Tribun Kesehatan

Ibu Tak Bisa Menyusui karena ASI Sulit Keluar, Berapa Hari Bayi Bisa Bertahan?

Jika satu sampai dua hari pertama ketika melahirkan ASI tidak keluar, berbahayakah? Apakah bayi bisa bertahan tanpa asupan makanan dari ASI?

Editor: Anita K Wardhani
zoom-in Ibu Tak Bisa Menyusui karena ASI Sulit Keluar, Berapa Hari Bayi Bisa Bertahan?
Shutterstock
Ilustrasi ibu menyusui. Jika satu sampai dua hari pertama ketika melahirkan ASI tidak keluar, berbahayakah? Apakah bayi bisa bertahan tanpa asupan makanan dari ASI? 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Ibu yang melahirkan sangat dianjurkan memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada bayinya.

Namun, kerap kali ada ibu yang mengalami kesulitan menyusuinya seperti ASI tidak keluar.

Merespons hal itu, Ketua Satuan Tugas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Naomi Esthernita F. Dewanto mengatakan, satu sampai dua hari pertama ketika melahirkan ASI tidak keluar merupakan kondisi yang wajar.

Baca juga: Keajaiban ASI, Punya Komponen Penting Tidak Ditemukan Pada Susu Formula

"Normalnya akan keluar 30-40 jam. Tapi kita masih nunggu sampai 72 jam. Kalau lewat 72 jam itu kita sebut delayed lactogenesis," ujar dia dalam webinar akhir pekan lalu.

Lambatnya ASI keluar bisa terjadi karena beragam faktor, seperti obesitas ataupun bayi lahir prematur.

Lebih jauh, jika ASI tidak kunjung keluar setelah lebih dari 72 jam, maka dipertimbangakn untuk memberikan suplementasi melalui konsultasi ke dokter.

"Supaya bayi tidak dehidrasi. Tapi tetap diatur asinya, tidak berarti asi tidak diberikan sama sekali. Kalau sudah mulai keluar, suplementasinya mulai dikurangi," ungkap dia.

Baca juga: Kisah 2 Wanita yang Membuat Perhiasan dari Air Susu Ibu, Para Pelanggan Sampai Meneteskan Air Mata

ASI tetaplah diberikan sampai 6 bulan dan diteruskan hingga dua tahun lebih.

Untuk itu agar merangsang ASI keluar, sang ibu tetaplah telaten menyusui bayinya agar hormon prolaktinnya meningkat.

"Tapi bayi tetap butuh asi. Karena itu, bayi tetap harus menyusu pada ibunya, walaupun hanya keluar sedikit.

Sudahkah ibu cukup menyusui? Ini tanda bayi dehidrasi
Sudahkah ibu cukup menyusui? Ini tanda bayi dehidrasi (iStockphoto)

Bayi tetap menyusui ke ibunya supaya hormon prolaktinnya meningkat, kalau enggak hormon turun karena tidak stimulasi.

Jadi tidak apa-apa terus saja disusui, sambil dipantau berat badannya," pesan Kepala Departemen Pediatri Universitas Tarumanegara ini.

Ditambahkan, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Piprim Yanuarso, Sp.A(K) di dua hari pertama kelahiran memang menjadi godaan besar untuk ibu yang ASI-nya belum keluar untuk memberikan susu formula.

Padahal, 24 jam pertama bahkan 2 hari pertama bayi bisa bertahan tanpa ASI.

"Kolestrum saja cukup, lemak coklat dalam tubuhnya. Lemak coklat itu nanti berubah jadi keton yang akan berubah jadi nutrisi buat otaknya. Jadi jangan khawatir, gara-gara orangtua bilang bayi lapar haus," ungkap dokter Pimprim.

"Itu adalah kuncinya kesabaran semua pihak di hari-hari pertama kehidupan bayi. Kalau sudah minum susu formula, bayinya kenyang, nyedotnya lemah. Kalau nyedotnya lemah, produksi ASI-mya makin kurang. Masalahnya akhirnya berputar di situ saja," sambung dia.

Jika bayi rewel di dua hari pertama karena tidak ada ASI digendong atau ditepok-tepok agar tenang.

"Hari ketiga keempat ASI keluar deras. Langsung. Supaya kualitas ASI-nya bagus, ya banyak minum ari putih, protein, dan sayur tentunya," ujar Piprim.

Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas