Perang Rusia-Ukraina Hari Ke-1566: Damai Tinggal Selangkah, Moskow Ngotot Minta Kyiv Lepas Donbas
Perang Rusia-Ukraina memasuki hari ke-1.566, Presiden Volodymyr Zelensky mengungkap Roman Abramovich pernah diam-diam datang ke Kyiv.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Bobby Wiratama
Ringkasan Berita:
- Perang Rusia-Ukraina memasuki hari ke-1.566, Senin (8/6/2026).
- Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky mengungkapkan Roman Abramovich pernah diam-diam datang ke Kyiv.
- Kunjungan taipan ke Ukraina disebut untuk menyampaikan pesan terkait peluang perdamaian perang Rusia-Ukraina.
TRIBUNNEWS.COM - Perang Rusia-Ukraina memasuki hari ke-1.566 pada Senin (8/6/2026), dengan pertempuran dan serangan lintas wilayah masih terus berlangsung tanpa tanda-tanda mereda.
Perkembangan terbaru datang dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang mengungkap bahwa miliarder Rusia Roman Abramovich pernah diam-diam menemui dirinya di Kyiv untuk menyampaikan pesan kepada Kremlin terkait peluang perdamaian.
Meski demikian, Zelensky menegaskan Ukraina tidak akan menyerahkan wilayahnya kepada Rusia, sementara negosiasi tetap menemui jalan buntu akibat tuntutan Moskow terkait kawasan Donbas.
Perang skala penuh antara Rusia dan Ukraina pecah pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi militer ke negara tetangganya tersebut.
Namun, akar konflik telah muncul jauh sebelumnya.
Ketegangan meningkat sejak Rusia mencaplok Semenanjung Krimea pada 2014, yang kemudian diikuti pecahnya konflik bersenjata di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Moskow.
Lebih dari empat tahun sejak invasi dimulai, belum ada tanda-tanda penyelesaian permanen. Rusia dan Ukraina masih bersitegang mengenai status wilayah pendudukan, jaminan keamanan, hingga peran negara-negara Barat yang terus mendukung Kyiv.
Berikut perkembangan terbaru perang Rusia-Ukraina pada hari ke-1.566:
Zelensky Bongkar Peran Abramovich, Kirim Pesan Rahasia ke Putin dari Kyiv
Baca juga: Setelah Ajakan Bertemu Ditolak Putin, Zelensky Tuduh Rusia Ogah Hentikan Perang: Kecewa
Dikutip dari The Guardian. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky mengungkap peran tak terduga taipan Rusia Roman Abramovich dalam upaya komunikasi antara Kyiv dan Kremlin.
Zelensky mengatakan mantan pemilik klub sepak bola Chelsea itu pernah datang langsung ke Kyiv dan menawarkan diri menjadi perantara pesan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.
Pernyataan tersebut menjadi pengakuan publik pertama Zelensky bahwa Abramovich terlibat dalam proses negosiasi terkait perang Rusia-Ukraina.
Dalam wawancara dengan Sky News, Zelensky menyebut Abramovich datang secara langsung dan meminta komunikasi dilakukan tanpa sorotan publik.
"Dia datang ke Kyiv dan mengatakan ingin menyampaikan pesan dari saya kepada Putin," kata Zelensky.
Namun, menurut Zelensky, pesan yang disampaikan kepada Abramovich sangat tegas.
Presiden Ukraina itu menegaskan Kyiv tidak akan menyerahkan wilayahnya kepada Rusia.
"Anda berperang melawan kami di wilayah kami. Kami tidak akan pergi dan tidak akan memberikan kemenangan kepada Anda," ujar Zelensky.
Ia juga kembali menyampaikan keinginannya untuk bertemu langsung dengan Putin guna membahas jalan keluar konflik.
Zelensky menegaskan pertemuan dengan Abramovich bukanlah rahasia.
Menurutnya, Rusia ingin mengetahui sejauh mana kesiapan Ukraina dalam proses negosiasi.
Abramovich sendiri hingga kini belum memberikan komentar terkait pertemuan tersebut.
Miliarder Rusia itu sebelumnya dijatuhi sanksi oleh pemerintah Inggris karena dianggap memiliki hubungan dekat dengan rezim Putin.
Abramovich Muncul Lagi, Negosiasi Damai Rusia-Ukraina Masih Buntu
Roman Abramovich kembali menjadi sorotan setelah Zelensky mengungkap keterlibatannya dalam komunikasi dengan Kremlin.
Meski demikian, peran Abramovich belum mampu membuka jalan menuju perdamaian antara Rusia dan Ukraina.
Taipan Rusia itu sebelumnya juga sempat terlibat dalam negosiasi pada awal invasi Rusia ke Ukraina.
Namun setelah perundingan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan, perannya semakin jarang terlihat di ruang publik.
Hingga kini, Rusia tetap mempertahankan syarat utama untuk mengakhiri perang.
Baca juga: Putin Tolak Ajakan Kopi Darat Zelensky, Tegaskan Hanya Mau Kesepakatan Besar
Presiden Rusia, Vladimir Putin menegaskan Moskow tidak akan menghentikan operasi militer sampai Ukraina melepaskan wilayah Donbas.
Wilayah tersebut mencakup Donetsk dan Luhansk yang menjadi pusat konflik sejak 2014.
Sikap keras Kremlin membuat peluang tercapainya kesepakatan damai masih jauh dari kenyataan.
Meski berbagai upaya mediasi terus dilakukan, kedua pihak masih terpaut jauh dalam tuntutan politik dan teritorial.
Zelensky Bertemu Pemimpin Eropa, Ukraina Siapkan Tameng Hadapi Rudal Oreshnik Rusia
Zelensky bertemu para pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman di London untuk membahas ancaman rudal balistik hipersonik Oreshnik milik Rusia.
Pertemuan tersebut menghasilkan seruan mendesak untuk mempercepat produksi sistem pertahanan udara dan pencegat rudal.
Dalam pernyataan bersama, para pemimpin Eropa menegaskan perlunya pengembangan kemampuan anti-rudal balistik dan serangan jarak jauh.
Langkah itu dinilai penting untuk menghadapi ancaman baru dari persenjataan Rusia yang semakin canggih.
Namun, tidak ada rincian mengenai pendanaan maupun mekanisme pelaksanaan program tersebut.
Zelensky dijadwalkan melanjutkan agenda diplomatiknya dengan bertemu Raja Charles pada Senin.
Kekurangan sistem pertahanan udara Ukraina menjadi masalah serius dalam beberapa bulan terakhir.
Situasi itu diperparah oleh menipisnya stok persenjataan Amerika Serikat akibat keterlibatannya dalam perang melawan Iran.
Akibatnya, warga sipil Ukraina semakin rentan terhadap serangan rudal balistik Rusia.
Drone Rusia Hantam Area Nuklir Chernobyl, Pesan Keras Moskow ke Ukraina
Baca juga: Mungkinkah Putin dan Zelensky Bertemu Langsung untuk Akhiri Perang Rusia-Ukraina?
Sebuah drone Rusia menyerang fasilitas penyimpanan bahan bakar nuklir bekas di dekat pembangkit listrik Chernobyl, Ukraina.
Insiden itu terjadi pada akhir pekan di tengah meningkatnya perang serangan udara jarak jauh antara kedua negara.
Meski fasilitas tersebut sedang tidak menyimpan kontainer bahan bakar nuklir, serangan ke lokasi sensitif itu memicu kekhawatiran internasional.
Pengamat menilai penargetan area Chernobyl bukan sekadar serangan militer biasa.
Aksi tersebut diduga menjadi sinyal politik dan militer dari Moskow kepada Kyiv.
Serangan itu terjadi ketika Rusia dan Ukraina semakin sering menyerang infrastruktur strategis satu sama lain.
Ketegangan di udara kini menjadi salah satu front paling aktif dalam perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
Rusia Gempur Ukraina dengan Drone, Lima Orang Tewas dalam Sehari
Rusia kembali melancarkan serangan drone dan amunisi ke sejumlah wilayah Ukraina pada Minggu.
Sedikitnya lima orang dilaporkan tewas akibat rangkaian serangan tersebut.
Di wilayah Zaporizhzhia, serangan terhadap halte transportasi umum menewaskan dua orang.
Serangan drone lain di wilayah yang sama juga menewaskan seorang sopir minibus berusia 56 tahun.
Baca juga: Isi Lengkap Surat Terbuka Zelensky ke Putin: Tulisan Panjang Bernada Peringatan Sekaligus Ajakan
Sementara itu, serangan terpisah di Dnipro, Ukraina tengah, merenggut nyawa seorang pria berusia 59 tahun.
Gubernur wilayah Dnipro, Oleksandr Ganzha, mengonfirmasi korban jiwa melalui akun Telegram resminya.
Gelombang serangan terbaru menunjukkan Rusia terus mempertahankan tekanan militer terhadap berbagai kota di Ukraina.
Di tengah upaya diplomasi yang masih buntu, serangan udara tetap menjadi ancaman utama bagi warga sipil.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.