Intel AS: Pemimpin Tertinggi Iran Bersembunyi di Lokasi yang Dirahasiakan
Intelijen AS menyebut Mojtaba Khamenei bersembunyi di lokasi rahasia dan sulit dihubungi bahkan oleh pejabat Iran sendiri.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
“Ketika sebuah keputusan diambil di bidang diplomasi, semua lembaga, platform, dan gerakan harus mendukungnya sehingga suara yang tunggal dan koheren dapat disampaikan kepada dunia dari Republik Islam.”
Pezeshkian juga mencatat bahwa salah satu tujuan utama musuh selama perang agresi baru-baru ini adalah membungkam suara kebenaran dan narasi pencerahan IRIB.
Ia turut menyampaikan terima kasih kepada staf media nasional, terutama mereka yang terus hadir di lapangan dan meliput peristiwa secara langsung.
“Jika kita semua bergerak bersama dalam kerangka kerja yang ditentukan oleh pedoman Pemimpin dan menjaga solidaritas nasional, musuh tidak akan pernah mencapai tujuan mereka terhadap negara ini,” tegas Pezeshkian.
Selain itu, ia mengecam sejumlah kelompok yang bermusuhan dan anti-Iran yang secara terbuka berharap AS dan rezim Zionis dapat menghancurkan serta memecah belah negara tersebut. Ia mengatakan mereka harus dimintai pertanggungjawaban di hadapan hati nurani bangsa.
Agresi ilegal AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari melalui serangan udara yang menewaskan pejabat dan komandan senior Iran.
Angkatan bersenjata Iran kemudian melancarkan 100 gelombang serangan balasan terhadap target Amerika dan Israel yang dianggap sensitif dan strategis di kawasan tersebut.
Pada 8 April, 40 hari setelah perang dimulai, gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan mulai berlaku.
Namun, putaran pertama negosiasi Iran-AS gagal mencapai kesepakatan.
AS secara sepihak memperpanjang gencatan senjata setelah masa berlakunya berakhir, tetapi memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran.
Iran menahan diri untuk tidak berkomitmen pada putaran kedua pembicaraan.
Pihak berwenang menyebut tuntutan AS yang berlebihan dan pembajakan terhadap kapal-kapal Iran sebagai dua hambatan utama untuk mengakhiri perang.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)