Hantavirus Merebak dari Kapal Pesiar MV Hondius, WHO: Insiden Serius, tetapi Risiko Kesehatan Rendah
Sejak mendapat informasi merebaknya hantavirus di kapal pesiar MV Hondius pada Sabtu (2/5/2026) lalu, WHO telah mengambil sejumlah tindakan.
Penulis:
Rizkianingtyas Tiarasari
Editor:
Suci BangunDS
Selain itu, WHO telah mengatur pengiriman 2500 kit diagnostik dari Argentina ke laboratorium di lima negara untuk memperkuat kapasitas pengujian virus.
Organisasi yang didirikan pada 7 April 1948 ini juga tengah mengembangkan panduan operasional langkah demi langkah untuk penurunan dan perjalanan selanjutnya yang aman bagi penumpang dan awak kapal pesiar MV Hondius ketika mereka tiba.
Otoritas Kesehatan di 4 Benua Lacak dan Pantau Penumpang yang Turun dari Kapal Pesiar MV Hondius
Pada Kamis (7/5/2026), otoritas kesehatan di empat benua melacak dan memantau penumpang yang turun dari kapal pesiar MV Hondius yang terjangkit hantavirus.
Dikutip dari laman apnews.com, otoritas kesehatan tersebut juga mencoba melacak orang lain yang mungkin telah melakukan kontak dengan para penumpang kapal sejak turun.
Di Argentina, tim penyelidik belum berangkat ke kota di selatan tempat mereka menduga wabah itu berasal, kata pejabat dari Kementerian Kesehatan Argentina kepada Associated Press, Kamis.
Para penyelidik Argentina menduga pasangan Belanda mungkin tertular virus saat melakukan perjalanan pengamatan burung sebelum mereka naik kapal pesiar.
Pada 24 April, hampir dua minggu setelah penumpang pertama meninggal di kapal, lebih dari dua lusin orang dari setidaknya 12 negara berbeda meninggalkan kapal tanpa pelacakan kontak, kata operator kapal dan pejabat Belanda, Kamis.
Tiga penumpang telah meninggal dalam wabah tersebut — pasangan asal Belanda dan seorang warga negara Jerman — dan beberapa lainnya sakit.
Gejala biasanya muncul antara satu dan delapan minggu setelah terpapar.
Tidak ada penumpang atau awak kapal yang tersisa yang saat ini menunjukkan gejala, kata perusahaan kapal pesiar Oceanwide Expeditions yang berbasis di Belanda, Kamis.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan risiko bagi masyarakat luas rendah.
Hantavirus biasanya menyebar melalui inhalasi kotoran tikus yang terkontaminasi dan tidak mudah menular antar manusia.
“Kami percaya ini akan menjadi wabah terbatas jika langkah-langkah kesehatan masyarakat diterapkan dan solidaritas ditunjukkan di semua negara,” kata Dr. Abdirahman Mahamud, Direktur Tindak Siaga dan Tanggap Cepat WHO, Kamis.
Baca juga: UPDATE Kemenkes: 2 Suspek Hantavirus Jakarta-Jogja Negatif, Pasien Sembuh
Strain Andes Hantavirus Diduga Menyebar Antarmanusia
Mengutip ABC 7, virus hanta varian/strain Andes dapat menyebabkan sindrom paru hantavirus, penyakit paru-paru berat yang sering kali berakibat fatal.
Kementerian Kesehatan Argentina mencatat, terdapat 28 kematian akibat hantavirus tahun 2025 lalu, meningkat dibanding rata-rata 15 kematian per tahun dalam lima tahun sebelumnya.
Baca tanpa iklan