Prefektur Kumamoto Butuh 4.000 Pekerja Asing, Peluang Besar bagi Tenaga Kerja Indonesia
Kumamoto membutuhkan 4.000 pekerja asing dalam tiga tahun. Indonesia berpeluang menjadi salah satu pemasok tenaga kerja terbesar
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Pemerintah Prefektur Kumamoto memperkirakan membutuhkan sekitar 4.000 pekerja asing dalam tiga tahun ke depan untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja
- Kebutuhan terbesar berasal dari sektor pertanian, konstruksi, manufaktur, dan industri makanan
- Kumamoto juga tengah menjajaki kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia guna mendukung pengiriman dan pengembangan tenaga kerja Indonesia
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Kekurangan tenaga kerja yang semakin serius di Jepang mendorong Prefektur Kumamoto meningkatkan upaya penerimaan tenaga kerja asing. Pemerintah Prefektur Kumamoto mengungkapkan bahwa wilayah tersebut membutuhkan sekitar 4.000 pekerja asing dalam tiga tahun ke depan.
Pernyataan itu disampaikan Gubernur Kumamoto, Takashi Kimura, dalam sidang umum DPRD Prefektur Kumamoto pada Selasa (10/6/2026).
Menurut hasil survei pemerintah prefektur terhadap sekitar 70 organisasi dan perusahaan, kebutuhan tenaga kerja asing dalam tiga tahun mendatang diperkirakan mencapai sekitar 4.000 orang.
"Sebanyak sekitar 1.500 tenaga kerja dibutuhkan di sektor pertanian, sekitar 500 orang di sektor konstruksi, serta ratusan lainnya di sektor manufaktur dan industri makanan-minuman," ujar Kimura.
Baca juga: PM Jepang Dikritik karena Terlalu Mengandalkan Media Sosial untuk Berkomunikasi dengan Publik
Kekurangan Tenaga Kerja Makin Serius
Jepang saat ini menghadapi tantangan besar akibat menurunnya jumlah penduduk usia produktif dan meningkatnya populasi lanjut usia.
Kondisi tersebut menyebabkan berbagai sektor industri mengalami kesulitan mendapatkan pekerja, terutama di daerah-daerah luar kota besar seperti Kumamoto.
Namun demikian, Kimura menegaskan bahwa penerimaan tenaga kerja asing tidak boleh dilakukan hanya untuk menutupi kekurangan tenaga kerja semata.
"Memang ada kekhawatiran dari masyarakat terhadap penggunaan tenaga kerja asing secara berlebihan. Jika hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan tenaga kerja, pada akhirnya kedua pihak akan merasa tidak puas dan hal itu harus dihindari," katanya.
Fokus pada Pengembangan SDM
Pemerintah Kumamoto berencana mengembangkan model kerja sama yang menekankan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
Dalam konsep tersebut, calon pekerja asing akan memperoleh pelatihan keterampilan dan pendidikan bahasa Jepang di negara asal sebelum berangkat ke Jepang.
Setelah bekerja di Kumamoto dan memperoleh keahlian maupun pengalaman kerja, mereka diharapkan kembali ke negara asal dengan membawa keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan ekonomi di negaranya.
"Kami ingin kedua pihak bekerja sama dalam proses pengembangan sumber daya manusia, mulai dari pelatihan di negara asal hingga saat mereka kembali ke tanah air," ujar Kimura.
Kerja Sama dengan Indonesia
Dalam sidang yang sama, anggota DPRD Prefektur Kumamoto, Yoichi Fuchigami, menanyakan perkembangan kerja sama dengan Indonesia terkait pengiriman tenaga kerja.