibu kota Phnom Penh, tempat-tempat rawan penipuan lainnya banyak tersebar di Kamboja termasuk di daerah dekat perbatasan dengan Thailand, seperti kota O’Smach dan kota Poipet di barat laut Kamboja, serta kota-kota perbatasan dengan Vietnam, termasuk Bavet dan Kampot di selatan.
Puluhan WNI Keleleran di Depan Kedubes RI
Pada suatu hari kerja di bulan April, sekitar 70 pria terlihat berkeliaran di sebuah taman di seberang kedutaan besar Indonesia di Phnom Penh. Pada malam hari, banyak diantara mereka yang tidur di atas tikar jerami di trotoar di dekatnya di luar toko-toko yang telah tutup untuk hari itu.
Baca juga: DPO Interpol Kasus Penipuan Online Libatkan Jaringan Kamboja Ditangkap di Bandara Soetta
Kepada The Straits Times, Marco Lem, 28 tahun, mengaku telah tidur di jalanan di luar kedutaan Indonesia selama dua bulan terakhir sambil mencari bantuan untuk mendapatkan paspor dan kembali ke Jakarta.
Ayah dua anak ini mengaku dibujuk untuk bekerja di kasino tetapi kemudian dibawa ke Sihanoukville yang terkenal dan dia dipaksa bekerja untuk jaringan scammer Kamboja dan menipu orang.
Sihanoukville adalah kota pelabuhan pesisir di barat daya Kamboja. Kota ini dikenal sebagai pusat perjudian, kejahatan siber dan kasus perdagangan manusia.
“Saya tidak tahu apakah saya akan ditangkap ketika kembali ke Indonesia. Tetapi saya telah melihat teman-teman yang kembali dan tidak ditangkap,” kata Marco.
Sehari setelah berbicara dengan ST, ia mengirim pesan singkat yang bertanya: “Bisakah Anda membantu saya (dengan) 10 dolar untuk (membeli) makanan? Saya butuh bantuan karena sudah 3 hari belum makan.”
Warga Indonesia lainnya bernama David Butar, 23 tahun, kini hidupnya juga keleleran. Dia kini hidup di jalanan untuk bertahan hidup.
Ayah dari seorang anak perempuan berusia dua tahun mengaku ditipu ditawari pekerjann di luar negeri. Nyatanya, dia dibawa ke Kamboja untuk bekerja di kompleks sindikat penipuan di Kota Bavet di Provinsi Svay Rieng, Kamboja, yang berbatasan dengan Vietnam.
Baca juga: 4 Mahasiswa Operator Judi Online yang Lari dari Kamboja dan Filipina Ditangkap di Benoa Bali
Baca tanpa iklan