Harga Pertamax Melejit, Perbandingan BBM RI vs Negara ASEAN Lainnya
Harga Pertamax resmi melonjak! Konflik Iran-Israel dan panasnya Selat Hormuz bikin harga BBM ASEAN ikut meroket. Siapa paling mahal?
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Ringkasan Berita:
- PT Pertamina resmi menaikkan harga BBM, Pertamax melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green naik menjadi Rp17.000 per liter.
- Kenaikan harga BBM juga terjadi di hampir seluruh negara ASEAN. Myanmar dan Filipina mencatat lonjakan paling tinggi, sedangkan Singapura menjadi salah satu negara dengan kenaikan paling rendah di kawasan.
- Memanasnya konflik Iran-Israel dan ancaman gangguan di Selat Hormuz disebut menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak global.
TRIBUNNEWS.COM - Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia resmi mengalami kenaikan signifikan mulai Selasa dini hari (10/6/2026).
Kenaikan harga tersebut diumumkan langsung oleh PT Pertamina Patra Niaga untuk sejumlah produk BBM non subsidi, terutama Pertamax dan Pertamax Green.
Dalam pengumuman resmi yang diunggah pertamina.com harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.
Sementara itu, Pertamax Green 95 (RON 95) juga mengalami lonjakan harga dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga dilakukan setelah melalui koordinasi bersama pemerintah sebagai regulator.
Menurutnya, perubahan harga mengikuti mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan harga keekonomian pasar internasional.
Harga BBM ASEAN Ikut Naik, Tapi Angkanya Berbeda
Kenaikan harga BBM di Indonesia langsung memicu perhatian publik, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN.
Berdasarkan data Trading Economics dan Global Petrol Prices periode Maret-Juni 2026, hampir seluruh negara ASEAN juga mengalami lonjakan harga bahan bakar akibat tekanan geopolitik global dan naiknya harga minyak mentah dunia.
Namun besaran kenaikannya berbeda-beda di tiap negara. Berikut daftar harga bensin rata-rata di negara ASEAN berdasarkan data terbaru:
Baca juga: Purbaya Klaim Dampak Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi ke Inflasi Minim
- Myanmar tercatat menjadi negara dengan kenaikan paling tinggi. Harga bensin di negara tersebut melonjak hingga 100 persen, sedangkan harga solar naik hampir 120 persen.
- Filipina juga mengalami kenaikan besar dengan harga bensin naik 71,6 persen dan solar melonjak 111 persen.
- Di Laos, harga bensin naik 36,2 persen sementara solar meningkat 117,5 persen.
- Malaysia mengalami kenaikan harga bensin sebesar 52,4 persen dan solar naik 84,6 persen.
- Kamboja mencatat kenaikan bensin 39,3 persen dan solar 92 persen.
- Vietnam mengalami kenaikan bensin 25,5 persen dan solar 91,3 persen.
- Thailand mencatat kenaikan bensin sebesar 26,1 persen dan solar 32,3 persen.
- Singapura menjadi salah satu negara dengan kenaikan paling rendah di ASEAN, yakni bensin naik 19,6 persen dan solar meningkat 51,5 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi menjadi fenomena regional akibat tekanan pasar energi global.
Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Harga Minyak Dunia Naik
Mengutip dari The Straits Times kenaikan harga BBM di sejumlah negara ASEAN belakangan ini disebut tidak lepas dari memanasnya konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang berdampak langsung terhadap pasar energi global.
Situasi perang di Timur Tengah membuat harga minyak dunia melonjak tajam karena muncul kekhawatiran terganggunya jalur distribusi energi internasional, terutama di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Sekitar seperempat distribusi minyak mentah global dan sebagian besar pengiriman LNG dunia melewati kawasan tersebut.
Ketika konflik Iran meningkat dan jalur pelayaran di kawasan Teluk mulai terganggu, pasar global langsung merespons dengan kenaikan harga minyak mentah dunia.
Laporan Financial Times menyebut harga minyak Brent sempat melonjak hampir 5 persen setelah Iran kembali luncurkan rudal ke Israel dan memicu kekhawatiran gencatan senjata gagal dipertahankan.