Aksi Saling Balas Serangan antara AS dan Iran Buat Harga Minyak Brent Melonjak
Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan saling membalas serangan di tengah perundingan damai yang mandek. Akibatnya harga minyak alami kenaikan.
Penulis:
Whiesa Daniswara
Editor:
Bobby Wiratama
Lonjakan ini menempatkan harga minyak pada level tertingginya dalam beberapa pekan terakhir, didorong oleh eskalasi konflik militer yang kian memanas antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk Persia.
Mengutip WANA, berdasarkan data perdagangan komoditas terbaru, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Agustus 2026 meroket sebesar 1,07 persen ke posisi US$97,11 per barel.
Lonjakan ini merefleksikan kecemasan akut para pialang dan investor global terhadap keamanan Selat Hormuz, yang dikenal sebagai salah satu urat nadi dan koridor logistik energi paling vital di dunia.
Para analis energi internasional memperingatkan bahwa wilayah Teluk Persia memiliki sensitivitas yang luar biasa tinggi.
Setiap konfrontasi bersenjata yang mengancam keselamatan kapal-kapal tanker komoditas akan langsung direspons dengan kenaikan harga minyak secara spontan di bursa London maupun New York.
"Para pelaku pasar saat ini sangat sensitif terhadap isu disrupsi pasokan."
Baca juga: 5 Kali Donald Trump Memarahi Netanyahu, dari Perang Gaza hingga Konflik Iran
"Selat Hormuz memfasilitasi hampir seperlima dari total konsumsi minyak dunia setiap harinya."
"Jika jalur pengiriman ini terganggu akibat baku tembak yang berkepanjangan, volatilitas pasar energi global tidak hanya akan meningkat, tetapi bisa memicu krisis pasokan energi jilid baru," ungkap salah satu pengamat pasar komoditas.
Di sisi lain, situasi pelik ini membuat para investor global mulai mengalihkan modal mereka ke aset-aset yang dinilai lebih aman.
Perusahaan-perusahaan energi raksasa kini terpaksa menata ulang jalur logistik mereka dan memperhitungkan kenaikan biaya asuransi maritim yang dipastikan membubung akibat status Teluk Persia yang masuk dalam zona bahaya militer.
Jika ketegangan bersenjata antara Washington dan Teheran tidak segera diredam lewat jalur diplomasi, harga minyak dunia diprediksi bisa dengan mudah merangkak naik menuju level psikologis US$100 hingga US$110 per barel.
Kondisi tersebut tentu menjadi sinyal buruk bagi perekonomian global yang tengah berjuang melawan tekanan inflasi.
Bagi negara-negara importir minyak bersih, termasuk Indonesia, lonjakan harga minyak di atas anggaran asumsi makro berpotensi membengkakkan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) domestik serta memperlebar defisit transaksi berjalan.
(Tribunnews.com/Whiesa)