Duta Besar AS Sarankan Anggota Hizbullah dan Hamas Dideportasi ke Iran
Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee mengusulkan agar anggota Hizbullah dan Hamas dideportasi ke Iran sebagai cara mengakhiri pengaruh proksi
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Bobby Wiratama
Ringkasan Berita:
- Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee mengusulkan agar anggota Hizbullah dan Hamas dideportasi ke Iran sebagai cara mengakhiri pengaruh proksi Teheran di Lebanon dan Israel.
- Usulan tersebut muncul di tengah proses kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang juga mencakup penghentian konflik di Lebanon.
- Simak kembali sejarah konflik Israel-Lebanon, perkembangan Hizbullah, serta keterlibatan kelompok tersebut dalam perang Iran yang pecah pada Februari 2026.
TRIBUNNEWS.COM - Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, menyarankan agar setiap anggota Hizbullah dan Hamas dideportasi ke Iran.
Ia berpendapat bahwa langkah tersebut akan membebaskan Lebanon dan Israel dari kelompok proksi Iran.
Huckabee mengatakan dalam unggahannya di X bahwa Iran menuntut agar Israel berhenti mempertahankan perbatasannya dari Hizbullah, sementara rencana perdamaian Gaza bergantung pada pelucutan senjata Hamas.
“Setiap anggota Hizbullah & Hamas DIDEPORTASI ke ‘Kantor Induk’ di Iran,” tulis Huckabee di X, Rabu (17/6/2026).
“Hasilnya? Lebanon & Israel bebas dari proksi Iran. Beri kesempatan pada PERDAMAIAN!”
Pernyataan Huckabee dilontarkan di tengah proses kesepakatan perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat.
Dilaporkan sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan pada Minggu (14/6/2026) bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan perdamaian yang mencakup penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon.
Mengutip CBS News, Sharif mengatakan kesepakatan itu akan ditandatangani dalam upacara resmi pada 19 Juni di Swiss.
Presiden AS Donald Trump kemudian menulis di media sosial bahwa ia mengakhiri blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz.
Baca juga: Hari ke-110 Perang Iran: Teheran Ancam Respons Keras Jika Israel Terus Serang Lebanon
Wakil Menteri Luar Negeri Iran juga mengonfirmasi bahwa teks perjanjian telah diselesaikan dan akan ditandatangani pada Jumat, lapor media pemerintah Iran.
Namun, di tengah proses tersebut, Hizbullah Lebanon dan militer Israel masih saling melancarkan serangan.
Iran bersikeras bahwa perang di Lebanon merupakan bagian dari kesepakatan apa pun dengan Amerika Serikat.
Mengutip Al Jazeera, Rabu (17/6/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa kelanjutan serangan Israel atau berlanjutnya pendudukan mereka akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman (MoU) perdamaian.
Araghchi mengatakan bahwa bagi Iran, hal terpenting adalah segera menerapkan gencatan senjata secara permanen di seluruh wilayah tersebut.
Menurutnya, hal itu disebabkan oleh keterkaitan antara perang di Lebanon dan perang di Iran.