Mitos Keropeng Bikin Luka Cepat Sembuh, Ini Penjelasan Dokter yang Sebenarnya
Dokter bedah ungkap, kropeng bukan tanda luka sembuh — justru bisa hambat pemulihan dan sembunyikan infeksi di bawah permukaan.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Eko Sutriyanto
Selain perawatan dari luar, dr. Heri menekankan pentingnya asupan nutrisi dalam mempercepat penyembuhan luka.
Luka yang lambat menutup bisa jadi disebabkan karena tubuh kekurangan zat gizi penting terutama protein dan vitamin C yang berperan dalam pembentukan kolagen, bahan utama “lem alami” yang merekatkan jaringan kulit.
Menurutnya, banyak orang salah kaprah dengan berpikir bahwa “kropeng di luar” adalah satu-satunya penanda proses penyembuhan.
Padahal, yang lebih penting justru “kropeng di dalam” tubuh yaitu zat perekat alami hasil proses metabolisme yang sehat.
Pasien dengan kondisi malnutrisi atau kekurangan gizi sering mengalami luka yang tak kunjung sembuh karena tubuh tidak mampu membentuk kolagen dengan baik.
Dalam hal ini, makanan bergizi berperan besar dalam mendukung proses pemulihan alami tubuh.
Perawatan Luka yang Tepat: Bersih, Lembap, dan Bernutrisi
Dalam penanganan luka ringan, prinsip utama yang disarankan para ahli adalah menjaga kebersihan dan kelembapan.
Luka sebaiknya dibersihkan dengan cairan antiseptik ringan atau air mengalir, lalu ditutup dengan kasa steril agar tidak terpapar kuman dari luar.
Membiarkan luka terbuka dengan alasan “biar cepat kering” bisa menimbulkan kerak yang justru memperlambat regenerasi jaringan.
Sementara itu, penggunaan salep pelembap luka yang sesuai dapat membantu proses penutupan kulit dari tepi ke tengah tanpa menghambat pertumbuhan sel baru.
Lebih lanjut dr. Heri juga mengingatkan agar masyarakat tidak asal mengelupas kropeng yang terbentuk, terutama dengan tangan yang tidak bersih.
Kebiasaan ini bisa menimbulkan perdarahan ulang atau membuka jalan bagi infeksi baru.
“Luka yang dirawat dengan benar akan sembuh tanpa meninggalkan bekas yang signifikan. Tapi kalau prosesnya terhambat oleh kropeng atau infeksi, risiko jaringan parut (scar) jadi lebih besar,” kata dr. Heri.
Baca tanpa iklan