Kafe di Kyiv Hancur Dihantam Rudal Rusia jadi Viral, Warga Malah Antre Kopi
Sebuah kedai kopi di Kyiv bahkan menjadi simbol perlawanan sipil setelah tetap buka meski rusak akibat serangan Rusia.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
- Perang Rusia–Ukraina memasuki hari ke-1.553 dengan serangan rudal Rusia ke Kyiv yang menewaskan empat orang dan melukai 91 lainnya.
- Meski kota hancur, warga Kyiv tetap beraktivitas normal dan sebuah kedai kopi rusak menjadi simbol perlawanan sipil.
- Ukraina juga membalas dengan menyerang depot minyak Rusia di Bryansk untuk melemahkan logistik militer Moskow.
TRIBUNNEWS.COM - Perang Rusia–Ukraina memasuki hari ke-1.553 pada Selasa (26/5/2026), dengan eskalasi konflik kembali meningkat di berbagai wilayah.
Rusia melancarkan serangan rudal ke Kyiv yang menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai 91 lainnya.
Serangan itu menghancurkan sejumlah kawasan permukiman dan meninggalkan puing bangunan hangus di ibu kota Ukraina.
Meski begitu, aktivitas warga Kyiv tetap berjalan normal di tengah ancaman perang yang terus membayangi.
Sebuah kedai kopi di Kyiv bahkan menjadi simbol perlawanan sipil setelah tetap buka meski rusak akibat serangan Rusia.
Puluhan warga mengantre membeli kopi sebagai bentuk solidaritas terhadap pelaku usaha lokal yang terdampak perang.
Konflik terbuka Rusia dan Ukraina sendiri dimulai pada Februari 2022 setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin, memerintahkan invasi besar-besaran ke Ukraina.
Namun akar ketegangan kedua negara sebenarnya telah berlangsung sejak 2014 saat Rusia mencaplok Krimea dan konflik bersenjata di Donbas pecah.
Baca juga: Ukraina Balas Rusia Sehari Usai Rudal Oreshnik Hantam Kyiv: Korban Berjatuhan di Belgorod-Donetsk
Hingga kini, perang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir karena Moskow dan Kyiv masih berselisih soal wilayah pendudukan, keamanan, dan dukungan Barat untuk Ukraina.
Berikut rangkuman perkembangan terbaru perang Rusia–Ukraina pada hari ke-1.553, Selasa (26/5/2026):
Lavrov Ultimatum AS Tinggalkan Kyiv
Rusia mulai meningkatkan tekanan diplomatik dan psikologis terhadap Barat di tengah eskalasi perang Ukraina.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mendesak Amerika Serikat (AS) segera mengevakuasi staf kedutaannya dari Kyiv saat berbicara langsung dengan Menlu AS, Marco Rubio, Senin (25/5/2026) waktu setempat.
Moskow sebelumnya mengancam akan melancarkan “serangan sistematis” ke ibu kota Ukraina dan meminta warga asing meninggalkan negara itu.
Ancaman tersebut memicu kekhawatiran baru soal potensi gelombang serangan besar Rusia ke Kyiv dalam waktu dekat.