Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Trump Perkuat Mesin Perang AS, Operasi Sledgehammer Siap Hantam Iran Jika Gencatan Gagal

Trump siapkan Operasi Sledgehammer untuk Iran jika gencatan senjata gagal. Pentagon kini perkuat mesin perang AS di Timur Tengah.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Ringkasan Berita:
  • Trump mulai menyiapkan “Operasi Sledgehammer” sebagai skenario perang baru jika gencatan senjata dengan Iran gagal total. 
  • Operasi Sledgehammer disiapkan untuk menghadapi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk krisis di Selat Hormuz yang mengganggu jalur perdagangan minyak dunia. 
  • Target utama Operasi Sledgehammer diperkirakan mencakup fasilitas militer dan program nuklir Iran, termasuk pangkalan rudal serta pusat komando tempur. 

TRIBUNNEWS.COM – Pemerintahan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump tengah menyiapkan skenario operasi militer baru untuk menghadapi kemungkinan runtuhnya gencatan senjata dengan Iran.

Informasi ini mencuat usai dua pejabat AS yang mengetahui pembahasan internal pemerintahan mengungkap bahwa Pentagon saat ini mulai membahas operasi baru bertajuk “Sledgehammer” sebagai bagian dari opsi serangan lanjutan jika konflik kembali meledak di kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, pemerintahan Trump menyatakan bahwa “Operasi Epic Fury” telah berakhir setelah kedua negara sepakat menghentikan pertempuran pada awal April demi membuka jalur diplomasi.

Hal itu turut dikonfirmasi Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menyatakan bahwa “Operasi Epic Fury” telah selesai.

Menurut Rubio, fase utama perang telah selesai sehingga pemerintahan kini fokus pada jalur diplomasi dan pengendalian eskalasi konflik.

Kendati pemerintahan Donald Trump menyatakan bahwa “Operasi Epic Fury” telah berakhir setelah tercapainya gencatan senjata dengan Iran, Pentagon ternyata masih menggunakan nama operasi tersebut dalam berbagai pembaruan situasi dan laporan resmi militer. 

Kondisi ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara Gedung Putih dan militer AS terkait status sebenarnya dari konflik yang sedang berlangsung. 

Rekomendasi Untuk Anda

Di satu sisi, Gedung Putih menilai operasi militer utama telah selesai dan fokus kini diarahkan pada jalur diplomasi. 

Namun disisi lain, Pentagon disebut masih menganggap konflik belum benar-benar berakhir. Sementara militer AS memandang gencatan senjata saat ini hanya sebagai penghentian sementara operasi tempur berskala besar, bukan penutupan permanen perang dengan Iran.

Pandangan tersebut membuat Pentagon mulai menyiapkan berbagai skenario termasuk operasi baru bertajuk “Sledgehammer”  jika negosiasi damai gagal total atau ketegangan kembali meningkat di kawasan Timur Tengah.

Mengapa Pergantian Nama Operasi Sangat Penting?

Pergantian nama perang ternyata bukan hanya persoalan simbolis. Di Amerika Serikat, hal ini berkaitan langsung dengan aturan hukum perang dan kewenangan presiden terhadap operasi militer.

Pemerintahan Trump diyakini ingin menggunakan nama operasi baru agar dapat dianggap sebagai konflik yang berbeda secara hukum. 

Baca juga: Perang Iran: Trump Sebut Gencatan Senjata “Di Ujung Tanduk”

Dengan begitu, Gedung Putih dapat mengklaim bahwa hitungan 60 hari dalam Resolusi Kekuatan Perang dimulai kembali dari awal.

Resolusi Kekuatan Perang tahun 1973 mewajibkan presiden memberi tahu Kongres dalam waktu 48 jam setelah operasi militer dimulai.

Jika perang berlangsung lebih dari 60 hari, maka presiden harus memperoleh persetujuan resmi dari Kongres untuk melanjutkan operasi tersebut.

Dalam kasus “Operasi Epic Fury”, operasi ofensif berlangsung sekitar 40 hari sebelum dihentikan melalui gencatan senjata. Pemerintahan Trump berargumen bahwa batas 60 hari belum terlampaui lantaran operasi utama telah dihentikan sementara.

Karena itu, jika perang dilanjutkan dengan nama baru seperti “Operasi Sledgehammer”, pemerintahan Trump bisa menyatakan bahwa itu merupakan operasi militer baru dengan hitungan waktu baru pula.

Tujuan Operasi “Sledgehammer”

Mengutip dari CNBC International, langkah tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran dalam beberapa pekan terakhir. 

Pemerintah AS menilai situasi saat ini semakin rapuh setelah jalur diplomasi berjalan alot, sementara ketegangan militer terus meningkat di kawasan strategis Teluk Persia.

Selain kegagalan diplomasi, krisis di Selat Hormuz juga menjadi faktor utama yang mendorong Pentagon mulai mempersiapkan Operasi Sledgehammer. 

Iran sebelumnya menghentikan lalu lintas kapal di jalur tersebut, memicu kekhawatiran global karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia.

Washington menilai tindakan Iran dapat mengancam stabilitas ekonomi internasional serta kepentingan strategis Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya di Timur Tengah. 

Situasi itu membuat militer AS mulai memperkuat kehadirannya di kawasan, termasuk menambah kelompok serang kapal induk, sistem pertahanan udara, dan kesiapan armada tempur.

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Operasi Sledgehammer disebut disiapkan sebagai rencana tempur lanjutan jika diplomasi gagal total. 

Operasi itu diyakini memiliki beberapa tujuan utama, mulai dari melumpuhkan kemampuan militer Iran hingga menekan Teheran agar kembali tunduk pada tuntutan Washington.

Target Operasi “Sledgehammer”

Salah satu fokus utama operasi tersebut diperkirakan adalah menghancurkan fasilitas strategis Iran, termasuk pangkalan rudal, pusat komando militer, sistem pertahanan udara, serta infrastruktur yang dianggap mendukung operasi tempur dan program nuklir Teheran.

Selain itu, operasi tersebut juga diarahkan untuk membuka kembali jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz apabila Iran terus melakukan blokade terhadap lalu lintas kapal dagang dan distribusi minyak dunia.

Pentagon juga disebut ingin memastikan bahwa pasukan Amerika dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah tetap berada dalam kondisi aman jika konflik kembali pecah. 

Karena itu, Operasi Sledgehammer kemungkinan akan melibatkan serangan udara besar-besaran menggunakan pesawat pengebom, rudal jarak jauh, drone tempur, hingga operasi pengamanan laut oleh Angkatan Laut AS.

Sejumlah pejabat pertahanan AS mengatakan kekuatan militer Amerika di kawasan kini jauh lebih siap dibanding awal konflik sebelumnya. 

Mengingat belakangan ini Washington telah memperbesar kapasitas tempur dan memperbarui persenjataan yang digunakan selama operasi militer sebelumnya.

Meski belum ada keputusan resmi untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran, pembahasan Operasi Sledgehammer menunjukkan bahwa Amerika Serikat sedang bersiap menghadapi kemungkinan terburuk di Timur Tengah.

Dengan ketegangan yang terus meningkat, situasi di kawasan kini dinilai sangat rentan memicu konflik baru berskala besar yang dapat berdampak terhadap keamanan global, perdagangan internasional, hingga stabilitas harga energi dunia.

(Tribunnews.com / Namira)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas