Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Terapi SABA Tunggal Tidak Lagi Direkomendasikan untuk Pengobatan Asma, Ini Alasannya

Sejumlah studi menunjukkan bahwa penggunaan SABA jangka panjang dapat meningkatkan risiko eksaserbasi hingga kematian

Tayang:
Diperbarui:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Choirul Arifin
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Terapi SABA Tunggal Tidak Lagi Direkomendasikan untuk Pengobatan Asma, Ini Alasannya
DOK. Humas Kemenkes
PENANGANAN PASIEN ASMA - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi. Kementerian Kesehatan RI bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan AstraZeneca memberikan edukasi tata laksana asma pada tenaga kesehatan, pasien dan masyarakat. 

“Melalui edukasi yang berkelanjutan kepada tenaga medis, kami berharap pengenalan gejala, diagnosis dini, hingga pemilihan terapi, khususnya terapi yang tepat dapat dilakukan secara lebih akurat,” kata dia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di 2019 menyatakan, asma dialami oleh sekitar 262 juta orang di seluruh dunia dan menjadi penyebab sekitar 455 ribu kematian.

Baca juga: Cegah Serangan Akut, Ini Terapi yang Dianjurkan untuk Pasien Asma

Di Indonesia, prevalensi asma yang didiagnosis oleh dokter tercatat sebesar 1,6 persen, dengan hampir 58,3 persen pasien mengalami kekambuhan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.

Jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini, asma bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih berat dan berdampak besar bahkan kematian. (tribunnews/fin)

 

Rekomendasi Untuk Anda
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas