Atur Jarak Waktu Melahirkan, Manfaatnya Bisa Turunkan Stunting dan Risiko Kematian Ibu dan Bayi
Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.O.G (K) ajak masyarakat untuk mengatur jarak waktu melahirkan.
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Anita K Wardhani
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.O.G (K) ajak masyarakat untuk mengatur jarak waktu melahirkan.
Hal ini untuk bertujuan untuk menurunkan prevalensi stunting dan juga mengurangi risiko kematian ibu dan bayi.
Baca juga: Bantu Pengentasan Stunting, IPHI Dukung BKKBN Lewat Program Lumbung Pangan Nasional
Ajakan untuk mengatur jarak waktu melahirkan itu disampaikan Hasto Wardoyo dalam Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Sumatera Barat secara daring pada Selasa (10/04/2023).
“Jarak waktu kelahiran itu 24 bulan agar menyusuinya sempurna. Kalau di Al Quran itu 30 bulan tetapi WHO 36 bulan, saya kira 30 bulan sudah bagus," kata Hasto secara daring pada Selasa (10/04/2023).
Nyatanya, jarak waktu kelahiran dapat mengurangi risiko kematiAn ibu dan anak serta meningkatkan kesehatan ibu.
Baca juga: Percepat Penurunan Stunting dan Kemiskinan Ekstrem, Pemerintah Dorong Semangat Gotong Royong
Studi dari United States Agency for International Development (USAID) menyebut, jarak usia antara kakak dan adik yang ideal ialah 3-5 tahun.
Jarak ini akan lebih menguntungkan bagi keluarga dalam banyak hal, seperti kesehatan dan perencanaan ekonomi yang lebih baik.
Jarak kelahiran anak yang terlalu dekat juga sangat berisiko membuat anak menjadi kurang gizi dan stunting.
Sebagai informasi, angka stunting di Indonesia memang telah terjadi turun jadi 21,6 persen di 2022.
Namun, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menargetkan angka stunting turun menjadi 14 persen pada 2024 mendatang.