Waspadai Aritmia, Gangguan Irama Jantung yang Bisa Picu Stroke
Pada penderita fibrilasi atrium, detak jantung menjadi tidak teratur dan bergetar sehingga aliran darah tidak lagi optimal.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Erik S
“Atrial fibrilasi bisa meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat. Dengan pemantauan tekanan darah secara rutin di rumah, masyarakat dapat mendeteksi perubahan tekanan atau irama jantung lebih awal sebelum komplikasi serius muncul,” jelasnya.
Kisah Nyata: Stroke di Usia 19 Tahun
Menyoroti pentingnya deteksi dini, Asep Aji Fatahilah, pendiri Komunitas KDS Penyintas Stroke berbagi pengalamannya terkena stroke di usia muda.
“Saya tidak pernah menyangka akan mengalami stroke di usia 19 tahun. Saat itu saya merasa sehat dan tidak punya riwayat tekanan darah tinggi,” ujarnya.
Setelah diperiksa, tekanan darahnya mencapai lebih dari 200 mmHg.
“Saya sempat menyepelekan hasil itu, dan tak lama kemudian, serangan stroke pertama terjadi. Itu jadi titik balik hidup saya,” katanya.
Kini, Asep rutin memeriksa tekanan darah di rumah dan menjaga pola hidup sehat mencegah kekambuhan.
Menutup sesi edukasi, dr. Zicky mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jantung.
“Kenali irama jantung Anda, pantau tekanan darah secara rutin, dan jangan abaikan gejalanya. Dengan deteksi dini dan kepatuhan pengobatan, risiko stroke akibat fibrilasi atrium bisa ditekan secara signifikan,” katanya.
Baca tanpa iklan