Intelijen AS: Iran Diam-Diam Bangun Mesin Perang, Kebut Produksi Drone Tempur
Intelijen AS ungkap Iran bangkit lebih cepat, produksi drone tempur kembali jalan. Ancaman regional meningkat di tengah ketegangan AS-Israel.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Bobby Wiratama
Kemampuan tersebut dianggap sangat penting karena memungkinkan Iran tetap memiliki daya tekan terhadap jalur pelayaran internasional di Strait of Hormuz, selat strategis yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Setiap gangguan di kawasan itu berpotensi memicu lonjakan harga energi global dan mengganggu rantai pasokan internasional.
Situasi tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ancaman dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berulang kali menyatakan siap melanjutkan operasi militer terhadap Iran apabila pembicaraan damai antara Washington dan Teheran gagal mencapai kesepakatan.
Trump bahkan sempat mengungkapkan bahwa dirinya hampir kembali memerintahkan serangan udara terhadap Iran dalam waktu singkat sebelum akhirnya memutuskan memberi kesempatan lebih lanjut bagi jalur diplomasi dan negosiasi internasional.
Namun di tengah upaya diplomatik tersebut, laporan intelijen terbaru Amerika Serikat justru menunjukkan bahwa perang yang berlangsung sejauh ini belum mampu menghancurkan kekuatan militer Iran secara total.
Penilaian intelijen menyebut serangan AS dan Israel memang berhasil melemahkan sejumlah fasilitas strategis Iran, tetapi tidak sepenuhnya melumpuhkan kemampuan pertahanan negara tersebut. Sebagian infrastruktur militer disebut masih dapat dipulihkan dan kembali digunakan dalam waktu relatif cepat.
Artinya, Iran dinilai masih memiliki kapasitas besar untuk bangkit dan memperkuat kembali kekuatan militernya lebih cepat dari perkiraan awal Washington maupun Tel Aviv.
Kondisi inilah yang membuat ketegangan di kawasan Timur Tengah diperkirakan masih akan terus berlangsung, terutama jika proses negosiasi damai kembali mengalami kebuntuan.
(Tribunnews.com / Namira)