Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Generasi Platinum

5 Gangguan Pencernaan Anak Yang Sering Terjadi dan Pencegahannya

Sebaiknya waspadai gangguan pencernaan anak sejak dini. Meski tidak menimnulkan ancaman kesehatan, tapi gangguan ini membuat nutrisi susah menyerap.

5 Gangguan Pencernaan Anak Yang Sering Terjadi dan Pencegahannya
Shutterstock
Jika dibiarkan, gangguan pencernaan anak bisa berdampak pada proses pertumbuhan Si Kecil. 

TRIBUNNEWS.COM – Sistem pencernaan yang tidak sehat, membuat penyerapan nutrisi dalam tubuh berjalan tidak sempurna. Tentunya hal ini akan berdampak buruk pada proses pertumbuhan Si Kecil. Sebaiknya waspadai gangguan pencernaan anak sejak dini.

Anda bisa mencegah gangguan ini lewat tanda-tanda yang tidak biasa. Berikut beberapa gejala terjadi saat gangguan pencernaan anak menyerang.

Muntah-muntah

Jika Si Kecil mengalami muntah setiap jamnya, bisa jadi ia terkena infeksi virus, alergi, atau keracunan makanan. Muntah juga bisa merupakan gejala penyakit yang serius seperti usus buntu, diare, demam, atau gangguan pencernaan anak lainnya.

Jangan panik dahulu. Anda bisa mengetahui, apakah muntah tersebut termasuk ke dalam kategori berbahaya atau tidak melalui ciri-ciri yang ditunjukkan Si Kecil. Apabila ia masih mau makan dan minum, serta tidak demam tinggi kemungkinan muntah yang dialami tergolong normal.

Anda harus waspada kalau Si Kecil mulai lemas dan kehilangan nafsu makan. Kemudian, masalah yang lebih serius muncul jika terdapat darah atau cairan empedu (berwarna kehijauan) pada muntahannya. Segera bawa ia berobat ke dokter spesialis anak.

Sakit perut

Si Kecil mengeluh sakit pada perutnya? Bisa jadi sedang terjadi masalah pencernaannya, mulai dari konstipasi, diare, hingga radang usus buntu. Sakit perut biasa umumnya terjadi selama 3-5 hari, jika lebih dari itu Anda harus memeriksakan Si Kecil ke dokter.

Khawatir anak Anda mengalami penyakit kronis pada usus, yang membuatnya kesakitan dan rewel berlebihan. Perhatikan pula tinja yang keluar, apakah ada perbedaan seperti bercak darah atau lendir. Tentu Si Kecil membutuhkan penanganan medis.

Konstipasi

Konstipasi atau susah BAB (buang air besar) merupakan hal yang umum terjadi pada anak-anak. Si Kecil bisa mengalami sembelit akibat makanan yang ia konsumsi rendah serat, tidak mendapat asupan air yang cukup, aktivitas fisik kurang, atau akibat mengkonsumsi obat-obatan tertentu.

Gangguan pencernaan anak yang satu ini biasanya dibarengi dengan gejala sakit perut, kram pada perut, nyeri saat BAB, dan frekuensi BAB yang tidak teratur. Pengerasan tinja yang berlebihan pastinya dapat menyebabkan kesakitan yang hebat pada Si Kecil.

Utamakan memberinya sayuran atau buah yang tinggi serat, bila perlu ganti nasi menjadi roti gandum sebagai menu sarapan paginya. Ingatkan pula agar Si Kecil rajin minum air putih untuk mengurangi gejala dehidrasi.

5 Gangguan Pencernaan Anak Yang Sering Terjadi Pada Si Kecil

Sering buang gas

Elly Berger dari About Kids Health mengungkapkan, frekuensi kentut umumnya hanya 14-23 kali sehari. Bila lebih dari itu, bisa jadi ada yang tidak normal pada tubuh anak. Entah itu masuk angin atau ada pergerakan usus yang tidak biasa.

Diare

Diare memang pernah dialami semua anak, tapi jangan sampai menyepelekannya ya Bun! Pasalnya, diare membuat badan Si Kecil lemas karena kekurangan cairan atau dehidrasi. Pada anak, penyebab diare yang paling utama adalah virus rotavirus, yaitu jenis virus yang menginfeksi usus.

Meski sebagian besar gangguan pencernaan tidak menimbulkan ancaman kesehatan, bukan berarti Bunda tidak memperhatikan asupan yang masuk ke dalam tubuh Si Kecil. Salah satu sebab anak-anak bisa terkena penyakit ini karena makanan yang mereka konsumsi tidak higienis.

Berdasarkan penjelasan dr. Muliaman Mansyur, selaku Head of Medical Marketing Kalbe Nutritionals terdapat sekitar 100 miliar mikrobiota penghuni usus yang berfungsi untuk mengatur metabolisme makanan, membantu penyerapan nutrisi di usus, serta mencegah bakteri jahat berkembang di usus. Kalau mikroorganisme ini tidak seimbang, tentunya dapat mengganggu pencernaan anak.

Anda perlu memberikan sinergi nutrisi dengan kandungan Probiotik dan Prebiotik, tidak hanya sebatas untuk pengobatan atau gangguan saluran cerna seperti diare dan sembelit, tapi dapat pula diberikan sehari-hari agar fungsi penyerapan makanan oleh usus menjadi optimal.

Ada 2 jenis Probiotik yang dikenal dan sudah digunakan secara luas, yaitu laktobasilus dan bifidobacterium. Bifidobacterium secara alami dominan di usus bayi dan anak.

Kombinasi ketiga Probiotik - bifidobacterium breve, bifidobacterium longum, dan bifidobacterium infantis yang merupakan Probiotik Triple Bifidus akan bersinergi optimal dengan Prebiotik, salah satunya adalah jenis GOS  (galactooligosacharide).

5 Gangguan Pencernaan Anak Yang Sering Terjadi dan Cara Mengatasinya

Susu pertumbuhan terbaik untuk Si Kecil ini merupakan solusi gangguan pencernaan anak karena mengandung sinergi Probiotik unggulan (Triple Bifidus) dan Prebiotik (GOS) yang dapat mencegah masalah pencernaan.

Dengan memberikan susu Morinaga Platinum MoriCare Zigma∑, Si Kecil terhindar dari risiko gangguan saluran cerna seperti diare dan BAB yang keras, infeksi, muntah, kembung sehingga semua nutrisi bisa terserap dengan optimal.

Pastikan orangtua juga menjaga kebersihan makanan dan minuman untuk mendukung kesehatan anak dan tumbuh kembang Si Kecil.

Penulis: Dana Delani

Ikuti kami di
Add Friend
  Loading comments...

Berita Terkait :#Generasi Platinum

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas