Beredar Video Aktivis Sumud Flotilla Dipaksa Sujud dan Tangan Terikat, Ini Kata Netanyahu
Video aktivis Global Sumud Flotilla dipaksa sujud dengan tangan terikat, Netanyahu janji pulangkan relawan secepatnya.
Editor:
Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
- Cuplikan video memperlihatkan aktivis Global Sumud Flotilla dipaksa sujud dengan tangan terikat usai intersep Israel di Mediterania.
- Ben Gvir menyebut mereka “pendukung teroris”, sementara Miriam Regev menegaskan layak dipenjara.
- GSF klaim 420 peserta ditahan.
- Netanyahu akui perlakuan Ben Gvir tak sesuai norma Israel dan berjanji memulangkan relawan
TRIBUNNEWS.COM - Beredar cuplikan video dari operasi intersep di Laut Mediterania memicu kecaman luas setelah memperlihatkan aktivis Global Sumud Flotila dipaksa sujud dengan tangan terikat.
Seperti diberitakan Kompas.tv pada Kamis (21/5/2026), rekaman video terbaru memperlihatkan para aktivis yang dilaporkan berasal dari Global Sumud Flotilla (GSF) berlutut di tanah dengan tangan terikat, dikelilingi aparat keamanan Israel.
Peristiwa ini terjadi setelah pasukan Israel mencegat hampir 50 kapal flotilla yang berlayar menuju Gaza di perairan internasional pada Senin (18/5/2026).
Ketegangan meningkat pada Rabu (20/5/2026) ketika Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, menghadapi ratusan aktivis flotilla Gaza yang ditahan di Pelabuhan Ashdod.
Rekaman memperlihatkan para tahanan dengan tangan diborgol berlutut di lantai saat Ben Gvir berjalan melewati mereka sambil mengibarkan bendera Israel.
Ia berteriak: “Mereka datang dengan penuh kebanggaan sebagai pahlawan besar. Lihat bagaimana mereka sekarang… bukan pahlawan, hanya pendukung teroris.”
Menteri Transportasi Israel, Miriam Regev, menuduh para tahanan mendukung “terorisme” dan menegaskan mereka pantas dipenjara.
“Tidak ada kaitannya sama sekali dengan bantuan kemanusiaan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa para aktivis akan dikirim kembali ke negara asal mereka.
Menurut GSF, lebih dari 420 peserta dari 40 negara telah ditahan dalam operasi tersebut.
Video penahanan ini memicu kecaman dunia internasional. Italia dan Prancis bahkan memanggil duta besar Israel di masing-masing negara untuk meminta penjelasan terkait perlakuan terhadap para aktivis flotilla.
Baca juga: Kesaksian M Yasin, Jurnalis RI yang Saksikan Penyerbuan Brutal Israel di Tragedi Mavi Marmara 2010
Respons Benjamin Netanyahu
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya buka suara terkait penculikan relawan Global Sumud Flotilla (GSF) yang hendak menuju Jalur Gaza, Palestina.
Dalam pernyataan resmi di media sosial X pada Rabu (20/5/2026), Netanyahu mengakui bahwa penanganan para aktivis oleh Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir tidak sejalan dengan nilai-nilai dan norma Israel. Ia berjanji akan memulangkan para relawan secepatnya.
“Cara Menteri Ben Gvir menangani para aktivis armada tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai dan norma-norma Israel. Saya telah menginstruksikan pihak berwenang terkait untuk mendeportasi para provokator sesegera mungkin,” tulis Netanyahu.
Meski demikian, Netanyahu menegaskan bahwa Israel memiliki hak penuh untuk mencegah GSF memasuki perairan teritorial Israel.
Ia menyebut konvoi kemanusiaan tersebut sebagai “armada provokatif” dan para relawannya sebagai “provokator pendukung teroris Hamas.”