Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Iran Tercekik, Warga Diimbau Hemat BBM dan Listrik Gegara Blokade AS

Iran makin tertekan akibat blokade AS. Warga kini diminta hemat listrik dan BBM saat harga pangan melonjak dan inflasi makin menggila.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan

Kondisi ini yang membuat pemerintah mengalami kesulitan menjaga stabilitas pasokan energi dan subsidi bahan bakar di dalam negeri.

Karena itu, pemerintah Iran mulai meminta masyarakat mengurangi konsumsi listrik dan BBM agar tekanan terhadap jaringan energi nasional tidak semakin berat.

Harga Kebutuhan Pokok di Iran Melonjak Tajam

Di saat bersamaan, masyarakat Iran juga mulai merasakan lonjakan harga kebutuhan pokok yang semakin berat dalam beberapa bulan terakhir.

Laporan media ekonomi domestik Iran menunjukkan harga barang dalam program kupon elektronik pemerintah meningkat tajam setelah kebijakan penghapusan subsidi kurs mata uang asing untuk kebutuhan pokok diberlakukan.

Sebelumnya, nilai keranjang kebutuhan pokok masyarakat berada di kisaran 21,8 juta rial. Namun kini angka tersebut melonjak hingga sekitar 37,8 juta rial.

Kenaikan harga tersebut tidak diikuti peningkatan bantuan pemerintah. Nilai subsidi yang diberikan kepada masyarakat masih tetap berada di angka 10 juta rial tanpa penyesuaian berarti meski inflasi terus meningkat.

Kondisi ekonomi semakin memburuk karena nilai tukar mata uang Iran terus melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat.

Rekomendasi Untuk Anda

Di pasar terbuka, nilai tukar dolar dilaporkan telah mencapai sekitar 1,9 juta rial per dolar AS atau melonjak lebih dari 120 persen dibanding sebelum konflik Iran dan Israel pecah beberapa bulan lalu.

Pelemahan mata uang nasional tersebut berdampak langsung pada kenaikan harga pangan, bahan bakar, obat-obatan, serta kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Sejumlah laporan media lokal bahkan memperkirakan inflasi pangan di Iran kini telah melampaui 70 persen.

Data terbaru juga menunjukkan biaya kebutuhan makanan rumah tangga kini hampir menyentuh 85 persen dari total pendapatan minimum pekerja yang telah berkeluarga dan memiliki dua anak.

Situasi ini memperlihatkan tekanan ekonomi yang semakin berat terhadap masyarakat Iran, khususnya kalangan pekerja, kelas menengah, dan warga berpenghasilan rendah yang paling terdampak lonjakan harga.

Meski sebelumnya pemerintah Iran berjanji akan menyesuaikan nilai bantuan kupon elektronik mengikuti laju inflasi, hingga kini belum ada tambahan subsidi yang diberikan kepada masyarakat.

Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengakui keterbatasan anggaran negara menjadi salah satu alasan utama pemerintah kesulitan meningkatkan bantuan sosial di tengah krisis ekonomi yang terus memburuk.

Pengamat ekonomi menilai kombinasi sanksi internasional, konflik geopolitik, pelemahan mata uang, dan gangguan perdagangan energi membuat Iran menghadapi salah satu tekanan ekonomi paling berat dalam beberapa tahun terakhir.

(Tribunnews.com / Namira)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas