Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Waspadai Sindrom Nefrotik pada Anak, Begini Gejala Tersembunyi yang Sering Terlewat

Sindrom nefrotik pada anak umumnya ditandai dengan pembengkakan, terutama di area wajah atau perut saat pagi hari. 

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Waspadai Sindrom Nefrotik pada Anak, Begini Gejala Tersembunyi yang Sering Terlewat
Pexels/Pavel Danilyuk
ILUSTRASI SINDROM NEFROTIK - Ilustrasi pemeriksaan anak di rumah sakit oleh dokter yang diunduh dari Pexels pada Kamis (17/7/2025). sindrom nefrotik, penyakit yang menyerang ginjal dan bisa berkembang menjadi kondisi kronis jika tak segera ditangani. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Apakah anak Anda tampak sehat namun sering buang air kecil berbusa? Mungkin itu bukan hal biasa. 

Gejala tersebut bisa menjadi pertanda awal sindrom nefrotik, penyakit yang menyerang ginjal dan bisa berkembang menjadi kondisi kronis jika tak segera ditangani.

Sindrom nefrotik pada anak umumnya ditandai dengan pembengkakan, terutama di area wajah atau perut saat pagi hari. 

Tapi tak semua kasus menampakkan gejala yang jelas. Justru, kasus laten atau tersembunyi lebih sulit dikenali dan lebih berbahaya.

Hal ini disampaikan oleh Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nefrologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr Ahmedz Widiasta,Sp.A, Subsp.Nefro(K),M.Kes. 

“Biasanya, protein lolos melalui urin. Tetapi tidak ketahuan karena tidak ada bengkak. Nah, itu bisa kita detect dari ada atau tidaknya busa di dalam urin,” ungkapnya dalam diskusi media virtual, Kamis (17/7/2025). 

Sindrom nefrotik terjadi karena kerusakan pada glomerulus, bagian dari nefron di ginjal, sehingga protein yang seharusnya tetap dalam darah malah ikut terbuang bersama urin. 

Rekomendasi Untuk Anda

Ketika protein dalam darah berkurang, tekanan onkotik turun, menyebabkan cairan tubuh masuk ke rongga-rongga lain. 

Ini bisa mengakibatkan pembengkakan, kesulitan bernapas, hingga syok.

Bahaya lainnya adalah kerusakan jangka panjang. 

Proteinuria yang berlangsung lebih dari tiga bulan bisa memicu fibrosis ginjal, merusak jaringan, dan akhirnya menimbulkan penyakit ginjal kronik tahap akhir.

Baca juga: Mudah Lelah, Kelopak Mata Turun? Waspada! Itu Gejala Miastenia Gravis, Penyakit Jenis Autoimun

Lebih dari 80 persen kasus sindrom nefrotik termasuk kategori idiopatik—artinya, penyebab pastinya belum diketahui. 

Namun para peneliti mengaitkan sindrom ini dengan gangguan sistem imun, melibatkan sel T dan B.

“Apakah itu masalah epigenetik? Nah, epigenetik itu penelitiannya sangat mahal dan masih sedikit. Ada yang mengatakan karena micro RNA 30, gangguan mitolasi DNA, dan micro RNA 433,” imbuhnya.

Penanganan sindrom nefrotik yang tepat sangat bergantung pada konsistensi terapi. 

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas