Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Bedakan Alergi dan Intoleransi Susu, Jangan Salah Menanganinya

Tubuh mengenali protein susu sebagai zat berbahaya, lalu mengeluarkan reaksi perlawanan.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Bedakan Alergi dan Intoleransi Susu, Jangan Salah Menanganinya
Generated by AI
ILUSTRASI SUSU - Susu menjadi sumber rasa tidak nyaman, perut kembung, mual, hingga ruam kulit setelah diminum.  

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –Bagi sebagian orang, segelas susu di pagi hari adalah simbol kasih sayang dan kesehatan

Namun bagi yang lain, susu justru menjadi sumber rasa tidak nyaman, perut kembung, mual, hingga ruam kulit setelah diminum. 

Banyak yang menyangka itu hanya masalah pencernaan ringan, padahal bisa jadi tubuh sedang memberi sinyal.

Ini bukan sekadar tidak cocok, tapi alergi atau intoleransi.

Baca juga: Puluhan Anak di Kadungora Jawa Barat Keracunan Susu MBG, Kepala BGN: Ini Hal yang Tidak Terduga

Masalahnya, dua istilah ini sering tertukar. Alergi susu dan intoleransi laktosa terdengar mirip, tapi keduanya punya mekanisme dan dampak yang sangat berbeda.

Dalam program Health Corner Sonora, dr. Santi, Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia, menjelaskan dengan tegas perbedaannya.

“Kalau alergi, itu reaksi sistem imun terhadap protein susu. Tapi kalau intoleransi, masalahnya ada di pencernaan karena tubuh tidak punya cukup enzim laktase untuk memecah gula susu, yaitu laktosa,” jelasnya pada kanal YouTube Sonora FM, Sabtu (4/01/2025). 

Rekomendasi Untuk Anda

Menurut dr. Santi, alergi susu lebih banyak terjadi pada anak-anak dan bisa menimbulkan gejala yang cukup serius. 

Tubuh mengenali protein susu sebagai zat berbahaya, lalu mengeluarkan reaksi perlawanan.

“Gejalanya bisa berupa ruam, gatal-gatal, muntah, bahkan sesak napas,” ujarnya.

Sementara intoleransi laktosa biasanya dialami orang dewasa. 

Ini bukan masalah kekebalan tubuh, tapi kemampuan mencerna. 

Ketika seseorang kekurangan enzim laktase, laktosa yang tidak tercerna akan difermentasi oleh bakteri di usus besar.

“Akibatnya timbul gejala seperti perut kembung, begah, atau diare beberapa jam setelah minum susu,” tutur dr. Santi.

Sayangnya, banyak masyarakat yang tidak menyadari perbedaan ini.

Halaman 1/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas