Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Zelenskyy Bongkar Data Kremlin, Klaim Dukungan Publik Rusia ke Putin Merosot

Presiden Ukraina Zelenskyy mengungkap data Kremlin yang mengklaim dukungan publik Rusia untuk Presiden Rusia Putin terus merosot.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Zelenskyy Bongkar Data Kremlin, Klaim Dukungan Publik Rusia ke Putin Merosot
Facebook Zelenskyy
PRESIDEN UKRAINA ZELENSKYY - Foto yang diunggah Zelenskyy, Minggu (14/6/2026) memperlihatkan kertas yang menampilkan data yang diklaim menunjukkan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin dan menurunnya dukungan terhadap partai penguasa menjelang pemilu parlemen Rusia pada September. 
Memuat video…

Data tersebut juga menunjukkan adanya peningkatan jumlah warga yang tidak puas terhadap Putin. Dalam kurun waktu sekitar satu minggu, persentase responden yang menilai kinerja Putin buruk naik dari 11 persen menjadi 13 persen. Pada saat yang sama, jumlah responden yang menyatakan tidak mempercayai Putin juga meningkat dari 14 persen menjadi 17 persen.

Media independen Rusia, Agentstvo, mencatat tingkat persetujuan sebesar 73 persen merupakan salah satu yang terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelumnya, angka yang lebih rendah hanya tercatat pada akhir Februari 2022, ketika tingkat dukungan terhadap Putin berada di angka 71 persen.

Penurunan popularitas Putin juga terlihat dalam survei lembaga lain. Pada 30 April, lembaga independen Levada Center melaporkan tingkat persetujuan terhadap Putin turun ke bawah 80 persen untuk pertama kalinya sejak mobilisasi militer diumumkan pada akhir 2022.

Sementara itu, lembaga survei milik negara Rusia, VTsIOM, juga mencatat tren penurunan dukungan terhadap Putin selama tujuh minggu berturut-turut.

Berdasarkan data terbaru, sekitar 24,1 persen responden mengaku tidak mempercayai Putin, sedangkan 23,3 persen menyatakan tidak puas terhadap kinerjanya sebagai presiden, menurut laporan Novaya Gazeta Eropa.

Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia-Ukraina yang pecah pada 24 Februari 2022 merupakan puncak dari ketegangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun antara kedua negara.

Rekomendasi Untuk Anda

Setelah merdeka dari Uni Soviet pada 1991, Ukraina semakin mempererat hubungan dengan negara-negara Barat dan menyampaikan keinginannya untuk menjadi anggota NATO. Langkah tersebut dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap kepentingan strategis dan keamanan nasionalnya.

Ketegangan meningkat pada 2014 setelah terjadi pergantian pemerintahan di Ukraina. Pada tahun yang sama, Rusia menguasai Semenanjung Krimea, sementara konflik bersenjata mulai berkecamuk di wilayah Donetsk dan Luhansk di bagian timur Ukraina.

Sejumlah upaya diplomatik dan perjanjian damai sempat dilakukan untuk meredakan konflik, namun tidak berhasil menyelesaikan perselisihan yang terus berlanjut.

Pada Februari 2022, Rusia melancarkan operasi militer besar-besaran ke wilayah Ukraina. Moskow menyatakan operasi tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia dan mencegah perluasan NATO ke dekat perbatasannya. Sebaliknya, Ukraina dan negara-negara Barat menilai tindakan itu sebagai invasi terhadap negara yang berdaulat.

Sejak perang dimulai, Ukraina memperoleh dukungan militer, ekonomi, dan politik dari Amerika Serikat serta sejumlah negara Eropa. Sementara itu, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang menyasar sektor keuangan, perdagangan, energi, dan perekonomiannya.

Konflik ini tidak hanya berdampak pada Rusia dan Ukraina, tetapi juga memengaruhi kondisi global, termasuk stabilitas ekonomi, ketahanan pangan, serta pasokan energi dunia.

Hingga kini, pertempuran masih berlangsung meskipun berbagai upaya negosiasi terus dilakukan. Namun, proses perdamaian menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Dalam berbagai perundingan, Rusia menuntut agar Ukraina tidak bergabung dengan NATO, mengakui Krimea dan sejumlah wilayah yang diklaim Moskow sebagai bagian dari Rusia, membatasi kekuatan militernya, serta memberikan perlindungan yang lebih luas bagi masyarakat berbahasa Rusia.

Di sisi lain, Ukraina tetap menolak menyerahkan wilayahnya dan menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kedaulatan, kemerdekaan, serta keutuhan wilayah negara.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas