Terpaksa Minum Air Keruh, Pengungsi Banjir Aceh–Sumut–Sumbar Terancam Penyakit Berbahaya
Dicky menekankan bahwa kebutuhan air bersih minimal harus dipenuhi secepat mungkin untuk mencegah wabah. Sanitasi juga sangat penting serta mendesak..
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
willy Widianto
Ringkasan Berita:
- Warga diminta segera menuju pos kesehatan jika mengalami demam atau diare, serta melaporkan jika banyak pengungsi menunjukkan gejala yang sama.
- Jika kebutuhan air bersih dan sanitasi gagal dipenuhi dalam 1–3 hari, risiko KLB diare hampir pasti meningkat.
- Leptospirosis akibat air banjir tercemar urine hewan khususnya tikus harus diantisipasi sejak hari pertama
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah kepanikan warga menghadapi banjir besar yang merendam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, ancaman baru kini muncul dan tak kalah berbahaya: risiko penyakit mematikan akibat air tercemar. Ribuan warga yang mengungsi di tenda darurat harus menghadapi keterbatasan air bersih, sanitasi yang minim, hingga kondisi terpaksa menggunakan air keruh untuk kebutuhan harian.
Baca juga: Banjir Dahsyat Sumatera, Raja Juli Pastikan Cabut 20 Izin Perusahaan Penggarap Hutan
Situasi ini menciptakan kombinasi krisis kemanusiaan yang sangat serius, di mana bencana alam dapat dengan cepat berubah menjadi bencana kesehatan jika penanganan tidak dilakukan dalam waktu singkat.
Dokter, Epidemiolog, dan Peneliti Keamanan serta Ketahanan Kesehatan Global, Dicky Budiman, menegaskan bahwa banjir besar selalu menjadi pemicu utama ledakan penyakit berbasis air jika intervensi tidak dimulai dalam hitungan jam.
“Isu kesehatan yang paling kritis pada fase pertama bencana adalah ancaman penyakit menular melalui air. Risiko waterborne disease sangat tinggi,” ujarnya kepada Tribunnews, Kamis (4/12/2025).
Waterborne disease adalah penyakit yang muncul akibat konsumsi atau kontak dengan air yang telah terkontaminasi mikroorganisme patogen. Penularan dapat terjadi ketika seseorang minum, mandi, mencuci, atau mengonsumsi makanan yang terpapar air kotor tersebut.
Di media sosial, beredar laporan warga di beberapa wilayah banjir yang terpaksa menggunakan air genangan untuk kebutuhan makan, mandi, dan mencuci. Menurut Dicky, kondisi ini sangat mengancam kesehatan pengungsi.
“Kondisi pengungsian yang terendam, akses air bersih yang minim, dan masyarakat terpaksa meminum air keruh, menempatkan populasi pada risiko luar biasa tinggi terkena diare akut hingga diare berdarah,” jelasnya.
Patogen seperti E.coli, Shigella, hingga organisme mirip pemicu kolera sangat mudah berkembang di lingkungan banjir. Tanpa intervensi cepat, kasus dapat meningkat eksponensial hanya dalam 1–2 minggu pertama.
Penggunaan sumber air sementara tanpa proses penyaringan juga meningkatkan risiko penyakit hepatitis.
“Selain diare, potensi hepatitis A dan E juga meningkat,” ujar Dicky.
Infeksi hepatitis berbasis air biasanya berkembang ketika masyarakat mengonsumsi air atau makanan yang terpapar limbah.
Risiko lain yang harus diwaspadai adalah leptospirosis, penyakit yang disebabkan bakteri dari urin tikus yang bercampur dengan air banjir.
Baca juga: Dedi Mulyadi Belanja Logistik di Padang, Wapres Gibran Tinjau Korban Banjir Sumatera
Di Sumatera Barat, beberapa pengungsi bahkan mengeluhkan luka-luka kecil pada kaki akibat terlalu lama berada di air banjir, yang dapat mempercepat masuknya bakteri.
Baca tanpa iklan