Putin Genjot Produksi Drone Shahed Secara Besar-Besaran, Isu Rusia Perkuat Militer Iran Mencuat
Rusia genjot produksi drone Shahed di Alabuga. Kerja sama militer dengan Iran memanas, konflik global dikhawatirkan makin meluas.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
- Rusia memperluas pabrik drone terbesar di Zona Ekonomi Khusus Alabuga hingga ratusan hektar, di tengah meningkatnya produksi drone kamikaze Shahed dan dugaan penguatan kerja sama militer dengan Iran.
- Rusia disebut telah memproduksi 90–95 persen komponen drone secara mandiri dan terus menyempurnakan teknologi Geran-2.
- Eskalasi konflik Timur Tengah dinilai sebagian pengamat dapat menguntungkan Rusia secara ekonomi dan geopolitik.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Rusia dilaporkan memperluas fasilitas produksi drone terbesar miliknya di tengah meningkatnya kerja sama militer dengan Iran.
Langkah tersebut memunculkan kekhawatiran baru terkait peningkatan kemampuan serangan udara Rusia dalam perang melawan Ukraina.
Pabrik drone yang berada di Zona Ekonomi Khusus Alabuga diketahui menjadi pusat utama produksi drone kamikaze bergaya Shahed yang selama ini digunakan Rusia untuk menggempur berbagai wilayah Ukraina.
Menurut laporan terbaru, Moskow memperluas kawasan industri Alabuga hingga mencapai 340 hektar dalam satu tahun terakhir.
Perluasan terlihat dari citra satelit yang menunjukkan pembangunan hanggar baru, penambahan fasilitas produksi, hingga kawasan tempat tinggal pekerja di sekitar kompleks industri tersebut.
Selain itu, sebuah area konstruksi baru seluas 450 hektar juga terlihat dibangun di bagian selatan kawasan Alabuga. Hingga kini, fungsi pasti lokasi tersebut belum diumumkan secara resmi oleh pemerintah Rusia.
Namun mengutip laporan The Telegraph, perluasan fasilitas ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya produksi drone jarak jauh Rusia, terutama varian drone kamikaze Geran-2 yang dikembangkan dari desain drone Shahed buatan Iran.
Drone Geran-2 diketahui menjadi salah satu senjata utama Rusia dalam melancarkan serangan udara ke Ukraina karena mampu menyerang target jarak jauh dengan biaya produksi yang relatif lebih murah dibanding rudal konvensional.
Setiap unit drone tersebut diperkirakan diproduksi dengan biaya sekitar 15.000 euro hingga 50.000 euro.
Meski lebih murah, drone ini memiliki daya rusak besar karena membawa bahan peledak dan digunakan dalam serangan massal ke berbagai kota Ukraina.
Peningkatan kapasitas produksi ini dinilai menjadi bagian dari strategi Rusia untuk memperkuat serangan udara berkelanjutan di tengah perang yang masih berlangsung.
Penggunaan drone Shahed sendiri pertama kali dilakukan Rusia pada 2022 setelah mengimpor teknologi tersebut dari Iran melalui jalur Laut Kaspia.
Baca juga: Terungkap, Arab Saudi Luncurkan Serangan Balasan ke Iran untuk Pertama Kalinya
Namun sejak 2023, Rusia mulai memproduksi sekitar 90 hingga 95 persen komponen varian lokal drone itu secara massal di fasilitas Alabuga, sekitar 600 mil di timur Moskow, wilayah Tatarstan.
Bahkan demi menyempurnakan desain drone Shahed berdasarkan pengalaman tempur di medan perang Rusia turut melakukan peningkatan teknologi salah satunya memodifikasi untuk membawa rudal udara-ke-udara jenis R-60 untuk memperkuat efektivitas drone dalam menghadapi sistem pertahanan modern.
Rusia Diduga Kirim Komponen Drone ke Iran
Selain untuk memperkuat basis militer dalam negeri, pejabat Amerika Serikat mengungkap bahwa Kremlin diduga mengirim komponen drone ke Iran melalui Laut Kaspia guna membantu Teheran membangun kembali kemampuan militernya.