Hantavirus yang Menewaskan 11 Orang Sebuah Desa di Argentina Bermula dari Pesta Ulang Tahun
Wabah tahun 2018 di Argentina itu bermula ketika seorang warga desa Epuyen berusia 68 tahun terinfeksi strain Andes.
Penulis:
Hasanudin Aco
Ringkasan berita
- Wabah Hantavirus Pulmonary Syndrome di desa Epuyen pada tahun 2018 menyebabkan kematian 11 orang.
- Menyebar dari seorang pria yang diduga terpapar kotoran tikus saat menghadiri pesta ulang tahun.
- Penelitian menemukan penularan terjadi antarmanusia melalui kontak dekat dan udara di sekitar penderita, dengan beberapa pasien menjadi “penyebar super”.
- Argentina kembali waspada setelah tercatat 101 kasus hantavirus sejak Juni 2025.
- Virus Andes juga diduga menginfeksi penumpang kapal MV Hondius yang berlayar menuju Kepulauan Canary.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tahun 2018, otoritas kesehatan di Argentina selatan berlomba-lomba memahami penyebab hampir tiga lusin orang di desa kecil Epuyen sakit parah.
Pada akhir wabah, 11 diantaranya meninggal dunia.
Belakangan terungkap penyakit mereka disebabkan oleh virus Andes, strain Hantavirus yang dibawa oleh hewan pengerat dan mampu menular dari orang ke orang.
Virus yang sama diyakini telah menyebabkan delapan penumpang yang bepergian dengan kapal pesiar MV Hondius jatuh sakit, saat kapal tersebut berlayar menuju pelabuhan di Kepulauan Canary.
Bagaimana virus itu bermula?
Wabah tahun 2018 di Argentina itu bermula ketika seorang warga desa Epuyen berusia 68 tahun terinfeksi strain Andes.
"Kemungkinan besar saat melakukan kontak dengan urin, kotoran, atau air liur hewan pengerat di dekat rumahnya," demikian dikutip dari AFP.
Inilah cara manusia biasanya tertular hantavirus.
Pada 3 November 2018, pria itu menghadiri pesta ulang tahun selama 90 menit bersama sekitar 100 orang lainnya di sebuah desa di Provinsi Chubut, Argentina, dekat perbatasan Chili.
Menurut studi tahun 2020 yang diterbitkan di New England Journal of Medicine, lima orang yang melakukan kontak dengannya mengalami gejala serupa dalam beberapa minggu berikutnya.
Tiga orang menunjukkan gejala sebagai "penyebar super" menyumbang dua pertiga dari infeksi.
Kemudian, salah satu dari mereka menulari enam orang "karena kehidupan sosialnya yang aktif", menurut penelitian tersebut.
Ia meninggal 16 hari setelah menunjukkan gejala yang sama.
Istrinya, yang merupakan penyebar super ketiga, merasa tidak enak badan ketika menghadiri upacara pemakamannya,
Kembali ke pesta tersebut, rekonstruksi kejadian menentukan bahwa pasien pertama duduk di sebuah meja dalam jarak satu meter (sedikit lebih dari tiga kaki) dari beberapa orang yang ia infeksi.
Baca tanpa iklan