Zelenskyy: Rusia Gunakan 3.170 Drone Serang dalam Sepekan
Presiden Ukraina Zelenskyy mengatakan Rusia menggunakan 3.170 drone serang, 1.300 bom udara berpemandu, serta 74 rudal dengan berbagai jenis.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut Rusia melancarkan serangan besar dalam sepekan terakhir dengan lebih dari 3.170 drone, 1.300 bom udara berpemandu, dan 74 rudal.
- Serangan itu menghantam permukiman dan fasilitas sipil hingga menewaskan 52 orang serta melukai 346 lainnya, termasuk 22 anak-anak.
- Zelenskyy meminta tambahan sistem pertahanan udara dan rudal anti-balistik dari negara-negara sekutu.
- Ukraina juga mengklaim berhasil menetralisir 279 dari 287 drone Rusia pada malam 17 Mei.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1545 pada Senin (18/5/2026).
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa dalam satu pekan terakhir Rusia melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Ukraina.
Menurutnya, Rusia menggunakan lebih dari 3.170 drone serang, sekitar 1.300 bom udara berpemandu, serta 74 rudal dari berbagai jenis, yang sebagian besar merupakan rudal balistik.
Pernyataan itu disampaikan Zelenskyy melalui akun Telegram pada 17 Mei. Ia mengatakan sebagian besar serangan Rusia menghantam kawasan permukiman dan berbagai fasilitas sipil lainnya.
Akibat serangan tersebut, banyak bangunan rusak dan warga sipil menjadi korban.
Zelenskyy menyebut sedikitnya 52 orang tewas akibat serangan Rusia selama sepekan terakhir.
Selain itu, 346 orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk 22 anak-anak. Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban yang meninggal dunia.
Dalam pernyataannya, Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina membutuhkan perlindungan udara yang lebih kuat untuk melindungi warganya dari serangan rudal dan drone Rusia.
Ia mengatakan dukungan terhadap sistem pertahanan udara Ukraina sangat penting karena dapat membantu menyelamatkan banyak nyawa.
Karena itu, Zelenskyy kembali menyoroti pentingnya program pertahanan seperti PURL serta tambahan bantuan rudal anti-balistik dari negara-negara mitra.
Baca juga: Rusia-Ukraina Tukar Tawanan Perang, 205 Warga Ukraina Dibebaskan
Ia juga menekankan bahwa negara-negara Eropa perlu bekerja sama lebih erat dalam membangun pertahanan bersama menghadapi ancaman rudal balistik.
Menurut Zelenskyy, Eropa harus mampu memperkuat pertahanannya sendiri agar serangan udara Rusia tidak hanya mengancam Ukraina, tetapi juga negara-negara lain di benua tersebut.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada negara-negara sekutu yang terus membantu pertahanan Ukraina secara nyata.
Sementara itu, pada malam 17 Mei, militer Rusia kembali meluncurkan serangan udara menggunakan 287 drone, termasuk drone Shahed, Gerbera, Italmas, dan drone simulator Parody. Namun, pasukan pertahanan udara Ukraina mengklaim berhasil menembak jatuh atau menetralisir 279 drone tersebut sebelum mencapai targetnya.
Pertukaran Tawanan Berlanjut, Rusia Kembalikan 528 Jenazah Ukraina
Ukraina kembali menerima pemulangan jenazah dari Rusia dalam proses repatriasi terbaru yang dilakukan kedua negara. Kali ini, sebanyak 528 jenazah dikembalikan ke Ukraina. Menurut pihak Rusia, seluruh jenazah tersebut merupakan anggota militer Ukraina yang tewas dalam perang.
Informasi itu disampaikan oleh Markas Koordinasi untuk Penanganan Tawanan Perang Ukraina. Mereka menjelaskan bahwa pihak penyidik dan tim ahli forensik akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan identitas setiap jenazah yang dipulangkan.
Proses pemulangan jenazah seperti ini sebelumnya juga sudah beberapa kali dilakukan antara Rusia dan Ukraina. Pada 9 April lalu, Rusia mengembalikan 1.000 jenazah yang disebut sebagai tentara Ukraina. Kemudian, pada 26 Februari 2026, Ukraina kembali menerima 1.000 jenazah lainnya dari Rusia.
Menurut data Markas Koordinasi Ukraina, selama Juni 2025 sebanyak 6.057 jenazah telah berhasil dipulangkan ke Ukraina sesuai kesepakatan kedua pihak.
Selain itu, pada 17 Juli, Ukraina juga menerima 1.000 jenazah dalam rangka pelaksanaan kesepakatan Istanbul yang dicapai pada 2 Juni. Proses repatriasi serupa kembali berlangsung pada 19 Agustus, ketika Rusia menyerahkan 1.000 jenazah lain yang diklaim sebagai prajurit Ukraina.
Pemulangan jenazah kemudian terus berlanjut pada beberapa bulan berikutnya. Rusia kembali menyerahkan masing-masing 1.000 jenazah pada 18 September dan 23 Oktober. Selanjutnya, pada 20 November, Rusia memulangkan lagi 1.000 jenazah yang disebut sebagai milik para pembela Ukraina, lalu pada 19 Desember sebanyak 1.003 jenazah tambahan juga dikembalikan ke pihak Ukraina.
Ukraina Ungkap Daftar Persenjataan Udara
Militer Ukraina melancarkan serangan drone ke sejumlah target militer dan infrastruktur penting di Rusia pada malam 16–17 Mei. Dalam operasi tersebut, Ukraina menggunakan beberapa jenis drone buatan dalam negeri, termasuk Bars RS-1, Fire Point FP-1, dan Bars-SM Gladiator.
Menurut Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina, salah satu target utama adalah pabrik Angstrem di Zelenograd, Oblast Moskow. Pabrik tersebut memproduksi mikrochip dan teknologi tinggi untuk senjata presisi militer Rusia. Ukraina mengklaim kebakaran terjadi di area fasilitas setelah serangan.
Selain itu, stasiun pompa Solnechnogorskaya di Oblast Moskow juga dilaporkan terkena serangan. Fasilitas ini merupakan bagian penting dari jaringan distribusi bahan bakar di sekitar Moskow yang digunakan untuk memasok bensin dan solar, termasuk bagi militer Rusia. Kebakaran juga dilaporkan terjadi di lokasi tersebut.
Ukraina turut menyerang sejumlah pos komando Rusia dan titik operasi drone di beberapa wilayah, termasuk Oblast Donetsk, Kharkiv, Kherson, dan Zaporizhzhia. Serangan juga menyasar kelompok pasukan Rusia di beberapa area garis depan perang.
Staf Umum Ukraina menyampaikan apresiasi kepada sejumlah brigade dan unit sistem tak berawak Ukraina yang terlibat dalam operasi tersebut.
Sementara itu, menurut laporan Ukraina, operasi ini dilakukan bersama Dinas Keamanan Ukraina (SBU) dan juga menargetkan beberapa fasilitas minyak di Oblast Moskow serta pangkalan udara militer Belbek di Krimea yang dikuasai Rusia, seperti diberitakan Pravda.
SBU Soroti Serangan di Wilayah Rusia
Dinas keamanan Ukraina (SBU) menyoroti serangan terhadap pabrik Angstrom di Zelenograd, wilayah Moskow, Rusia.
Menurut penjelasan SBU, pabrik tersebut mengkhususkan diri dalam produksi produk berteknologi tinggi dan sirkuit mikro untuk senjata presisi tinggi.
Kebakaran tercatat di wilayah fasilitas tersebut.
"Perusahaan ini merupakan komponen penting dari kompleks industri militer Rusia dan terlibat dalam produksi mikroelektronika, radioelektronika, sistem optik, dan robotika untuk kebutuhan militer musuh," kata SBU.
“Juga di wilayah Moskow, stasiun pompa Solnechnogorskaya terkena serangan, yang merupakan bagian penting dari jaringan pipa minyak lingkar di sekitar Moskow dan digunakan untuk memompa, menyimpan, dan mengirimkan volume besar bensin dan bahan bakar diesel, khususnya untuk tentara Rusia . Kebakaran dilaporkan terjadi di lokasi tersebut," lanjutnya.
"Serangan-serangan tersebut mengurangi kemampuan musuh untuk melanjutkan perangnya ," kata SBU.
Otoritas Rusia mengatakan setidaknya empat orang tewas dan belasan lainnya terluka.
Rusia melaporkan beberapa serangan berasal dari "puing-puing drone".
Pada Senin pagi, kementerian pertahanan Rusia berusaha menekankan peran pertahanan udaranya, mengklaim 3.124 drone Ukraina ditembak jatuh selama seminggu terakhir.
Ukraina Serang Markas Rusia di Wilayah Pendudukan
Di Ukraina, SBU mengatakan pos komando Rusia di daerah Bunge di wilayah Donetsk dan titik kendali UAV musuh dihantam di daerah Dvorichnaya di wilayah Kharkiv, Zavitne di wilayah Kherson, dan Udachne di wilayah Donetsk.
“Selain itu, tentara Ukraina menyerang konsentrasi pasukan musuh di daerah Myrne, wilayah Donetsk, Krasnohirsk, wilayah Zaporizhzhia, Volfinsky, wilayah Kursk di Federasi Rusia, serta dua konsentrasi pasukan pendudukan di distrik Novoekonomichesky di wilayah Donetsk,” kata SBU.
Jurnalis AFP Masuk Lokasi Peluncuran Drone Ukraina
Agence France-Presse (AFP) mengatakan bahwa jurnalis mereka diberi akses ke lokasi yang dirahasiakan, tempat Ukraina meluncurkan drone jarak jauhnya.
Peluncuran drone jarak jauh tersebut menjadi salah satu serangan terbesar terhadap Rusia selama perang tersebut.
Mereka menggambarkan bagaimana anggota batalion mempersiapkan drone mirip pesawat sebelum lepas landas menuju Rusia, meninggalkan jejak percikan api dan kobaran api dari pendorong roketnya.
Zelenskyy Klaim Ukraina Mulai Unggul di Medan Perang
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa membawa perang ke Moskow adalah "sepenuhnya dibenarkan".
Dalam pidato malamnya, presiden Ukraina mengatakan bahwa pada hari Minggu, operasi tempur pasukan Ukraina di medan perang melebihi jumlah pasukan Rusia – "hasil yang sangat signifikan".
"Banyak yang telah dicapai tahun ini, dan pergeseran keseimbangan aktivitas di garis depan terlihat jelas," katanya.
Wilayah Odesa Dihantam Serangan Drone
Wilayah Odesa di Ukraina selatan diserang pesawat tak berawak pada Minggu malam dan beberapa bangunan tempat tinggal terkena dampaknya, menurut keterangan gubernur wilayah Odesa dalam sebuah unggahan di media sosial, Minggu (17/5/2026).
Informasi tentang korban jiwa dan kerusakan sedang diklarifikasi, tulis Oleh Kiper.
Di wilayah Zaporizhzhia, sebuah mobil terkena serangan Rusia, melukai seorang wanita dan seorang pria.
Di wilayah Kherson , kantor kejaksaan wilayah mengatakan sebuah pesawat tak berawak menjatuhkan bahan peledak di sebuah rumah, menewaskan seorang pria, sementara delapan warga sipil terluka dalam serangan di kota-kota dan permukiman di wilayah tersebut.
Drone Ukraina Jatuh di Lithuania
Sebuah drone militer Ukraina yang diduga jatuh di Lithuania pada hari Minggu, menurut penjelasan pusat manajemen krisis pemerintah Lithuania.
"Drone tersebut tidak terdeteksi saat memasuki Lithuania, dan tidak dipersenjatai dengan bahan peledak," kata kepala pusat tersebut, Vilmantas Vitkauskas.
