Polisi AS Selidiki Motif Kebencian dalam Penembakan di Masjid San Diego
Polisi melakukan penyelidiki mengenai kemungkinan motif kebencian dalam penembakan massal di masjid San Diego Amerika Serikat.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Ringkasan Berita:
- Polisi San Diego menyelidiki penembakan di Islamic Center of San Diego sebagai dugaan kejahatan kebencian terhadap umat Islam.
- Serangan yang dilakukan dua remaja berusia 17 dan 19 tahun itu menewaskan tiga warga sipil, termasuk petugas keamanan masjid bernama Amin, sebelum pelaku ditemukan tewas bunuh diri.
- Polisi dan FBI menemukan dugaan tulisan anti-Islam serta unsur supremasi ras di kendaraan pelaku.
TRIBUNNEWS.COM - Kepolisian San Diego menyatakan insiden penembakan Islamic Center of San Diego sedang diselidiki sebagai kemungkinan kejahatan kebencian terhadap umat Islam.
Kepala Kepolisian San Diego, Scott Wahl, mengatakan dua pelaku berusia 17 dan 19 tahun datang ke kompleks pusat Islam terbesar di wilayah San Diego County itu lalu melepaskan tembakan ke arah area luar masjid.
Korban tewas terdiri dari tiga warga sipil, termasuk seorang petugas keamanan masjid, serta dua pelaku penembakan yang masih berusia remaja.
“Ketika petugas tiba sekitar pukul 11.45 siang, kami menemukan tiga orang dewasa tewas di depan pusat tersebut,” kata Wahl dalam konferensi pers, Senin (18/5/2026) waktu setempat.
Salah satu korban tewas diketahui bernama Amin, petugas keamanan masjid yang telah bekerja selama puluhan tahun di pusat Islam tersebut.
Polisi menyebut tindakannya kemungkinan berhasil mencegah korban yang lebih besar.
“Dia selalu menyambut orang dengan ucapan ‘Assalamu alaykum’. Dia orang yang sangat baik,” kata Tamer Bar, jamaah masjid yang rutin beribadah di lokasi itu sejak pindah dari Gaza ke Amerika Serikat pada 2006.
Tak lama setelah penembakan terjadi, polisi menerima laporan tambahan mengenai suara tembakan beberapa blok dari lokasi utama.
Saat penyisiran dilakukan, petugas menemukan kedua tersangka tewas di dalam sebuah mobil di tengah jalan.
Polisi menduga keduanya mengakhiri hidup mereka menggunakan senjata api, seperti diberitakan Al Jazeera.
Baca juga: Penembakan Massal di Oklahoma: 12 Orang Dilarikan ke RS, Pelaku Masih Buron
Sumber penegak hukum yang dikutip media AS menyebut penyidik menemukan tulisan anti-Islam, ujaran kebencian, serta dokumen yang mengandung unsur supremasi ras di dalam kendaraan para pelaku.
Salah satu senjata yang digunakan juga diduga berasal dari rumah orang tua salah satu tersangka.
Meski demikian, pihak berwenang mengatakan motif pasti serangan masih terus didalami oleh penyidik bersama FBI.
Penembakan tersebut memicu kepanikan besar karena terjadi saat kegiatan sekolah yang berada di dalam kompleks masjid masih berlangsung.
Sekolah Al-Rashid yang berada di bawah naungan pusat Islam itu memiliki siswa dari tingkat dasar hingga menengah.