Netanyahu Ancam Beirut, Iran Balas Ultimatum: Tinggalkan Israel Utara Sekarang!
Iran ancam warga Israel utara mengungsi jika Beirut diserang. Konflik Timur Tengah memanas, Trump pun murka ke Netanyahu.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Ringkasan Berita:
- Iran memperingatkan warga Israel utara untuk segera mengungsi jika Israel benar-benar menyerang Beirut. Teheran menilai serangan ke Lebanon sebagai pelanggaran.
- Iran juga mengancam akan memblokir Selat Hormuz dan membuka front konflik baru di Timur Tengah meski langkah itu memicu lonjakan harga minyak dunia.
- Presiden Trump dilaporkan marah kepada Benjamin Netanyahu karena khawatir serangan Israel ke Lebanon dapat memperluas perang dan menggagalkan diplomasi AS-Iran.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran secara terbuka memperingatkan warga Israel utara untuk segera mengungsi apabila Israel benar-benar melancarkan serangan besar ke Beirut dan wilayah Lebanon.
Peringatan keras itu disampaikan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran pada Senin (2/6/2026) yang disiarkan kantor berita pemerintah Iran, IRNA.
Dalam pernyataannya, Iran meminta warga Israel utara dan kawasan permukiman militer segera meninggalkan wilayah tersebut apabila ingin menghindari bahaya yang mungkin terjadi jika konflik terus meningkat.
Peringatan Iran muncul setelah pemerintah Israel sebelumnya mengeluarkan ancaman serangan terhadap Beirut selatan yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah.
Markas militer Iran menyebut setiap serangan baru Israel terhadap Lebanon maupun Gaza akan dianggap sebagai pelanggaran garis merah dan ancaman langsung terhadap keamanan nasional Iran serta kelompok-kelompok sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Melalui unggahan resmi di platform X, Organisasi Intelijen Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menegaskan bahwa Teheran siap merespons setiap eskalasi Israel melalui operasi defensif yang lebih luas.
Iran bahkan mengancam akan membuka front konflik baru apabila Israel terus meningkatkan operasi militernya di Lebanon.
“Siapa menabur angin akan menuai badai,” demikian pernyataan IRGC dalam unggahan tersebut.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa konflik Israel-Hizbullah kini berpotensi berkembang menjadi konfrontasi regional yang melibatkan Iran secara lebih langsung.
Iran Ancam Blokir Selat Hormuz
Tak hanya mengeluarkan ancaman militer, Iran juga kembali menegaskan rencana untuk memblokir Selat Hormuz apabila konflik terus meluas.
Penasihat pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran dan negaranya tidak akan membiarkan blokade laut berlangsung berkepanjangan.
Ancaman tersebut memicu kekhawatiran global karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis utama distribusi energi dunia.
Baca juga: Israel Bikin Negosiasi Damai Iran dan AS Mandek, Serangan di Lebanon Buat Teheran Marah
Sebelum konflik meningkat, sekitar seperlima pasokan minyak dunia diketahui melewati kawasan tersebut setiap harinya.
Selain Hormuz, Iran dan sekutunya juga disebut mempertimbangkan pengaktifan tekanan di Selat Bab al-Mandab dekat Laut Merah, wilayah yang sebelumnya sudah beberapa kali menjadi sasaran serangan kelompok Houthi Yaman terhadap kapal-kapal internasional.
Situasi ini berpotensi mengganggu jalur perdagangan global dan kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Diplomasi AS-Iran Terancam Gagal
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menegaskan bahwa gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat berlaku untuk seluruh kawasan konflik, termasuk Lebanon.
Ia memperingatkan bahwa pelanggaran di satu wilayah akan dianggap sebagai pelanggaran keseluruhan kesepakatan.
“AS dan Israel bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap pelanggaran,” tulis Araghchi melalui akun X miliknya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ketegangan di Lebanon kini mulai mempengaruhi jalur diplomasi yang sedang dibangun Washington dengan Teheran.
Trump Murka ke Netanyahu
Di tengah memanasnya situasi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga dilaporkan meluapkan kemarahan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akibat meningkatnya eskalasi serangan Israel ke Lebanon.
Dalam laporan media Amerika Axios, Trump disebut melakukan percakapan telepon panas dengan Netanyahu pada Senin (1/6/2026).
Trump bahkan dikabarkan berteriak kepada Netanyahu dengan kalimat “Apa yang kau lakukan?” setelah menerima laporan mengenai rencana perluasan operasi militer Israel di Lebanon.
Washington disebut khawatir langkah agresif Israel dapat memperluas perang di Timur Tengah, memperburuk tekanan internasional terhadap Israel, sekaligus menggagalkan jalur diplomasi AS dengan Iran.
Selain itu, pemerintah AS juga menilai konflik yang terus membesar dapat memicu ketidakstabilan baru di kawasan dan mengganggu hubungan diplomatik dengan negara-negara Timur Tengah lainnya.
Meski Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan kemarahan Trump, serangan besar ke Beirut yang sebelumnya direncanakan akhirnya dibatalkan setelah percakapan telepon tersebut berlangsung.
Keputusan itu sementara meredakan kekhawatiran internasional, meski situasi keamanan di Lebanon dan kawasan Timur Tengah hingga kini masih berada dalam kondisi sangat tegang.
(Tribunnews.com / Namira)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.