DPR Semprot Gubernur BI Imbas Sebut Rupiah Stabil saat Dolar Tembus Rp17.600: Harus Akui Ada Masalah
Harris meminta agar BI jujur mengakui jika ada masalah serius yang dialami sehingga nilai tukar rupiah semakin melemah hingga tembus Rp17.676.
Penulis:
Rifqah
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Ringkasan Berita:
- Dalam rapat kerja bersama komisi XI DPR di Jakarta pada Senin (18/5/2026), Perry menjelaskan BI tidak menilai stabilitas dari angka kurs semata, melainkan dari gejolak atau volatilitas pergerakannya.
- Harris pun mempertanyakan data dari Perry yang menyebutkan nilai rupiah saat ini masih stabil, padahal rupiah sudah tembus sampai Rp17.676 hingga dapat sejumlah ejekan.
- Harris meminta agar BI jujur mengakui jika ada masalah serius yang dialami sehingga nilai tukar rupiah semakin melemah.
TRIBUNNEWS.COM - Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Harris Turino, mencecar Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, terkait melemahnya nilai tukar rupiah yang saat ini sudah menyentuh level terendah di angka Rp17.676 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sebelumnya, dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Jakarta pada Senin (18/5/2026), Perry menjelaskan BI tidak menilai stabilitas dari angka kurs semata, melainkan dari gejolak atau volatilitas pergerakannya.
Harris pun mempertanyakan data dari Perry yang menyebutkan nilai rupiah saat ini masih stabil, padahal rupiah sudah tembus sampai Rp17.676 hingga dapat sejumlah ejekan.
"Kita tahu bahwa tadi teman-teman mengatakan kursnya sudah 17.600, bahkan muncul ejekan kalau 17.845, maka Indonesia merdeka katanya. Tetapi di presentasi Bapak (Perry), Bapak mengatakan bahwa rupiah stabil, relatif stabil kalau dibandingkan dengan negara yang lain," ucapnya, Senin, dikutip dari YouTube iNews.
Harris menegaskan bahwa masyarakat saat ini masih banyak yang merasakan ekonomi melemah, meski BI sudah melakukan banyak hal untuk mengatasinya.
Namun, sampai sekarang nilai tukar rupiah masih terus melemah.
"BI sudah banyak sekali melakukan langkah. Salah satunya adalah intervensi besar-besaran sehingga menurunkan cadangan devisa dari 156 menjadi 146 billion dollars."
"SRBI sudah dikerek menjadi 6,41 persen, BI juga membeli SBN Rp332 triliun di tahun 2025 dan sekarang tambah 133 triliun lagi," paparnya.
Selain itu, kata Harris, BI juga melakukan pengetatan pembelian dolar dari Rp50.000 ke 25.000.
Oleh karenanya, Harris mempertanyakan mengapa nilai tukar rupiah masih melemah saat BI sudah melakukan banyak hal yang mereka bisa.
Untuk itu, Harris meminta agar BI jujur mengakui jika ada masalah serius yang dialami sehingga nilai tukar rupiah semakin melemah.
Baca juga: Gubernur BI Yakinkan DPR, Rupiah Akan Kembali Menguat di Juli 2026
"Kenapa rupiah tetap berlanjut mengalami depresiasi? Kemungkinan penyebabnya adalah yang Bapak (Perry) katakan di presentasi tekanan global sangat besar. Ini memang diakui tekanan global sangat besar."
"Tetapi harus diakui juga bahwa ada masalah serius di domestik, Pak, ini harus jujur diakui. Ada masalah di fiskal, ada masalah di defisit, di current account, ada arus modal keluar dalam jumlah besar, dan ada masalah di kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia," tegas Perry.
Harris lantas mengatakan bahwa rupiah itu unbiased predictor, yakni pergerakan nilai tukar rupiah dianggap mencerminkan atau memberi sinyal kondisi ekonomi yang sebenarnya.