Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Dukung Penyiapan Generasi Emas Indonesia 2045 melalui Program Pengentasan Stunting

Pemicu stunting bisa juga dipicu rendahnya akses pelayanan kesehatan, kesehatan lingkungan dan ketersediaan pangan.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Dukung Penyiapan Generasi Emas Indonesia 2045 melalui Program Pengentasan Stunting
Shutterstock
Ilustrasi pertumbuhan tinggi anak 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Stunting atau pendek masih menjadi masalah gizi utama bagi balita di Indonesia, yang harus segera dientaskan untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia 2045.

Merujuk hasil analisis data Indonesian Family Life Survey (IFLS), kemungkinan anak dari keluarga perokok menjadi stunting lebih besar dari anak keluarga tanpa perokok.

Berdasarkan studi dari Pusat Kajian Jaminan Sosial (PKJS) Universitas Indonesia, anak-anak dari keluarga perokok kronis memiliki kecenderungan untuk tumbuh lebih pendek dan lebih ringan dibandingkan dengan anak dari keluarga tanpa perokok .

Umi Fahmida, peneliti utama South East Asia Ministers of Education Organization (SEAMEO) RECFON (Regional Center for Food and Nutrition) mengatakan, akar persoalan stunting bisa dilihat dari 3 hal.

Pertama, yang langsung itu karena asupan gizi anak jelek atau kurang.

Kedua, dipengaruhi oleh seringnya anak sakit sehingga penyerapan zat gizi tidak optimal.

Baca: Alumni Darunnajah Di Mesir Pupuk Kebersamaan Lewat Program Pendekar Ramadan

"Ketiga, adalah pengaruh pola pengasuhan keluarga. Keluarga ini bukan cuma ibu. Tetapi juga bapaknya“, ujar Umi.

Rekomendasi Untuk Anda

Dikatakannya, faktor keluarga berpengaruh cukup besar namun ada faktor-faktor lain di tingkat komunitas antara lain seperti akses pelayanan kesehatan , kesehatan lingkungan dan ketersediaan pangan.

SEAMEO RECFON merupakan organisasi bidang pangan dan gizi kerjasama menteri-menteri pendidikan se-Asia Tenggara dengan pengampuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI terus berkontribusi dalam program-program pengentasan stunting.

Salah satunya, SEAMEO RECFON bekerjasama dengan The Union-Bloomberg dalam melakukan studi untuk menilai potensi peningkatan pajak dan cukai rokok dan pemanfaatannya untuk program gizi terkait stunting di Indonesia.

Umi Fahmida menambahkan, belanja rokok di Indonesia menjadi pengeluaran terbesar ketiga dalam rumah tangga (12,4 % dari pengeluaran rumah tangga).

“Ini setara dengan dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli sayur-mayur (8.1%) serta telur dan susu (4.3%)”, ujar Umi.

Baca: Ada Peluang Untuk Mempercepat Pencapaian Target Penurunan Prevalens Stunting Pada Anak Indonesia

“Bayangkan, kalau yang 12 % itu disisihkan, akan sangat berkontribusi untuk keragaman pangan yang bermanfaat bagi peningkatan gizi anak. Uang itu bisa dibelikan sesuatu yang berguna, mungkin dibelikan telur, ikan sayur dan buah,” tegasnya.

Sementara menurut Grace Wangge, manajer riset dan konsultasi SEAMEO RECFON, dalam jangka panjang, stunting tidak hanya mengakibatkan masalah pada masa depan balita stunting itu sendiri.

“Stunting akan menjadi masalah trans-generasi, dimana ibu yang pendek, cenderung akan mempunyai juga anak yang stunting”, ujar peneliti yang juga dokter lulusan UI ini.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas