Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

PBB Gelar Sidang Darurat setelah Israel Perluas Serangan ke Lebanon

Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat setelah Israel memperluas serangan ke Lebanon. Israel membenarkan serangannya atas ancaman keamanan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in PBB Gelar Sidang Darurat setelah Israel Perluas Serangan ke Lebanon
UN/PBB
SIDANG DARURAT PBB - Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat setelah Israel memperluas serangan ke Lebanon pada Senin (1/6/2026). Israel membenarkan serangannya atas ancaman keamanan. Sementara negara lain mengutuk serangan tersebut. 
Ringkasan Berita:
  • Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat setelah Israel memperluas operasi militernya di Lebanon dan Hizbullah meningkatkan serangan ke wilayah Israel.
  • PBB menilai kedua pihak telah memperburuk situasi dan mengancam kesepakatan gencatan senjata.
  • Negara anggota PBB berbeda pandangan soal pihak yang paling bertanggung jawab, sementara semuanya menyerukan deeskalasi dan perlindungan warga sipil.
  • Sekutu Israel, Presiden AS Trump, mengklaim Israel dan Hizbullah telah sepakat menghentikan serangan.

TRIBUNNEWS.COM - Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar sidang darurat atas permintaan Prancis pada Senin, 1 Juni 2026 malam, menyusul meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon selatan.

Pertemuan tersebut digelar setelah militer Israel memperluas operasi daratnya hingga ke wilayah yang lebih dalam di Lebanon, sementara Hizbullah meningkatkan serangan roket, rudal, dan drone ke berbagai wilayah Israel.

Kekhawatiran internasional semakin meningkat setelah pasukan Israel dilaporkan merebut Kastel Beaufort di dekat Nabatiyeh, sebuah lokasi strategis dan simbolis yang pernah menjadi basis militer Israel selama pendudukan Lebanon Selatan pada periode 1982–2000.

Di saat yang sama, serangan di dekat sebuah rumah sakit di Kota Tyre dilaporkan melukai sejumlah tenaga medis.

Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik dan Operasi Perdamaian, Martha Ama Akyaa Pobee, mengatakan situasi di Lebanon saat ini "sangat mengkhawatirkan".

Menurutnya, pasukan Israel terus bergerak ke utara wilayah Lebanon, sementara Hizbullah memperluas jangkauan serangannya lebih jauh ke wilayah Israel.

Pobee menjelaskan bahwa Israel telah meningkatkan operasi militernya dengan bergerak ke utara Sungai Litani, memperluas serangan udara hingga ke Lembah Beqaa dan pinggiran Beirut, serta mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga sipil di sejumlah wilayah.

Rekomendasi Untuk Anda

Sementara itu, Hizbullah terus melancarkan puluhan serangan menggunakan roket, rudal antitank, drone serat optik, hingga rudal permukaan-ke-udara terhadap target-target Israel.

Menurut PBB, perkembangan tersebut mengancam kesepakatan penghentian permusuhan yang diumumkan Amerika Serikat pada 16 April lalu dan berisiko menghancurkan upaya diplomasi yang sedang berlangsung.

Pobee juga menegaskan bahwa keberadaan pasukan Israel di utara Garis Biru (Blue Line) merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon dan Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB.

Baca juga: Iran Tangguhkan Negosiasi dengan AS Gara-gara Israel Serang Lebanon, Apa Kata Trump?

Di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa Hizbullah dan kelompok bersenjata non-negara lainnya harus melucuti senjata karena Angkatan Bersenjata Lebanon merupakan satu-satunya kekuatan militer yang sah di negara tersebut.

Israel: Kami Terpaksa Bertindak

Dalam sidang tersebut, Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, membela operasi militer negaranya. Menurutnya, Israel tidak memiliki pilihan lain selain mengambil tindakan setelah Hizbullah kembali menyerang wilayah Israel pada 2 Maret.

Danon menuding Iran terus menggunakan Hizbullah sebagai kelompok proksi untuk menyerang Israel dari wilayah Lebanon. Ia mengatakan serangan Hizbullah dalam beberapa hari terakhir merupakan yang paling intens sejak gencatan senjata diberlakukan pada April lalu.

"Untuk warga Israel di wilayah utara, tidak pernah ada gencatan senjata yang sesungguhnya karena Hizbullah tidak pernah benar-benar berhenti menembakkan roket dan drone," ujarnya, dikutip dari laman UN.

Danon juga menyebut ribuan siswa Israel masih tidak dapat bersekolah akibat ancaman serangan yang terus berlangsung.

Lebanon: Israel Lakukan Kejahatan Perang

Perwakilan Lebanon, Ahmad Arafa, menyampaikan kritik keras terhadap Israel. Ia menuduh Israel memanfaatkan situasi regional yang sedang tegang untuk meningkatkan operasi militer secara berbahaya.

Menurut Arafa, Israel terus melakukan penghancuran sistematis dengan menargetkan rumah sakit, tenaga medis, jurnalis, sekolah, aparat keamanan, pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL), tempat ibadah, hingga situs-situs bersejarah yang menjadi bagian dari identitas nasional Lebanon.

Ia menegaskan bahwa sebagian tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang dan menilai kurangnya akuntabilitas internasional telah membuat pelanggaran serupa terus berulang. Lebanon mendesak Israel segera berkomitmen pada gencatan senjata agar pemerintah Lebanon dapat memperluas kontrol negara ke seluruh wilayahnya.

Amerika Serikat: Perdamaian Bisa Tercapai Jika Hizbullah Berhenti Menyerang

Perwakilan Amerika Serikat, Michael G. Waltz, menegaskan bahwa jalan menuju perdamaian masih terbuka. Ia memuji upaya diplomasi yang dipimpin Presiden Donald Trump dan menyebut pemerintah Lebanon telah menunjukkan keberanian dalam menghadapi krisis.

Menurut Waltz, konflik dapat segera mereda apabila Hizbullah menghentikan serangannya terhadap Israel. Ia juga menekankan pentingnya pemerintah Lebanon mengambil kendali penuh atas seluruh wilayah negaranya serta menghentikan pengaruh Iran di Lebanon.

"Jika Hizbullah segera menghentikan serangannya seperti yang dijanjikan, maka deeskalasi dan perdamaian akan datang dengan cepat," kata Waltz.

Bahrain Sambut Upaya Gencatan Senjata

Perwakilan Bahrain, Jamal Fares Alrowaiei, menyambut baik laporan mengenai kesepakatan penghentian serangan antara Israel dan Hizbullah yang diumumkan Presiden Donald Trump saat sidang berlangsung.

Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi awal yang positif menuju deeskalasi konflik dan memperkuat stabilitas serta keamanan Lebanon maupun kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.

Denmark Ingatkan Bahaya Pelanggaran Kedaulatan

Duta Besar Denmark, Christina Markus Lassen, menegaskan bahwa penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah merupakan fondasi utama tatanan internasional.

Ia memperingatkan bahwa pelanggaran terhadap prinsip-prinsip tersebut dapat memicu dampak berantai yang tidak hanya mengancam Lebanon, tetapi juga stabilitas kawasan dan kredibilitas Dewan Keamanan PBB.

Rusia: Lebanon Mulai Mengalami Nasib Seperti Gaza

Perwakilan Rusia, Vassily Nebenzia, menyampaikan kritik tajam terhadap Israel dan Amerika Serikat. Menurutnya, gencatan senjata yang dimediasi Washington pada April lalu ternyata hanya menjadi "tabir asap" bagi operasi militer Israel di Lebanon.

Nebenzia menilai kondisi di Lebanon mulai menyerupai situasi yang terjadi di Gaza, termasuk penghancuran wilayah dan perpindahan paksa penduduk. Ia memperingatkan bahwa pendudukan lebih lanjut atas wilayah Lebanon dapat memicu perang saudara dan konflik sektarian yang lebih luas.

Rusia juga menuding memburuknya situasi saat ini merupakan dampak langsung dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Prancis: Israel Lakukan Kesalahan Strategis

Duta Besar Prancis, Jérôme Bonnafont, yang mengajukan permintaan sidang darurat tersebut, mengatakan negaranya sangat prihatin terhadap perkembangan situasi di Lebanon.

Meski mengakui hak Israel untuk membela diri, Prancis menilai tidak ada alasan yang dapat membenarkan besarnya skala operasi militer yang sedang berlangsung, termasuk jatuhnya ribuan korban sipil dan perluasan pendudukan wilayah Lebanon.

Menurut Bonnafont, penguasaan Kastel Beaufort memiliki makna simbolis yang mengingatkan pada masa pendudukan Israel di Lebanon Selatan sebelum tahun 2000.

"Israel seperti sedang kembali ke periode yang diyakini banyak pihak telah berakhir. Sejarah menunjukkan bahwa penyebab yang sama sering kali menghasilkan akibat yang sama pula," ujarnya.

PBB Serukan Semua Pihak Menahan Diri

Di tengah perbedaan pandangan yang tajam antarnegara anggota Dewan Keamanan, hampir seluruh delegasi sepakat bahwa eskalasi konflik harus segera dihentikan.

Mereka menyerukan perlindungan warga sipil, penghormatan terhadap pasukan penjaga perdamaian UNIFIL, serta memberikan ruang bagi diplomasi untuk mencegah pecahnya perang yang lebih besar di Lebanon.

PBB memperingatkan bahwa apabila situasi terus memburuk, konflik dapat meluas ke seluruh kawasan dan menggagalkan berbagai upaya perdamaian yang saat ini masih berlangsung, termasuk pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran.

Trump: Israel-Hizbullah Setujui Gencatan Senjata

Presiden AS Trump mengumumkan pada hari Senin bahwa Israel dan Hizbullah telah menyetujui gencatan senjata.

Ia menulis di TruthSocial bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji selama percakapan telepon yang "sangat produktif" untuk tidak mengirim pasukan ke Beirut, sementara Israel mengancam akan menyerang pinggiran selatan ibu kota Lebanon.

"Tidak ada pasukan yang akan pergi ke Beirut, dan pasukan mana pun yang sedang dalam perjalanan telah berbalik," kata Trump.

Presiden AS juga mengumumkan bahwa ia telah melakukan "percakapan yang sangat baik" dengan Hizbullah melalui perantara, menambahkan bahwa kelompok yang didukung Iran itu telah setuju untuk "menghentikan semua permusuhan." 

"Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan menyerang Israel," ujarnya.

Hal ini terjadi setelah Netanyahu pada hari Senin memerintahkan serangan terhadap pinggiran selatan Beirut, benteng Hizbullah, yang diperkirakan berupa serangan udara, karena Israel telah melancarkan beberapa serangan udara sejak gencatan senjata mulai berlaku pada pertengahan April.

Di lapangan, pasukan Israel telah merebut wilayah luas di Lebanon selatan yang membentang dari perbatasan hingga Sungai Litani, dan terus maju melampauinya menuju Sungai Zahrani, sekitar 10 kilometer ke utara, dalam invasi terdalam mereka ke Lebanon dalam 25 tahun terakhir, menurut Reuters.

Sejak dimulainya pembicaraan antara pihak Iran dan Amerika pada awal April yang ditengahi Pakistan untuk mencapai kesepakatan menghentikan perang, Teheran telah memasukkan Lebanon dalam daftar negosiasi.

Iran menuntut AS dan Israel agar gencatan senjata mencakup semua front, termasuk front Lebanon, tempat Hizbullah bertempur di selatan, yang menghadapi serangan intensif Israel karena dukungannya untuk rakyat Palestina di Jalur Gaza yang menghadapi serangan mematikan Israel.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas