Tribun Kesehatan

Toksikolog Jelaskan Perbedaan Nikotin dengan TAR

Ahli Toksikologi dan Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR), Shoim Hidayat menjelaskan perbedaan nikotin dan TAR.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Whiesa Daniswara
zoom-in Toksikolog Jelaskan Perbedaan Nikotin dengan TAR
Pixabay
Ilustrasi rokok 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ahli Toksikologi dan Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR), Shoim Hidayat menjelaskan perbedaan nikotin dan TAR.

Dirinya mengatakan, nikotin adalah senyawa kimia organik yang dikategorikan sebagai alkaloid dan ditemukan pada tanaman tertentu, seperti kentang, terong, tomat, namun yang paling tinggi konsentrasinya terdapat pada tembakau.

Efek konsumsi dari nikotin dapat berupa adiksi atau ketergantungan.

"Ketagihan nikotin berkaitan dengan mental, efeknya menyenangkan seperti tidak stres, lega, dan lebih fokus. Hal ini ada kaitannya dengan pelepasan hormon dopamin dalam tubuh,” tutur Shoim melalui keterangan tertulis, Sabtu (3/12/2022).

Sementara itu, kata Shoim, TAR adalah partikel kimia yang dihasilkan dari rokok yang dibakar.

Baca juga: Komunitas Kretek: Ada Kepentingan Industri Farmasi Global di Balik Strategi Pengendalian Nikotin

Partikel ini terdiri dari ribuan senyawa kimia berbahaya yang bersifat karsinogenik atau dapat memicu kanker.

Jika dibandingkan dengan nikotin, kandungan TAR dalam rokok yang dibakar bersifat racun dan dapat mempengaruhi kinerja organ dalam tubuh, seperti paru-paru dan jantung.

Berdasarkan data National Cancer Institute Amerika Serikat, TAR yang merupakan hasil dari pembakaran rokok, mengandung berbagai senyawa karsinogenik yang dapat memicu kanker.

Dari sekitar 7.000 bahan kimia yang terkandung dalam asap rokok, 2.000 di antaranya terdapat pada TAR.

“Sebagai antisipasi, perokok aktif bisa mengurangi bahaya TAR dengan beralih ke produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik atau produk tembakau yang dipanaskan. Tidak ada proses pembakaran dan TAR pada produk tersebut karena hanya dipanaskan serta menghasilkan uap air (aerosol)," kata Shoim.

Baca juga: Akademisi: Nikotin Bukan Penyebab Gangguan Pertahanan Gusi Terhadap Bakteri

Shoim melanjutkan, menurut berbagai penelitian berbasis profil risiko, produk tembakau yang dipanaskan mampu meminimalisasi risiko kesehatan dibandingkan rokok berkat penerapan sistem pemanasan dalam penggunaannya.

Produk ini memiliki profil risiko 90 persen lebih rendah daripada rokok.

Dengan fakta tersebut, produk ini merupakan salah satu opsi bagi perokok dewasa yang ingin mengurangi bahaya rokok bagi kesehatan.

"Risiko kesehatan yang ditimbulkan lebih rendah karena efek toksiknya bergantung pada kadar bahan kimia," pungkas Shoim.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas