F-35 AS Kirim Sinyal SOS di Langit Hormuz, Iran Klaim Bukan 'Masalah Teknis', CENTCOM Masih Bungkam
Jet tempur siluman F-35 Lightning II milik Amerika Serikat dilaporkan mengirimkan sinyal darurat saat melintas di atas Laut Oman
Penulis:
Malvyandie Haryadi
Pentagon mengerahkan sejumlah aset udara, termasuk F-35, F-15, F-16, hingga kapal induk dan kapal perusak ke kawasan Teluk.
F-35, Kebanggaan Amerika
F-35 Lightning II merupakan jet tempur siluman tercanggih yang dimiliki AS saat ini.
Pesawat buatan Lockheed Martin itu dirancang untuk menembus pertahanan udara modern dengan teknologi stealth yang membuatnya sulit dideteksi radar.
Jet tersebut mampu melaju hingga kecepatan Mach 1,6 atau sekitar 1.975 kilometer per jam, dengan radius tempur lebih dari 1.000 kilometer.
F-35 juga dilengkapi sensor fusion canggih yang memungkinkan pilot memperoleh gambaran medan perang secara real time dari berbagai sistem radar dan sensor elektronik.
Selain kemampuan siluman, F-35 dibekali persenjataan modern mulai dari rudal udara-ke-udara AIM-120 AMRAAM, bom pintar JDAM, hingga rudal anti-kapal.
Amerika Serikat selama ini menganggap F-35 sebagai tulang punggung dominasi udara generasi baru.
Sejarah mencatat bahwa F-35 bukanlah pesawat yang kebal dari insiden. Meski belum ada catatan resmi F-35 ditembak jatuh oleh tembakan musuh dalam pertempuran, beberapa unit telah hilang akibat kegagalan teknis, seperti jatuhnya F-35B Inggris dari kapal induk HMS Queen Elizabeth pada 2021, serta insiden jatuh di laut yang dialami oleh armada Jepang dan Amerika Serikat di masa lalu.
Pada perang terbaru di Iran bulan lalu, muncul laporan sebuah F-35 AS melakukan pendaratan darurat usai menjalankan misi tempur di wilayah Iran.
Kini kabar mengenai sinyal darurat ini menambah beban psikologis bagi sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk.
Seperti yang dilaporkan oleh Mathrubhumi, hilangnya kendali atau gangguan pada aset udara AS di Selat Hormuz dapat mengubah peta kekuatan diplomasi, terutama saat ekspor energi global sedang terhenti dan ekonomi negara-negara seperti Bahrain berada dalam mode darurat.
Iran sendiri telah meningkatkan kemampuan pertahanan udaranya secara signifikan melalui pengembangan sistem Bavar-373 dan Khordad-15.
Keberhasilan mereka menjatuhkan drone pengintai canggih AS, Global Hawk, pada tahun 2019 menjadi pengingat bagi Pentagon bahwa wilayah udara di sekitar Iran bukanlah zona tanpa risiko bagi pesawat jenis apa pun.
Bisa karena faktor teknis
Baca tanpa iklan