Drone tersebut ditemukan jatuh di desa Samane, kata pusat tersebut, 40 km dari perbatasan Latvia dan 55 km dari Belarus.
Sementara Ukraina belum memberikan komentar.
Secara terpisah, militer Latvia mengatakan peringatan drone dikeluarkan pada Minggu pagi di sepanjang perbatasannya dengan Rusia, dan pasukan militer NATO dipanggil ke daerah tersebut.
Satu drone memasuki Latvia untuk waktu singkat selama peringatan tersebut, kata militer.
Sejak Maret, beberapa drone Ukraina yang tersesat telah memasuki wilayah udara negara anggota NATO, Latvia, Lithuania, dan Estonia, yang berbatasan dengan Rusia dan sekutunya, Belarus.
Kyiv bersikeras bahwa drone tersebut ditujukan pada target militer di Rusia tetapi dialihkan jalurnya oleh tindakan balasan Rusia.
Perdana Menteri Latvia, Evika Silina, memecat menteri pertahanannya setelah salah satu insiden tersebut, yang menyebabkan jatuhnya pemerintahannya.
Komandan Ukraina Bela Serangan Jarak Jauh di Wilayah Rusia
Komandan pasukan drone Ukraina membela serangan jarak jauh Ukraina ke Rusia.
Dalam sebuah wawancara dengan Agence France-Presse (AFP), Robert Brovdi, yang dikenal sebagai “Madyar”.
“Sumber pendanaan untuk pengeluaran perang Putin… telah menjadi target militer yang sah dan prioritas di area mana pun, di bagian mana pun dari wilayah negara pendudukan, baik itu di selatan, Ural, atau Siberia," kata Robert Brovdi.
Wawancara tersebut diberikan sebelum Ukraina meluncurkan gelombang lebih dari 600 drone ke Rusia pada akhir pekan.
Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina secara terbuka dimulai pada 24 Februari 2022 saat Rusia melancarkan invasi militer besar-besaran ke Ukraina. Meski begitu, akar konflik kedua negara sebenarnya sudah muncul sejak bubarnya Uni Soviet yang membuat Ukraina berdiri sebagai negara merdeka dan mulai menentukan kebijakan politiknya sendiri.
Dalam perkembangannya, Ukraina semakin mendekat ke negara-negara Barat melalui hubungan dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Kondisi tersebut dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruh serta keamanan negaranya di kawasan Eropa Timur.
Ketegangan semakin meningkat pada tahun 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan yang menggulingkan pemerintahan Ukraina yang dinilai dekat dengan Moskow. Pada tahun yang sama, Rusia menganeksasi Krimea dan konflik bersenjata pecah di wilayah Donbas antara militer Ukraina dan kelompok separatis yang mendapat dukungan dari Rusia. Sejak saat itu, hubungan kedua negara terus memburuk.
Berbagai upaya diplomasi dan perundingan damai sebenarnya telah dilakukan oleh sejumlah pihak internasional, namun belum mampu menghasilkan penyelesaian permanen. Konflik mencapai titik puncak ketika Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan operasi militer pada Februari 2022 dengan alasan melindungi warga berbahasa Rusia dan mencegah perluasan NATO di dekat perbatasan Rusia.
Sebagai respons, negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia dan meningkatkan bantuan militer maupun finansial untuk Ukraina. Hingga kini, perang masih terus berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Di tengah situasi tersebut, jalur diplomasi tetap diupayakan. Amerika Serikat mencoba berperan dalam proses mediasi, sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terus mendorong pembicaraan damai, termasuk membuka peluang keterlibatan Turki sebagai mediator.
Meski demikian, pihak Kremlin menegaskan bahwa pertemuan langsung antara Putin dan Zelenskyy hanya dapat dilakukan apabila kedua pihak telah mencapai kesepahaman awal yang jelas. Sampai saat ini, proses menuju perdamaian masih menghadapi tantangan yang besar.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.