Perang Belum Berakhir, Israel Rencanakan Serangan Baru ke Iran
Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz mengatakan Israel sedang merencanakan serangan baru ke Iran, menegaskan bahwa perang belum berakhir.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Garudea Prabawati
"Kami akan bertindak dan menghancurkan semua infrastruktur mereka di zona keamanan hingga garis kuning, di bawah dan di atas tanah, seperti yang kami lakukan di Gaza," katanya, seperti diberitakan Kikar Israel.
Menurutnya, Israel ingin memastikan wilayah utara negara itu bebas dari ancaman serangan drone maupun roket dari Lebanon.
Menlu Iran: Kami Tak akan Menyerah pada Tekanan Militer
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah pada tekanan ataupun ancaman militer.
Dalam pertemuan BRICS, Araghchi mengatakan persoalan terkait Iran tidak dapat diselesaikan melalui perang dan menekankan bahwa rakyat Iran tetap menginginkan perdamaian.
"Iran siap berjuang dengan segenap kekuatannya untuk membela kebebasan dan wilayahnya, sekaligus terus mendukung dan mengikuti jalur diplomatik," kata Abbas Araghchi.
Meski demikian, ia memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran siap memberikan respons “menghancurkan” jika terjadi serangan terhadap negaranya.
Araghchi juga menepis kekhawatiran mengenai penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Ia memastikan selat tersebut tetap terbuka bagi kapal komersial internasional selama ada koordinasi keamanan dengan Angkatan Laut Iran.
Menurut Iran, ketegangan di kawasan justru dipicu oleh tekanan dan sanksi sepihak yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap Teheran, seperti diberitakan Al Arabiya.
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai pecah pada 28 Februari 2026 setelah AS bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas strategis Iran.
Serangan itu terjadi hanya dua hari setelah perundingan nuklir di Jenewa gagal menghasilkan kesepakatan baru.
Washington dan Tel Aviv menuduh Iran tengah mengembangkan senjata nuklir, sementara Teheran menegaskan bahwa program nuklirnya hanya ditujukan untuk kepentingan energi dan riset sipil.
Ketegangan meningkat drastis setelah serangan awal disebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Posisi tersebut kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan ke wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Iran juga menghentikan pembicaraan nuklir dan memperketat blokade terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, yang membuat distribusi energi global terganggu dan harga minyak melonjak.