Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Terpaksa Minum Air Keruh, Pengungsi Banjir Aceh–Sumut–Sumbar Terancam Penyakit Berbahaya

Dicky menekankan bahwa kebutuhan air bersih minimal harus dipenuhi secepat mungkin untuk mencegah wabah. Sanitasi juga sangat penting serta mendesak..

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: willy Widianto
zoom-in Terpaksa Minum Air Keruh, Pengungsi Banjir Aceh–Sumut–Sumbar Terancam Penyakit Berbahaya
HO/IST/HO/Humas BNPB
BANJIR DI SUMATERA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kerusakan jalan yang terjadi akibat banjir dan longsor di sejimlah wilayah di Sumatera Barat pekan lalu mencapai 555 titik. Sejumlah titik, termasuk di Jorong Tantaman, Nagari Tigo Koto Silungkang Kec. Palembayan Kab. Agam, akses masih terputus karena timbunan material lumpur, batu dan kayu pada Rabu (3/12/2025). (HO/Humas BNPB) 

Ringkasan Berita:
  • Warga diminta segera menuju pos kesehatan jika mengalami demam atau diare, serta melaporkan jika banyak pengungsi menunjukkan gejala yang sama.
  • Jika kebutuhan air bersih dan sanitasi gagal dipenuhi dalam 1–3 hari, risiko KLB diare hampir pasti meningkat. 
  • Leptospirosis akibat air banjir tercemar urine hewan khususnya tikus harus diantisipasi sejak hari pertama

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah kepanikan warga menghadapi banjir besar yang merendam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, ancaman baru kini muncul dan tak kalah berbahaya: risiko penyakit mematikan akibat air tercemar. Ribuan warga yang mengungsi di tenda darurat harus menghadapi keterbatasan air bersih, sanitasi yang minim, hingga kondisi terpaksa menggunakan air keruh untuk kebutuhan harian. 

Baca juga: Banjir Dahsyat Sumatera, Raja Juli Pastikan Cabut 20 Izin Perusahaan Penggarap Hutan

Situasi ini menciptakan kombinasi krisis kemanusiaan yang sangat serius, di mana bencana alam dapat dengan cepat berubah menjadi bencana kesehatan jika penanganan tidak dilakukan dalam waktu singkat.

Dokter, Epidemiolog, dan Peneliti Keamanan serta Ketahanan Kesehatan Global, Dicky Budiman, menegaskan bahwa banjir besar selalu menjadi pemicu utama ledakan penyakit berbasis air jika intervensi tidak dimulai dalam hitungan jam.

“Isu kesehatan yang paling kritis pada fase pertama bencana adalah ancaman penyakit menular melalui air. Risiko waterborne disease sangat tinggi,” ujarnya kepada Tribunnews, Kamis (4/12/2025).

Rekomendasi Untuk Anda

Waterborne disease adalah penyakit yang muncul akibat konsumsi atau kontak dengan air yang telah terkontaminasi mikroorganisme patogen. Penularan dapat terjadi ketika seseorang minum, mandi, mencuci, atau mengonsumsi makanan yang terpapar air kotor tersebut.

Di media sosial, beredar laporan warga di beberapa wilayah banjir yang terpaksa menggunakan air genangan untuk kebutuhan makan, mandi, dan mencuci. Menurut Dicky, kondisi ini sangat mengancam kesehatan pengungsi.

“Kondisi pengungsian yang terendam, akses air bersih yang minim, dan masyarakat terpaksa meminum air keruh, menempatkan populasi pada risiko luar biasa tinggi terkena diare akut hingga diare berdarah,” jelasnya.

Patogen seperti E.coli, Shigella, hingga organisme mirip pemicu kolera sangat mudah berkembang di lingkungan banjir. Tanpa intervensi cepat, kasus dapat meningkat eksponensial hanya dalam 1–2 minggu pertama.

Penggunaan sumber air sementara tanpa proses penyaringan juga meningkatkan risiko penyakit hepatitis.

“Selain diare, potensi hepatitis A dan E juga meningkat,” ujar Dicky.

Infeksi hepatitis berbasis air biasanya berkembang ketika masyarakat mengonsumsi air atau makanan yang terpapar limbah.

Risiko lain yang harus diwaspadai adalah leptospirosis, penyakit yang disebabkan bakteri dari urin tikus yang bercampur dengan air banjir.

Baca juga: Dedi Mulyadi Belanja Logistik di Padang, Wapres Gibran Tinjau Korban Banjir Sumatera

Di Sumatera Barat, beberapa pengungsi bahkan mengeluhkan luka-luka kecil pada kaki akibat terlalu lama berada di air banjir, yang dapat mempercepat masuknya bakteri.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas