Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Orang Dewasa Diimbau Jangan Pakai Sabun Bayi, Ini Alasannya

Tak sedikit orang yang memilih menggunakan sabun bayi, alih-alih sabun yang diperuntukan bagi orang dewasa.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Hasanudin Aco

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tak sedikit orang yang memilih menggunakan sabun bayi, alih-alih sabun yang diperuntukan bagi orang dewasa.

Alasannya beragam.

Salah satunya adalah karena mereka mengalami masalah kulit tertentu, sehingga memilih menggunakan sabun bayi yang dianggap lebih mild atau lembut.

Padahal, hal tersebut sebaiknya dihindari.

Demikian diungkapkan Dokter Srie Prihianti, Sp.KK, PhD.

Menurut Srie, sabun bayi dibuat khusus untuk digunakan oleh bayi.

Baca: Seorang Warga Bandung Buat Sabun dari Minyak Jelantah, Pakar Lingkungan ITB Jawab soal Segi Keamanan

Sebab bayi memiliki kondisi kulit yang berbeda, misalnya kulit yang lebih tipis, dan ikatan sel yang longgar.

Rekomendasi Untuk Anda

"Masyarakat kan tahunya produk bayi itu mild, sehingga kalau punya kelainan kulit apa pun dia tidak ingin memperburuknya jadi mandi dengan sabun bayi."

Srie menyampaikan ini saat peluncuran produk perawatan kulit bayi sensitif, Cussons Baby SensiCare di JW Mariott Hotel, Kuningan, Jakarta, Senin (5/11/2018) siang.

Srie menambahkan, kulit orang dewasa memiliki struktur yang sangat berbeda dengan bayi.

Misalnya, kelenjar minyak yang sudah berfungsi dengan baik, dan banyaknya aktivitas yang dilakukan oleh orang dewasa.

Dengan sejumlah perbedaan yang ada, tujuan pembersihan kulit dengan mandi menjadi tidak tercapai.

Sebab, sabun bayi dianggap tidak memiliki daya bersih yang cukup untuk orang dewasa. Bahkan, kata Srie, produk bayi dan anak pun berbeda. Itulah mengapa produk dua kategori itu dibedakan.

"Kenapa ada produk baru, karena anaknya sudah berubah, sudah aktif. Pergi ke sekolah, kena kotoran, polusi, dan lainnya."

"Jadi produk bayi sudah tidak memadai," tutur Ketua Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia itu.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas