Meski Tak Tampil di Publik, Intelijen AS Yakin Mojtaba Khamenei Terlibat dalam Strategi Perang Iran
Khamenei diyakini terlibat dalam strategi perang Iran meskipun tetap tidak tampil di depan publik setelah mengalami cedera selama perang.
Penulis:
Nuryanti
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Badan intelijen Amerika Serikat (AS) meyakini bahwa Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, terlibat dalam membentuk strategi perang Teheran dan negosiasi dengan Washington.
Diberitakan Anadolu Agency, Mojtaba Khamenei diyakini terlibat meskipun tetap tidak tampil di depan publik setelah mengalami cedera selama perang.
Sumber-sumber yang mengetahui penilaian intelijen AS, mengatakan bahwa masih ada ketidakpastian mengenai seberapa besar otoritas yang saat ini dijalankan Khamenei dalam struktur kepemimpinan Iran setelah serangan dalam perang tersebut menewaskan beberapa pejabat senior, termasuk ayahnya yakni Ali Khamenei.
Para pejabat AS dilaporkan meyakini bahwa Mojtaba Khamenei terus berkomunikasi melalui kurir tepercaya dan kontak langsung saat pulih dari cedera yang meliputi luka bakar dan luka akibat pecahan peluru.
Sementara itu, para pejabat Iran bersikeras bahwa Mojtaba Khamenei pulih dengan baik.
Mazaher Hosseini, kepala protokol di kantor pemimpin tertinggi, mengatakan pada Jumat (8/5/2026) bahwa kondisi Khamenei telah membaik dan menepis spekulasi seputar kesehatannya.
Laporan juga menyebutkan bahwa penilaian intelijen AS menemukan kemampuan militer Iran telah melemah tetapi tidak sepenuhnya hilang akibat serangan Amerika, dengan banyak peluncur rudal yang masih beroperasi.
Ditambahkan pula bahwa anggota senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf diyakini menangani sebagian besar operasi harian pemerintah, sementara upaya diplomatik dengan pemerintahan Trump terus berlanjut.
Trump Tegaskan Gencatan Senjata Masih Berlaku
Pasukan AS dan Iran bentrok di Teluk, dan Uni Emirat Arab (UEA) kembali diserang, membahayakan gencatan senjata yang telah berlangsung selama sebulan dan mengguncang harapan akan solusi diplomatik untuk krisis tersebut.
Peningkatan intensitas pertempuran terjadi ketika Washington menunggu tanggapan dari Teheran atas proposalnya untuk mengakhiri konflik, yang dimulai dengan serangan udara gabungan AS-Israel di seluruh Iran pada 28 Februari 2026.
Baca juga: Trump Ancam Proyek Kebebasan Lanjut jika Kesepakatan dengan Iran Tak Tercapai: Project Freedom Plus
Presiden AS Donald Trump mengatakan tiga kapal perusak Angkatan Laut AS diserang saat mereka melintasi selat tersebut, jalur bagi sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair dunia yang hampir sepenuhnya ditutup oleh Iran sejak konflik dimulai.
“Tiga kapal perusak Amerika kelas dunia baru saja berhasil melewati Selat Hormuz, di bawah tembakan musuh."
"Tidak ada kerusakan pada ketiga kapal perusak tersebut, tetapi kerusakan besar dialami oleh penyerang Iran,” ungkap Trump di Truth Social, Kamis (7/5/2026).
Trump kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa gencatan senjata masih berlaku dan berusaha untuk mengecilkan insiden tersebut.
“Mereka mempermainkan kita hari ini. Kita menghancurkan mereka,” kata Trump di Washington.
Baca tanpa iklan