Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
Live
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
VS
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
VS
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
VS
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Zelenskyy Bongkar Data Kremlin, Klaim Dukungan Publik Rusia ke Putin Merosot

Presiden Ukraina Zelenskyy mengungkap data Kremlin yang mengklaim dukungan publik Rusia untuk Presiden Rusia Putin terus merosot.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Zelenskyy Bongkar Data Kremlin, Klaim Dukungan Publik Rusia ke Putin Merosot
Facebook Zelenskyy
PRESIDEN UKRAINA ZELENSKYY - Foto yang diunggah Zelenskyy, Minggu (14/6/2026) memperlihatkan kertas yang menampilkan data yang diklaim menunjukkan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin dan menurunnya dukungan terhadap partai penguasa menjelang pemilu parlemen Rusia pada September. 
Memuat video…
Ringkasan Berita:
  • Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengklaim dokumen intelijen Rusia yang diperolehnya menunjukkan meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin dan menurunnya dukungan terhadap partai penguasa.
  • Zelenskyy menilai tekanan terhadap Rusia akan terus bertambah dan mendesak Moskow kembali ke meja perundingan damai.
  • Sejumlah survei menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Putin turun menjadi 73 persen, level terendah sejak awal perang pada 2022.

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengunggah foto-foto laporan yang diserahkan oleh pejabat Rusia kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Badan-badan intelijen kami melaporkan hasil pekerjaan mereka untuk menilai situasi internal di Rusia dan memperoleh dokumen-dokumen yang akhirnya sampai di meja pemimpin Rusia," tulis Zelenskyy di platform media sosial X, Minggu (14/6/2026).

"Kami memahami bahwa Putin jarang menerima informasi yang sepenuhnya jujur ​​dan tanpa basa-basi. Tetapi bahkan apa yang dilihatnya dalam dokumen yang sampai kepadanya tetap memungkinkan untuk menarik kesimpulan," lanjutnya.

Zelenskyy mencatat, laporan-laporan tersebut menunjukkan penurunan dukungan yang berkelanjutan untuk partai Putin.

"Secara khusus, apa yang disebut sebagai 'indikator proyeksi' ketidakpuasan warga Rusia terhadap Putin akan terus meningkat secara stabil, dan ia sudah mulai dikondisikan untuk menerima gagasan bahwa ketidakpuasan yang terus meningkat ini tidak dapat dihentikan dan bahwa indikator ini 'tidak akan mencapai titik stabil' pada bulan September, ketika pemilihan parlemen dijadwalkan di Rusia."

Presiden Ukraina juga mengatakan Putin telah diberi tahu tentang peningkatan signifikan sentimen protes di berbagai wilayah Rusia.

"Tekanan yang sepenuhnya beralasan terhadap Rusia terkait perang ini akan terus berlanjut dan meningkat – dan bukan hanya tekanan dari kami. Jadi pada bulan September, Putin akan menghadapi indikator yang jauh lebih buruk. Sayangnya, terhadap semua usulan perdamaian publik dan non-publik yang telah kami ajukan, satu-satunya tanggapan hanyalah kata-kata tentang melanjutkan perangnya," kata Zelenskyy.

Rekomendasi Untuk Anda

"Situasi internal di Rusia seharusnya meyakinkannya sebaliknya, bahwa perdamaian dibutuhkan. Ukraina mengusulkan untuk menegosiasikan perdamaian yang bermartabat. Jelas, tren tidak akan berubah, dan seiring waktu ini mungkin berarti bahwa kesepakatan harus dicapai dengan pihak lain dari Rusia – seseorang yang tidak akan menutup diri dari kenyataan," tambahnya.

Sebelumnya pada 4 Juni, Zelenskyy mengusulkan dalam sebuah surat terbuka agar Putin menetapkan tanggal dan bertemu untuk mengakhiri perang. 

Zelenskyy juga menyerukan agar Eropa dan Amerika Serikat terlibat dalam negosiasi Rusia-Ukraina.

Putin kemudian mengatakan dia telah membaca surat terbuka Zelenskyy tetapi tidak melihat gunanya mengadakan pertemuan, lapor Pravda.

Baca juga: Putin Klaim Rusia Terus Maju di Medan Perang, Siapkan Transformasi di Wilayah Pendudukan

Dukungan Publik Rusia untuk Putin Terus Menurun Sejak 2022

Menurut hasil survei terbaru dari Public Opinion Foundation (FOM), sebuah lembaga survei yang berafiliasi dengan Kremlin, tingkat persetujuan masyarakat Rusia terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin turun menjadi 73 persen.

Angka ini menjadi yang terendah yang pernah dicatat FOM sejak Februari 2022, atau sejak awal perang Rusia-Ukraina.

Survei yang dilakukan pada 24–26 April menunjukkan, 73 persen responden menilai Putin menjalankan tugasnya dengan baik. Sementara itu, 13 persen responden menilai kinerjanya buruk dan 14 persen lainnya belum menentukan pendapat.

Jika dibandingkan dengan survei pekan sebelumnya, dukungan terhadap Putin mengalami penurunan. Saat itu, sebanyak 76 persen responden menyatakan puas dengan kinerjanya, sementara 74 persen mengaku masih mempercayainya.

Data tersebut juga menunjukkan adanya peningkatan jumlah warga yang tidak puas terhadap Putin. Dalam kurun waktu sekitar satu minggu, persentase responden yang menilai kinerja Putin buruk naik dari 11 persen menjadi 13 persen. Pada saat yang sama, jumlah responden yang menyatakan tidak mempercayai Putin juga meningkat dari 14 persen menjadi 17 persen.

Media independen Rusia, Agentstvo, mencatat tingkat persetujuan sebesar 73 persen merupakan salah satu yang terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelumnya, angka yang lebih rendah hanya tercatat pada akhir Februari 2022, ketika tingkat dukungan terhadap Putin berada di angka 71 persen.

Penurunan popularitas Putin juga terlihat dalam survei lembaga lain. Pada 30 April, lembaga independen Levada Center melaporkan tingkat persetujuan terhadap Putin turun ke bawah 80 persen untuk pertama kalinya sejak mobilisasi militer diumumkan pada akhir 2022.

Sementara itu, lembaga survei milik negara Rusia, VTsIOM, juga mencatat tren penurunan dukungan terhadap Putin selama tujuh minggu berturut-turut.

Berdasarkan data terbaru, sekitar 24,1 persen responden mengaku tidak mempercayai Putin, sedangkan 23,3 persen menyatakan tidak puas terhadap kinerjanya sebagai presiden, menurut laporan Novaya Gazeta Eropa.

Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia-Ukraina yang pecah pada 24 Februari 2022 merupakan puncak dari ketegangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun antara kedua negara.

Setelah merdeka dari Uni Soviet pada 1991, Ukraina semakin mempererat hubungan dengan negara-negara Barat dan menyampaikan keinginannya untuk menjadi anggota NATO. Langkah tersebut dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap kepentingan strategis dan keamanan nasionalnya.

Ketegangan meningkat pada 2014 setelah terjadi pergantian pemerintahan di Ukraina. Pada tahun yang sama, Rusia menguasai Semenanjung Krimea, sementara konflik bersenjata mulai berkecamuk di wilayah Donetsk dan Luhansk di bagian timur Ukraina.

Sejumlah upaya diplomatik dan perjanjian damai sempat dilakukan untuk meredakan konflik, namun tidak berhasil menyelesaikan perselisihan yang terus berlanjut.

Pada Februari 2022, Rusia melancarkan operasi militer besar-besaran ke wilayah Ukraina. Moskow menyatakan operasi tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia dan mencegah perluasan NATO ke dekat perbatasannya. Sebaliknya, Ukraina dan negara-negara Barat menilai tindakan itu sebagai invasi terhadap negara yang berdaulat.

Sejak perang dimulai, Ukraina memperoleh dukungan militer, ekonomi, dan politik dari Amerika Serikat serta sejumlah negara Eropa. Sementara itu, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang menyasar sektor keuangan, perdagangan, energi, dan perekonomiannya.

Konflik ini tidak hanya berdampak pada Rusia dan Ukraina, tetapi juga memengaruhi kondisi global, termasuk stabilitas ekonomi, ketahanan pangan, serta pasokan energi dunia.

Hingga kini, pertempuran masih berlangsung meskipun berbagai upaya negosiasi terus dilakukan. Namun, proses perdamaian menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Dalam berbagai perundingan, Rusia menuntut agar Ukraina tidak bergabung dengan NATO, mengakui Krimea dan sejumlah wilayah yang diklaim Moskow sebagai bagian dari Rusia, membatasi kekuatan militernya, serta memberikan perlindungan yang lebih luas bagi masyarakat berbahasa Rusia.

Di sisi lain, Ukraina tetap menolak menyerahkan wilayahnya dan menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kedaulatan, kemerdekaan, serta keutuhan wilayah negara.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas