Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Studi Terbaru: Herd Immunity Mungkin Tak Akan Bisa Tercapai, Antibodi Hilang dalam Beberapa Minggu

herd immunity mungkin tidak akan bisa tercapai karena antibodi dalam beberapa pasien Covid-19 yang sudah sembuh hanya bertahan selama beberapa minggu

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Sri Juliati
zoom-in Studi Terbaru: Herd Immunity Mungkin Tak Akan Bisa Tercapai, Antibodi Hilang dalam Beberapa Minggu
Freepik
herd immunity mungkin tidak akan bisa tercapai karena antibodi dalam beberapa pasien Covid-19 yang sudah sembuh hanya bertahan selama beberapa minggu 

Eckerle mengepalai Centre Geneva for Emerging Viral Diseases, sementara Meyer adalah virolog di University of Geneva.

Mereka mengatakan: "Mengingat temuan ini, setiap pendekatan yang diusulkan untuk mencapai kekebalan komunitas melalui infeksi alami tidak hanya sangat tidak etis, tetapi juga tidak dapat diraih."

Seperti yang ditemukan dalam studi antibodi di tempat lain di dunia, wilayah yang paling padat penduduknya di Spanyol (ibukota Madrid dan kota Barcelona) memiliki tingkat antibodi tertinggi.

Madrid memiliki 10 persen sedangkan Barcelona 7 persen.

Bukti yang memberatkan herd immunity menumpuk

Penelitian yang menguji lebih dari 61.000 orang di Spanyol itu adalah yang penelitian terbaru yang memberatkan gagasan berhasilnya herd immunity.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada bulan Mei lalu menunjukkan, hanya 7,3 persen orang di ibukota Swedia, Stockholm, yang mengembangkan antibodi virus corona.

Rekomendasi Untuk Anda

Padahal, pemerintah Swedia sudah mengadopsi strategi baru dan kontroversial untuk tidak memaksakan penguncian yang ketat.

Perdana Menteri Swedia Stefan Lofven pekan lalu memerintahkan penyelidikan penanganan virus di negaranya.

Ia mengatakan kepada wartawan, "kami memiliki ribuan orang meninggal dan sekarang pertanyaannya adalah bagaimana Swedia harus berubah."

Tidak seperti kebanyakan negara Eropa, Swedia tidak menerapkan langkah-langkah lockdown yang ketat dalam menanggapi pandemi.

Sebaliknya, sebagian besar bisnis dan perhotelan tetap terbuka dan siswa pun bersekolah.

Pada bulan Mei, ahli epidemiologi negara Swedia, Anders Tegnell, membenarkan tanggapan ini dengan mengatakan, negara-negara yang menerapkan penguncian ketat kemungkinan akan menderita gelombang kedua yang besar di akhir tahun, sedangkan Swedia akan lebih kecil.

Namun, berminggu-minggu kemudian, Swedia menjadi salah satu negara yang paling parah terkena dampaknya dalam hal kematian per kapita.

Hampir lima ribu orang meninggal, stimulasi antibodi yang cukup untuk mencegah gelombang kedua dinyatakan gagal.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas