Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Ganasnya Difteri Sepanjang 2017, Kasusnya Terbesar di Dunia

Penyebaran wabah difteri sudah sedemikian meluas secara cepat di Indonesia.Jumlahnya terbesar di dunia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Fitri Wulandari
zoom-in Ganasnya Difteri Sepanjang 2017, Kasusnya Terbesar di Dunia
WARTA KOTA/WARTA KOTA/Nur Ichsan
Mengantisipasi merebaknya penyebaran penyakit difteri, yang telah banyak meminta korban jiwa seperti yang terjadi di Surabaya dan Tangerang, Puskesmas Kecamatan Tambora bersama kader posyandu Kelurahan Duri Selatan, menggelar imunisasi difteri masal di wilayah itu, Rabu (13/12/2017). WARTA KOTA/Nur Ichsan 

Hal tersebut disampaikan oleh Humas kampus yang terletak di kawasan Ciputat, Tangerang itu.

Aufatul disebut sempat mendapatkan perawatan di RSDP, kota Serang, namun pada akhirnya nyawanya tidak tertolong.

Waspadai Difteri Menyebar Melalui Udara

Difteri mulai mewabah di Bali.
Difteri mulai mewabah di Bali. (Tribun Bali/Dwi S)

Penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphtheriae itu menyebar melalui udara.

Bakteri tersebut tergolong berbahaya karena bisa menyerang saluran nafas sebelah atas, gejalanya pun meliputi demam tinggi, sakit tenggorokan, susah menelan, serta kesulitan bernafas.

Cara penularannya, anda harus mewaspadai percikan ludah dari batuk si penderita dan benda ataupun makanan yang telah terkontaminasi bakteri, karena saat bakteri itu masuk ke dalam tubuh maka toksin atau racun pun dilepas dan akan menyebar melalui darah.

Jika dibiarkan, maka racun ini akan menyebabkan kerusakan jaringan pada seluruh tubuh, terutama organ vital seperti jantung dan syaraf.

Rekomendasi Untuk Anda

Bahkan dalam beberapa kasus, bakteri ini bisa menyebabkan kematian.

Penyebab Difteri

Meningkatnya penyebaran penyakit menular itu juga disebabkan faktor non-medis, yakni berasal dari kebiasaan masyarakat itu sendiri.

Saat ini masih banyak orangtua yang tidak tanggap dan enggan memberikan imunisasi DPT terhadap anak mereka, hanya karena takut pada efrk yang ditimbulkan, yakni suhu badan anak tersebut akan panas.

Selain itu, padatnya lingkungan tempat tinggal pun juga menjadi salah satu penyebab cepatmya pola penularan difteri.

Kemudian efek 'tidak percaya' terhadap vaksin, lantaran sebelumnya memang telah beredar pemberitaan adanya vaksin palsu beberapa waktu yang lalu.

Hal itu juga menjadi penyebab masyarakat memiliki pandangan yang berbeda, ketidakpercayaan terkait fungsi vaksin yang dimasukkan ke dalam tubuh anak mereka.

Walaupun kasus vaksin palsu sudah ditangani oleh Kementerian Kesehatan RI melalui cara vaksinasi ulang.

Halaman 3/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas