Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Tanda-tanda Tulang Rapuh pada Anak sekaligus Penyebabnya

Tulang anak bisa rapuh bahkan sejak usia sekolah. Banyak orang tua tidak mengetahui tanda-tandanya.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
zoom-in Tanda-tanda Tulang Rapuh pada Anak sekaligus Penyebabnya
Surya /HABIBUR ROHMAN
ILUSTRASI ANAK BERMAIN. 
Ringkasan Berita:
  • Tanda-tanda tulang rapuh pada anak jarang sekali disadari orang tua
  • Gangguan pada tulang anak kini makin sering ditemukan di praktik klinis
  • Tiga gangguan utama yang sering ditemukan pada anak, yaitu ricketsia (rakitis), osteoporosis anak, dan dysplasia skeletal

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak orangtua tidak sadar bahwa tulang anak bisa rapuh bahkan sejak usia sekolah. 

Tanda-tandanya kerap tidak disadari, mulai dari postur tubuh membungkuk hingga sering mengeluh nyeri kaki atau punggung.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Frieda Susanti, SpA, Subs Endo(K), PhD, mengungkapkan bahwa gangguan pada tulang anak kini makin sering ditemukan di praktik klinis, seiring perubahan pola makan dan gaya hidup yang makin pasif.

Baca juga: Bangun Kepadatan Tulang Anak: Penting Aktivitas Fisik hingga Asupan Kalsium dan Vitamin D

“Ini makin lama makin banyak,” ujarnya dalam media briefing virtual, Selasa (21/10/2025).

Menurutnya, tulang anak tidak hanya bertambah panjang, tapi juga tumbuh dalam hal kepadatan atau densitas. 

Rekomendasi Untuk Anda

Jika proses ini terganggu, tulang akan mudah retak atau patah, meski tanpa benturan berat.

Ada tiga gangguan utama yang sering ditemukan pada anak, yaitu ricketsia (rakitis), osteoporosis anak, dan dysplasia skeletal.

Ricketsia disebabkan oleh kekurangan vitamin D yang membuat tulang anak menjadi lunak dan mudah bengkok.

Osteoporosis anak membuat tulang menjadi rapuh atau brittle bones.

Sementara dysplasia skeletal terjadi akibat pertumbuhan tulang yang salah bentuk.

“Osteoporosis adalah tulang yang rapuh atau brittle bones, itu osteoporosis. Ini berbeda dengan Rickets, yang tulangnya jadi lembek-lembek,” jelas dr. Frieda.

Gejala awal bisa terlihat dari kebiasaan sederhana. 

Anak yang sering mengeluh pegal, cepat lelah, atau mengalami kelainan bentuk kaki seperti O atau X patut diperiksa lebih lanjut. 

Pemeriksaan rontgen tangan bisa membantu dokter menilai apakah pertumbuhan tulang masih berjalan normal.

Pada pemeriksaan tersebut, terlihat bagian growth plate atau lampeng pertumbuhan, yaitu area yang menandai apakah tulang masih bisa tumbuh. 

Bila growth plate sudah menutup, artinya pertumbuhan tinggi badan anak akan berhenti. 

Namun, kepadatan tulang tetap harus dijaga agar tidak rapuh.

“Anak akan masih bisa tumbuh kalau lampeng pertumbuhannya masih terbuka. Kalau sudah menutup, tidak akan nampak tinggi lagi,” ujarnya.

Selain faktor nutrisi, dr. Frieda menyoroti peran penyakit kronis pada anak yang kini makin banyak ditemukan. 

Anak dengan penyakit kronik, seperti kelainan ginjal atau penggunaan obat steroid jangka panjang, lebih berisiko mengalami tulang rapuh karena metabolisme kalsium terganggu.

Ia juga menekankan pentingnya aktivitas fisik untuk memperkuat tulang. 

Tekanan mekanis dari olahraga membantu merangsang pembentukan tulang baru dan menjaga keseimbangan antara proses pembentukan dan penguraian tulang.

Sayangnya, di era digital, anak-anak lebih banyak duduk diam di depan gawai. Akibatnya, tubuh jarang mendapatkan stimulasi alami untuk memperkuat tulang.

“Kalau anak jarang bergerak, asupan gizi kurang, dan jarang kena matahari, maka pembentukan tulangnya tidak optimal,” jelas dr. Frieda.

Selain itu, tanda tulang rapuh bisa disertai keterlambatan pubertas. 

Hal ini karena hormon estrogen dan testosteron yang berperan dalam pembentukan tulang juga berpengaruh terhadap kematangan seksual.

Para ahli menegaskan, bila tanda-tanda tersebut muncul, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan ke dokter anak atau spesialis endokrinologi anak

Pemeriksaan dini penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang, termasuk risiko patah tulang di usia muda.

Kesadaran masyarakat terhadap osteoporosis anak masih rendah, padahal tulang yang rapuh sejak kecil sulit dikoreksi di kemudian hari. 

Upaya pencegahan bisa dilakukan dengan pola makan seimbang, olahraga teratur, dan paparan sinar matahari yang cukup.

Sebagaimana disampaikan dr. Frieda, tulang bukan sekadar penopang tubuh, tapi fondasi kesehatan seumur hidup.

“Kalau tulangnya kuat, anak bisa beraktivitas optimal, tumbuh dengan baik, dan siap menghadapi masa depannya dengan tubuh yang sehat,” pungkasnya.

 

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas