Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Penyebab Seseorang Sering Mimpi Buruk, Ini Kata Ahli Neurologi

Saat tidur, terjadi perubahan yang fluktuatif dan dinamis pada sistem saraf, jantung, paru, dan juga metabolik tubuh

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Penyebab Seseorang Sering Mimpi Buruk, Ini Kata Ahli Neurologi
dialogos.com.cy
ILUSTRASI - Foto file, ilustrasi seseorang tidur. Berdasarkan hasil penelitian, ia mengatakan  ada beberapa area otak yang berperan penting dalam pembentukan mimpi. 

Salah satunya adalah nukleus laterodorsal (LTD nuclei) di medulla oblongata, salah satu fungsinya adalah memunculkan komponen visual dalam mimpi dan halusinasi.

“Inti dari LTD ini mendapatkan masukan dari amigdala (pusat emosi) dan hipokampus (pusat memori), yang menjelaskan mengapa mimpi terasa emosional dan membekas dalam ingatan,” jelasnya. 

Selain itu, penelitian dari University of Wisconsin-Madison mengidentifikasi area penting lain, yakni posterior cortical hot zone, yang menunjukkan aktivitas listrik tinggi ketika seseorang sedang bermimpi.

Area ini diibaratkan seperti layar proyeksi film otak, yang menayangkan gabungan dari emosi, memori, dan keinginan manusia.

Tak hanya itu, prefrontal cortex, bagian otak yang berfungsi dalam berpikir logis, juga disebut turut aktif selama tidur.

“Semakin aktif bagian ini, semakin besar kemungkinan bisa mengingat isi mimpi,” terang dr Yeni.

Karena sebagian besar mimpi terlupakan, otak jadi tidak terlalu sibuk harus menyimpan semua pengalaman aneh dari mimpi itu.

Rekomendasi Untuk Anda

"Jadi semua bisa belajar dan berkembang tanpa terlalu terbebani," ungkap dia.

Lebih mendalam, ada empat jenis mimpi:

1. Mimpi standar, terjadi sekitar 4–6 kali semalam, sebagian besar di fase REM. Umumnya visual, dipengaruhi oleh aktivitas harian atau stres, biasanya teringat dengan jelas ketika bangun.

2. Nightmares (mimpi buruk), penuh rasa takut atau panik, sering kali terbangun dalam kondisi cemas. Dipicu oleh stres, kecemasan, gangguan tidur, atau kondisi kesehatan mental lainnya.

3. Night terrors. Berlainan dengan mimpi, ini gangguan tidur non‑REM, biasanya dialami anak-anak. Tiba-tiba bangun, teriak, bingung, tapi biasanya tidak ingat mimpi.

4. Lucid dream. Si pemimpi sadar sedang bermimpi; kadang bisa mengontrol jalan mimpi. Sering terjadi di fase REM, dan bisa digunakan untuk terapi, misalnya untuk atasi mimpi buruk.

 

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas