Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

El Nino Super Terbentuk, Dunia Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem

Fenomena El Niño telah terbentuk di Samudra Pasifik dan diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah.

Tayang:
Diperbarui:
Baca & Ambil Poin
Editor: Tiara Shelavie
zoom-in El Nino Super Terbentuk, Dunia Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem
Pexels
ILUSTRASI EL NINO - Foto yang diambil dari situs bebas royalti Pexels memperlihatkan seorang pria membawa air melintasi lanskap kering di Sagaing, Myanmar. El Nino bisa berdampak pada kekeringan di sebagian wilayah dunia, dan banjir di wilayah lainnya. 
Memuat video…

Ringkasan Berita:
  • Fenomena El Niño telah terbentuk di Samudra Pasifik dan diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. 
  • Para ilmuwan memperingatkan bahwa El Niño dapat memperparah gelombang panas, banjir, kekeringan, dan cuaca ekstrem di berbagai negara. 
  • Meski beberapa wilayah bisa mendapatkan manfaat, dunia diminta bersiap menghadapi dampak besar dari perubahan pola cuaca ini.

TRIBUNNEWS.COM - El Niño, fenomena iklim alami yang dikenal sebagai penggerak cuaca yang sulit diprediksi, telah terbentuk di Samudra Pasifik yang mengalami peningkatan suhu.

Mengutip PBS, para ahli meteorologi mengumumkan pada Kamis bahwa fenomena ini diperkirakan dapat berkembang menjadi salah satu El Niño terkuat yang pernah tercatat.

Para ahli mengatakan El Niño, yaitu siklus pemanasan alami, dapat semakin meningkatkan suhu bumi yang sudah mengalami pemanasan akibat polusi bahan bakar fosil.

Fenomena ini juga diperkirakan akan memperkuat cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia.

Para meteorolog memperkirakan El Niño kali ini dapat menyamai atau bahkan melampaui El Niño besar yang terjadi pada 1997, yang menyebabkan kerugian hingga miliaran dolar akibat gelombang panas, banjir, kekeringan, tornado, dan kebakaran hutan.

Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) secara resmi mengonfirmasi keberadaan El Niño tersebut. Fenomena ini terjadi ketika wilayah Samudra Pasifik di sekitar garis khatulistiwa mengalami pemanasan dan memengaruhi pola cuaca global.

Rekomendasi Untuk Anda

NOAA menyebut ada kemungkinan 63 persen bahwa El Niño ini akan menjadi sangat kuat pada akhir musim gugur dan awal musim dingin, sehingga masuk dalam daftar peristiwa El Niño terbesar dalam catatan sejarah sejak 1950.

Baca juga: BMKG Ungkap Puncak Kemarau 2026 dan Ancaman El Nino hingga Awal 2027, Masyarakat Diminta Siaga

Menurut ilmuwan iklim dari Clark University, Abby Frazier, air laut hangat yang berada di kedalaman akan membawa “tambahan panas besar” ke permukaan laut, sehingga memperkuat berbagai kejadian cuaca ekstrem di banyak wilayah dunia.

Ia mengatakan, terutama di kawasan Pasifik, dampaknya dapat memburuk dengan cepat. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres menyebut El Niño sebagai “peringatan iklim yang mendesak”.

“El Niño akan menambah bahan bakar pada kondisi dunia yang semakin panas,” kata Guterres dalam sebuah pesan video.

Dampak El Niño: Ada Wilayah yang Diuntungkan, Ada yang Terancam

Dampak El Niño berbeda-beda di setiap wilayah. Fenomena ini biasanya mengurangi, meski tidak sepenuhnya menghilangkan, aktivitas badai Atlantik, tetapi justru meningkatkan aktivitas badai di kawasan Pasifik.

Karena itu, wilayah pesisir timur dan Teluk Amerika Serikat mungkin mendapat sedikit keuntungan, sementara Hawaii dan beberapa pulau Pasifik menghadapi risiko lebih besar.

Para ilmuwan iklim mengatakan wilayah Timur Tengah yang sedang mengalami kekeringan bisa mendapatkan manfaat berupa peningkatan curah hujan. Namun, wilayah lain justru menghadapi ancaman lebih besar.

Beberapa wilayah Amerika Selatan bagian barat, tempat El Niño pertama kali dikenali puluhan tahun lalu, sering mengalami hujan deras dan banjir akibat fenomena ini. India diperkirakan menghadapi gelombang panas yang lebih intens, sedangkan Australia berisiko mengalami kekeringan, kebakaran hutan, dan suhu ekstrem.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas