Sentimen Positif Terkait Perundingan Iran-AS: Ringgit Menguat, Bagaimana dengan Rupiah?
Ringgit Malaysia menguat terhadap dolar AS di tengah optimisme negosiasi Iran-AS dan potensi pembukaan kembali Selat Hormuz.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Ringkasan Berita:
- Ringgit Malaysia menguat terhadap dolar AS di tengah optimisme negosiasi Iran-AS dan potensi pembukaan kembali Selat Hormuz.
- Sementara itu, rupiah justru melemah dibandingkan posisi penutupan pekan lalu menurut data Bank Indonesia.
- Nilai tukar mata uang dipengaruhi oleh faktor penawaran dan permintaan, inflasi, suku bunga, hingga kondisi geopolitik global.
TRIBUNNEWS.COM - Mata uang Ringgit Malaysia dibuka lebih tinggi terhadap dolar AS pada Senin (25/5/2026), didukung sentimen pasar yang membaik di tengah optimisme investor atas kemungkinan kemajuan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, The Star melaporkan.
Pada pukul 08.00 waktu setempat, mata uang Ringgit menguat menjadi 3,9635/3,9705 terhadap dolar AS dibandingkan penutupan Jumat di level 3,9655/3,9700.
Laporan menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Iran sedang bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan yang dapat mengarah pada pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak global utama yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Dr. Mohd Afzanizam Abdul Rashid, mengatakan Indeks Dolar AS (DXY) turun 0,25 persen menjadi 98,987 poin, sementara indeks berjangka S&P 500 naik 0,61 persen menjadi 7.536,50 poin, yang menunjukkan sentimen risk-on di kalangan pedagang dan investor.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dan Brent turun lebih dari lima persen menjadi 91,75 dolar AS dan 98,33 dolar AS per barel.
“Dalam kondisi seperti ini, ringgit dapat menguat lebih lanjut di tengah sentimen pasar yang membaik. Ringgit terhadap dolar AS dapat bergerak menuju RM3,95."
“Indikator makroekonomi yang relatif lebih baik, seperti surplus neraca transaksi berjalan yang membaik dan defisit fiskal yang menyempit pada kuartal pertama 2026, menunjukkan risiko Malaysia menjadi ekonomi defisit ganda tetap rendah,” katanya kepada Bernama.
Rupiah Masih Melemah
Sementara itu, nilai tukar rupiah di pasar spot masih melemah pada awal perdagangan Senin (25/5/2026).
Mengutip Kompas.com, Rupiah sempat dibuka terdepresiasi 0,05 persen ke level Rp 17.726 per dollar AS per pukul 09.21 WIB.
Namun, kurs rupiah menguat tipis pada pukul 09.36 WIB ke posisi Rp 17.715 atau terapresiasi 0,01 persen.
Rupiah menjadi satu-satunya mata uang di kawasan Asia yang terpantau melemah terhadap dollar AS pada perdagangan pagi ini.
Sementara itu, mayoritas mata uang Asia lainnya bergerak di zona hijau.
Baca juga: Prabowo Targetkan Nilai Tukar Rupiah Rp16.800-17.500 pada 2027, Ekonom: Banyak PR Besar Pemerintah
Mengutip data resmi Bank Indonesia pada Senin (25/5/2026) pukul 11.48 WIB, Rupiah berada di level 17.805,58 per dolar AS (jual) dan 17.628,42 per dolar AS (beli).
Nilai tersebut lebih lemah dibandingkan Jumat (22/5/2026) pekan lalu yang masih berada di kisaran 17.761,37 per dolar AS (jual) dan 17.584,63 per dolar AS (beli).
Sebagai informasi, nilai tukar berubah sepanjang hari perdagangan.
Menentukan Nilai Tukar
Mengutip situs layanan pengiriman uang internasional Western Union, nilai tukar merupakan perbandingan nilai satu mata uang dengan mata uang lainnya.
Nilai tukar mengukur berapa banyak satu mata uang yang dibutuhkan untuk membeli satu unit mata uang lain.
Nilai tukar di pasar valuta asing global ditentukan oleh penawaran dan permintaan mata uang.
Faktor-faktor ekonomi seperti inflasi, suku bunga, dan peristiwa geopolitik turut memengaruhi kekuatan pasar tersebut.
Faktor Apa Saja yang Menentukan Nilai Tukar?
Faktor utama dalam menentukan nilai tukar mata uang suatu negara adalah penawaran dan permintaan di pasar valuta asing global.
Singkatnya, harga mata uang akan naik jika permintaannya tinggi, dan akan turun jika permintaannya rendah.
Selain itu, dinamika penawaran dan permintaan dipengaruhi oleh berbagai faktor politik dan ekonomi.
Faktor-faktor tersebut meliputi tingkat inflasi, suku bunga, pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik, serta peristiwa geopolitik.
Bagaimana Pemerintah Menentukan Nilai Tukar?
Saat ini, sebagian besar mata uang utama dunia menggunakan sistem nilai tukar mengambang (floating exchange rates).
Dalam sistem tersebut, kekuatan pasar menentukan nilai mata uang sehingga kemampuan pemerintah untuk mengatur nilai tukar menjadi terbatas.
Meski demikian, pemerintah terkadang melakukan intervensi untuk mencapai tujuan ekonomi tertentu.
Untuk itu, pemerintah dan bank sentral menggunakan instrumen kebijakan moneter seperti penyesuaian suku bunga, pembelian atau penjualan mata uang di pasar terbuka, serta pengendalian modal.
Bagaimana Bank Menentukan Nilai Tukar?
Bank komersial memainkan peran utama dalam menentukan nilai tukar global.
Mereka menjalankan fungsi tersebut di pasar valuta asing antarbank global, tempat penawaran dan permintaan mata uang membentuk nilai tukar acuan.
Bank juga terlibat dalam berbagai aktivitas yang memengaruhi nilai tukar mata uang.
Aktivitas tersebut meliputi perdagangan mata uang secara aktif, pemenuhan pesanan, pengelolaan risiko bagi klien, dan berbagai layanan lainnya.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.