5 Populer Internasional: Profil Mahmoud Ahmadinejad - Netanyahu dan Trump Cekcok soal Iran
Rangkuman berita populer internasional, di antaranya Donald Trump disebut mempertimbangkan Mahmoud Ahmadinejad sebagai calon pemimpin Iran
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Ayu Miftakhul Husna
Ringkasan Berita:
- Donald Trump disebut mempertimbangkan Mahmoud Ahmadinejad sebagai calon pemimpin Iran setelah perang, meski keberadaan Ahmadinejad masih simpang siur.
- Hubungan Trump dan Netanyahu memanas karena perbedaan strategi, dengan Israel mendesak serangan militer segera dilanjutkan sementara Trump memilih jalur diplomasi.
- Situasi di Selat Hormuz juga tegang setelah IRGC mengawal 26 kapal keluar-masuk jalur vital dunia di tengah blokade AS.
TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah isu internasional menjadi perhatian utama dalam 24 jam terakhir.
Donald Trump disebut mempertimbangkan Mahmoud Ahmadinejad sebagai sosok untuk memimpin Iran setelah perang.
Ahmadinejad adalah mantan presiden Iran yang dikenal dengan pandangan garis keras dan kontroversial.
Sementara itu, Trump dan Netanyahu terlibat percakapan telepon tegang terkait strategi menghadapi Iran. Netanyahu mendesak AS melanjutkan serangan militer, sementara Trump memilih menunda operasi.
Berikut berita populer Tribunnews di kanal Internasional.
1. Siapa Mahmoud Ahmadinejad? Kini Terungkap Pilihan Utama Trump untuk Pimpin Iran setelah Perang
Pergantian rezim di Iran menjadi salah satu tujuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ketika pasukan AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Pada hari-hari awal serangan tersebut, Trump berulang kali menyarankan agar pemimpin Iran berikutnya harus berasal "dari dalam Iran".
Kini barulah terungkap bahwa Trump memiliki sosok yang sangat spesifik untuk posisi tersebut, yakni Mahmoud Ahmadinejad (69).
Mahmoud Ahmadinejad merupakan mantan presiden Iran yang dikenal karena pandangan garis keras, anti-Israel, dan anti-Amerika.
Rencana tersebut dikembangkan oleh Israel, menurut laporan The New York Times pada Selasa (19/5/2026).
Laporan itu menyiratkan bahwa Ahmadinejad terluka dalam serangan 28 Februari.
Ahmadinejad disebut telah dimintai pendapat mengenai proposal tersebut, tetapi situasi di lapangan dengan cepat menjadi kacau.
Serangan 28 Februari itu dirancang untuk membebaskannya dari tahanan rumah.
Ia selamat dari serangan tersebut, tetapi para pejabat Amerika dan seorang rekan Ahmadinejad mengatakan bahwa insiden itu membuatnya kecewa terhadap rencana perubahan rezim.
Sejak saat itu, Ahmadinejad belum terlihat di depan publik dan keberadaan serta kondisinya saat ini belum diketahui.
Namun, NY Post dalam artikel tertanggal 1 Maret 2026 melaporkan bahwa Mahmoud Ahmadinejad tewas dalam serangan Israel.
Bagaimana Ahmadinejad direkrut untuk terlibat dalam rencana perubahan rezim masih belum diketahui.
Meski demikian, The New York Times melaporkan bahwa perekrutannya merupakan bagian dari rencana bertahap Israel untuk menggulingkan pemerintahan teokratis Iran.
Beberapa pejabat Amerika dilaporkan skeptis terhadap upaya mengembalikan Ahmadinejad ke tampuk kekuasaan.
2. Beredar Video Aktivis Sumud Flotilla Dipaksa Sujud dan Tangan Terikat, Ini Kata Netanyahu
Beredar cuplikan video dari operasi intersep di Laut Mediterania memicu kecaman luas setelah memperlihatkan aktivis Global Sumud Flotila dipaksa sujud dengan tangan terikat.
Seperti diberitakan Kompas.tv pada Kamis (21/5/2026), rekaman video terbaru memperlihatkan para aktivis yang dilaporkan berasal dari Global Sumud Flotilla (GSF) berlutut di tanah dengan tangan terikat, dikelilingi aparat keamanan Israel.
Peristiwa ini terjadi setelah pasukan Israel mencegat hampir 50 kapal flotilla yang berlayar menuju Gaza di perairan internasional pada Senin (18/5/2026).
Ketegangan meningkat pada Rabu (20/5/2026) ketika Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, menghadapi ratusan aktivis flotilla Gaza yang ditahan di Pelabuhan Ashdod.
Rekaman memperlihatkan para tahanan dengan tangan diborgol berlutut di lantai saat Ben Gvir berjalan melewati mereka sambil mengibarkan bendera Israel.
Ia berteriak: “Mereka datang dengan penuh kebanggaan sebagai pahlawan besar. Lihat bagaimana mereka sekarang… bukan pahlawan, hanya pendukung teroris.”
Menteri Transportasi Israel, Miriam Regev, menuduh para tahanan mendukung “terorisme” dan menegaskan mereka pantas dipenjara.
“Tidak ada kaitannya sama sekali dengan bantuan kemanusiaan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa para aktivis akan dikirim kembali ke negara asal mereka.
Menurut GSF, lebih dari 420 peserta dari 40 negara telah ditahan dalam operasi tersebut.
Video penahanan ini memicu kecaman dunia internasional. Italia dan Prancis bahkan memanggil duta besar Israel di masing-masing negara untuk meminta penjelasan terkait perlakuan terhadap para aktivis flotilla.
3. Beri Kesempatan Terakhir ke Iran, Trump: Saya Ingin Lihat Sedikit Orang yang Terbunuh, Bukan Banyak
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan ia akan memberikan kesempatan terakhir dan final kepada upaya diplomatik untuk mengakhiri perang melawan Iran secara permanen.
Pernyataan Donald Trump disampaikan di tengah pembicaraan yang ia gambarkan berada pada "tahap akhir."
Pakistan telah memainkan peran kunci dalam memediasi upaya untuk mengakhiri perang AS-Israel di Iran.
Ketegangan regional memuncak pada 28 Februari 2026 ketika AS dan Israel melancarkan serangan mendadak terhadap Iran, yang mendorong Iran untuk membalas dengan rentetan drone dan rudal yang menghantam target di seluruh wilayah tersebut sementara Teheran menutup Selat Hormuz.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.
Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu sambil tetap memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang berlayar ke atau dari pelabuhan Iran melalui jalur air strategis tersebut.
"Kita akan mencoba sekali ini saja. Saya tidak terburu-buru. Anda tidak pernah berpikir, 'Oh, pemilihan paruh waktu, saya terburu-buru.' Saya tidak terburu-buru. Saya hanya, idealnya, saya ingin melihat sedikit orang yang terbunuh, bukan banyak," kata Trump kepada wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews saat ia bersiap berangkat ke Connecticut, Rabu (20/5/2026), dilansir Anadolu Agency.
"Saya hanya bertanya-tanya apakah mereka benar-benar mengutamakan kepentingan rakyat, karena beberapa hal yang mereka lakukan, menurut saya, berarti mereka tidak mengutamakan kepentingan rakyat, dan mereka harus mengutamakan kepentingan rakyat. Saat ini ada banyak kemarahan di Iran, karena orang-orang hidup dalam kondisi yang sangat buruk," tambahnya.
Ketika ditanya oleh seorang reporter apakah ia "sependapat tentang Iran" dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Trump menjawab singkat: "Ya."
"Dia akan melakukan apa pun yang saya inginkan. Dia adalah pria yang sangat, sangat baik," kata Trump.
Kemudian, saat berpidato di hadapan para lulusan Akademi Penjaga Pantai di Connecticut, Trump mengulangi klaimnya tentang penghancuran militer Iran.
4. Netanyahu–Trump Cekcok soal Iran, Israel Desak Serangan Militer AS Segera Dilanjutkan
Hubungan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan memanas setelah keduanya terlibat percakapan telepon yang tegang terkait strategi menghadapi Iran.
Percakapan panas yang berlangsung pada Selasa (19/5/2025) mencerminkan perbedaan besar antara Washington dan Tel Aviv mengenai langkah selanjutnya dalam konflik dengan Teheran.
Menurut pejabat Amerika Serikat yang dikutip CNN International, Netanyahu mendesak Trump untuk segera melanjutkan operasi militer terhadap Iran. Namun Trump memilih menahan serangan dan tetap memberi ruang bagi jalur diplomasi.
Perbedaan pandangan ini memperlihatkan mulai munculnya retakan dalam koordinasi strategis antara AS dan Israel di tengah meningkatnya ketegangan Timur Tengah.
Sebelumnya, Trump dan Netanyahu juga melakukan pembicaraan pada Minggu lalu. Dalam percakapan itu, Trump disebut memberi sinyal bahwa Amerika Serikat kemungkinan akan meluncurkan serangan terarah baru terhadap Iran pada awal pekan ini.
Operasi tersebut bahkan dilaporkan telah disiapkan dengan nama baru, yakni “Operation Sledgehammer”.
Namun situasi berubah drastis hanya sekitar 24 jam kemudian. Trump secara mengejutkan memutuskan menunda serangan tersebut setelah mendapat permintaan dari sejumlah sekutu utama Amerika di kawasan Teluk.
Netanyahu Khawatir Iran Diuntungkan oleh Penundaan
Keputusan tersebut sontak memicu kekecewaan besar di pihak Israel. PM Netanyahu khawatir keputusan Amerika Serikat menunda rencana serangan terhadap Iran justru akan memberi keuntungan strategis bagi Teheran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah.
Kekhawatiran utama Netanyahu muncul karena Israel meyakini Iran dapat memanfaatkan waktu penundaan tersebut untuk memperkuat kemampuan militernya, mempercepat program pertahanan, hingga melanjutkan pengembangan yang berkaitan dengan program nuklirnya.
5. Menerjang Blokade AS, IRGC Kawal Ketat 26 Kapal Keluar-Masuk Selat Hormuz dalam 24 Jam
Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat.
Terkini, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah mengoordinasikan perjalanan 26 kapal keluar-masuk jalur laut strategis tersebut dalam 24 jam terakhir.
Al Jazeera melaporkan kapal-kapal itu terdiri dari tanker minyak, kapal kontainer, hingga kapal dagang yang melintas setelah mendapat izin dan pengawalan dari Angkatan Laut IRGC.
“Lalu lintas melalui Selat Hormuz dilakukan dengan izin dan berkoordinasi dengan Angkatan Laut IRGC,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip kantor berita ISNA.
Iran juga menerbitkan peta baru wilayah kontrol maritim di Selat Hormuz melalui Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA).
Zona itu disebut membentang dari Kuh-e Mubarak di Iran hingga wilayah selatan Fujairah, Uni Emirat Arab, serta mencakup area dari Pulau Qeshm hingga Umm al-Quwain.
Langkah tersebut mempertegas klaim Iran bahwa mereka masih memegang kendali atas jalur energi paling vital di dunia meski mendapat tekanan besar dari Amerika Serikat.
Dilansir Reuters, sekitar seperlima ekspor energi global sebelumnya melewati Selat Hormuz sebelum perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari 2026.
Sebagai respons terhadap blokade Iran di jalur tersebut, pemerintahan Presiden Donald Trump memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang berdampak langsung pada ekspor minyak Teheran.
Situasi itu kini menekan pasar energi global dan memunculkan ancaman baru terhadap rantai pasok pangan dunia.
(Tribunnews.com)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.